Dakwah Dengan ‘Pendekatan’ Kebahasaan(Linguistical Approach)
Dakwah pada hakikatnya adalah proses pepmbelajaran Al-Quran. Dengan kata lain, dakwah adalah proses memasayarakatkan Al-Quran dan mengqurakan masyarakat. Ini sebenarnya merupakan konsep ‘sederhana’ dengan teknik yang sederhana. Namun – sayangnya! – konsep ini agaknya tidak terlintas dalam pemikiran pihak pendakwah sendiri.
Sangat disayangkan bahwa konsep dakwah yang terlintas – bahkan tertanam – dalam pikiran para pendakwah masa kini hanyalah konsep dakwah yang pragmatis memenuhi kebutuhan situasional dan kondisional (profesi) mereka; sehingga dakwah ‘dalalam rangka menyampaikan Al-Quran’ menjadi tidak atau kurang terpikir oleh mereka.
Dakwah pragmatis
Selain sutuasional (keadaan berkenaan dengan waktu) dan kondisional (keadaan berkenaan dengan tempat), dakwah yang dilakukan di seluruh dunia sekarang juga lebih bersifat ritual (upacara), dengan tidak mempertimbangkan kepentingan jangka panjang dakwah dan pendidikan umat.
Secara kurikulum, dakwah – baik di lembaga tradisional seperti madrasah sampai pesantren, maupun di lembaga pendidikan formal seperti sekolah sampai perguruan tinggi, kurikulum dakwah hanya ‘mendaftar pengajaran ilmu tauhid, fiqh, sampai tasauf; yang samuanya bukan merupakan persiapan bagi umat untuk mampu mengakrabi Al-Quran.

Dakwah dengan pendekatan kebahasaan
Dimaksud dengan dakwah dengan pendekatqan kebahasaan di sini adalah dakwah dengan mepertimbangkan kenyataan bahwa di satu sisi dakwah hakikatnya adalah penyampaian Al-Quran, dan di sisi lain Al-Quran adalah sebuah ‘materi dakwah’ yang kini tertulis dlam sebuah bahasa, sehingga pengajaran bahasa Al-Quran otomatis tidak bisa diabaikan.

Shalat sebagai sarana Quranisasi
Tak banyak orang berpikir – apalagi menyadai – bahwa shalat (berbagai shalat!) adalah sebuah sarana –yang disediakan Allah! – agar dengannya umat Islam melakukan proses Quranisasi setiap hari. Uraiannya sebagai berikut:
1. Shalat dilakukan 5 kali setiap hari
2. Bacaan utama dalam shalat adalah surat-surat/ayat-ayat Al-Qurãn
3. Bacaaan dalam shalat harus dilafazkan (diucapkan) dengan jelas dan keras (minimal bisa terdengar kuping sendiri, bila shalat sendirian). Ini pastilah menjadi cara latihan yang sangat efektif bagi lidah untuk mampu melafalkan bahasa ‘asing’ secara lancar dan fasih.
4. Shalat dilakukan setiap hari selama bertahun-tahun, seumur hidup, sehingga menjamin bahwa ‘latihan berbahasa Al-Qurãn ini’ dilakukan dengan setia dan rajin.

Bermula dari ilmu sharf
(BERSAMBUNG)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: