Analisis Îmãn (13)

  Prosedur dan proses pembentukan iman Di masa Orba sering terdengar orang menggunakan istilah ‘salah prosedur’. Apa sebenarnya arti salah prosedur itu? Secara sederhana salah prosedur bisa digambarkan seperti menjalankan kereta api di atas jalan mobil. Akibatnya, jalan menjadi rusak, kereta menggelimpang, dan para penumpangnya mengalami nasib malang. Barangkali seperti itulah pula gambaran umat Islam … Continue reading

Analisis Îmãn (12)

Pergeseran iman Sejarah membuktikan bahwa tak lama setelah Nabi wafat, selagi  jasadnya belum dikubur, kaum Muhajirin dan Anshar nyaris  saling baku-hantam memperebutkan kekuasaan. Muhajirin merasa  layak berkuasa karena mereka pemeluk Islam pertama dan tentu  mempunyai  ‘hubungan  darah’  dengan Muhammad, karena mereka  adalah  orang-orang  Quraisy. Sebaliknya kaum Anshar pun merasa patut  memegang  tampuk kekuasaan, karena merekalah … Continue reading

Analisis Îmãn (11)

Dalam uraian terdahulu telah disebutkan bahwa teori para ahli sejarah secara keseluruhan mengarah pada kesaimpulan: Sejarah adalah kisah hidup  manusia dengan segala karakter dan sepak-terjangnya. Namun perlu ditambahkan bahwa yang mereka maksud adalah “kisah hidup manusia di masa lampau”, bukan manusia zaman sekarang apalagi zaman yang akan datang. Secara umum, orang memang bersepakat menganggap sejarah … Continue reading

Analisis Îmãn (10)

  Filsafat Macchiavelli Nikolo Macchiavelli (1469 – 1527) adalah penulis dan negarawan Italia dan tokoh Renaissance terkemuka. Ia dikenal dunia sebagai orang yang mengembangkan prinsip “tujuan menghalalkan cara”. Kepiawaiannya dalam ilmu sejarah dibuktikan melalui bukunya yang berisi kajian tentang sejarah Firenze, daerah tempat kelahirannya, yang ditulis secara ilmiah. Konon bukunya ini telah membuka cakrawala baru … Continue reading

Analisis Îmãn (9)

SEJARAH IMAN Pandangan Dunia tentang Sejarah “Sejarah Islam” telah banyak ditulis orang, tapi siapa yang pernah menengok “Sejarah Iman”? Orang mungkin akan mengatakan bahwa sejarah iman ini masuk bidang  kajian antropologi budaya, tapi apakah kajian mereka sudah memadai? Khususnya bagi para ahli sejarah Islam: sudahkah mereka menjadikan  Al-Qurãn sebagai salah satu rujukan kajian antropologi budaya? … Continue reading

Analisis Îmãn (8)

Definisi Iman Dalam uraian terdahulu disebutkan bahwa iman adalah hasil abstraksi (pemahaman) kalbu, yang membentuk pola ucapan dan mengarahkan segala tindakan. Dengan demikian, iman bisa disebut sebagai pandangan dan sikap hidup, atau bisa disingkat menjadi hidup saja, atau secara psikologi adalah kepribadian. Pandangan dan sikap hidup atau kepribadian, selanjutnya melahirkan gaya hidup atau akhlaq. Telah … Continue reading

Analisis Îmãn (7)

  Nilai iman Telah disebutkan bahwa etika dalam bahasa Arab disebut qawã’idul-akhlãq (kaidah-kaidah akhlak). Berdasar hadits riwayat Muslim yang beresumber dari Aisyah, yang menegaskan bahwa nabi Muhammad berakhlak al-Qur’an, dapat kita simpulkan bahwa al-Qur’an adalah salah satu sumber etika. Dengan kata lain, al-Qur’an adalah qawã’idul-akhlãq minallahi (kaidah-kaidah akhlak dari Allah). Sedangkan selain al-Qur’an adalah qawã’idul-akhlãq … Continue reading

Analisis Îmãn (6)

  Ruang-Lingkup Iman Etika apa pun yang digunakan manusia dalam hidupnya, pasti akan mempengaruhi tiga segi kepribadiannya seperti yang disebut dalam uraian terdahulu, yaitu segi kejiwaan (qalbiyah) segi kebahasaan (lisaniyah) dan segi perilaku (fi’liyah). Ketiga segi inilah yang dimaksud ruang-lingkup, atau cakupan, atau wilayah, atau wawasan iman. Dari ketika segi tersebuit, segi kejiwaan menempati posisi … Continue reading

Analisis Îmãn (5)

Seperti Komputer Ibarat komputer, otak membutuhkan dua jenis ‘makanan’ untuk bisa hidup. Makanan komputer yang pertama adalah listrik, yang kedua adalah sistem operasi. Dengan hanya diberi aliran tenaga listrik, komputer hidup. Tapi belum bisa bekerja. Karena baru bisa menarik input dan menghasilkan output yang amat sederhana. Ia baru bisa bekerja setelah diberi sistem operasi. Sistem … Continue reading

Analisis Îmãn (4)

Pengertian kalbu Samakah pengertian kalbu (qalbun, al-qalbu) dengan “hati” dalam bahasa Indonesia? Bila bicara tentang hati, orang Indonesia pada umumnya menyebutkan sesuatu yang menjadi tempat bersarangnya berbagai perasaan, dan mereka biasa mengisyaratkan tangan ke dada, seolah-olah hati (perasaan) itu terletak di dalam dada. Sedangkan bila berbicara tentang akal atau pikiran, umumnya orang menunjuk kepala. Menurut … Continue reading