Shalat Para Nabi

Tanya:

Bagaimana shalat Nabi Adam, Ibarahim, dan terutama Nabi Muhammad sendiri?

Apakan Nabi Muhammad juga mengucapkan “Allahumma shalli ‘ala Muhammad…?”

 

Jawab:

1. Para nabi mempunyai tugas dan status yg sama, yaitu sebagai penyampai ajaran Allah sekaligus yg menjadi uswah (teladan) dlm pelaksanaannya. Tak ada perbedaan di antara mrk dlm hal itu (laa nufarriqu baina ahadin min-hum).


2. Untuk mengetahui bagaimana shalat Nabi Adam sampai Nabi Isa, kita hanya bisa melakukan semacam pembuktian terbalik, yaitu dengan menggunakan shalat Nabi Muhammad sebagai ukuran. Logikanya, karena para nabi itu sama dlm hal tugas dan status, maka kaifiat (teknik) shalat mereka pun pastilah sama. Sebagai perbandingan, bila shaum (puasa) Ramadhan adalah perulangan dari shaum umat terdahulu, maka otomatis shalat yang diajarkan Nabi Muhammad juga adalah perulangan dari shalat umat terdahulu. Tapi, bukankah ada yang disebut “Puasa Daud”? Ya, itu adalah puasa pribadi Nabi Daud, yang kedudukannya sama dengan puasa Senin-Kamis yang dilakukan Nabi Muhammad, yang kita tidak diwajibkan utk mengikutinya, kecuali bila kita mau.


3. Apakah “tahiyyat Nabi Muhammad” sama dengan tahiyyat kita, yaitu mengucapkan “Allahumma shalli ‘ala Muhammad” juga? Jawabannya: ya. Mengapa? Karena bacaan tahiyyat itu diajarkan oleh Allah kepada rasulNya, bukan oleh Muhammad secara pribadi.


4. Harap diperhatikan bahwa para nabi mempunyai dua status, yaitu (1) status sebagai mu’min (manusia biasa) yang harus patuh pada uswah seperti para mu’min lain, dan (2) status sebagai rasul (petugas Allah) yang menjadi uswah. Dengan demikian, ketika sedang melakukan shalat, status Muhammad bin Abdullah sbg mu’min ‘meneladani’ Muhammad sbg rasulullah. Tegasnya, ucapan Allahumma shalli ‘ala Muhammadin dalam shalat adalah ucapan seorang mu’min bernama Muhammad yamg bershalawat (ingin memadu harap) dengan rasulullah yamg kebetulan bernama Muhammad.


5. Kemudian, dlm tahiyyat itu kan ada juga ucapan “kama shallaita ‘ala Ibrahim”; apakah ini juga diucapkan oleh para nabi yang lain? Jawabannya: tidak. Mengapa? Karena ucapan ini berkaitan dengan latar belakang sejarah pribadi Nabi Muhammad, yg merupakan keturunan Nabi Ibrahim melalui Nabi Isma’il. Dan penyebutan Nabi Ibrahim dalam tahiyyat tsb bukanlah dimaksudkan untuk pengidolaan secara khusus thd Ibrahim, tapi utk menggaris-bawahi bahwa antara Nabi Muhammad dengan Nabi Ibrahim, selain ada hubungan pribadi (keturunan), juga ada hubungan sejarah yang sangat khusus. Apa itu? Di dalam Al-Qur’an jelas disebutkan bahwa Nabi Ibrahim (sersama Isma’il) pernah menjadikan Ka’bah sebagai matsaban lin-naas (tempat berhimpunnya manusia), dan Nabi Ibrahim juga pernah berdoa agar kelak di daerah sekitar Ka’bah diutus seorang rasul lain. Nah, ‘kebetulan’ Nabi Muhammad lahir di daerah sekitar Ka’bah, dan merupakan keturunan Nabi Ibrahim pula. Jadi, bacaan “kama shallaita ‘ala Ibrahim” adalah bacaan yang berlatar belakang sejarah spt itu. Begitu kira-kira.


6. Bila ada teman-teman yang punya jawaban lebih baik, dipersilakan untuk mengajukan tambahan dan atau koreksinya.*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: