“Ayahku” Dan “Ayah… “

Buku Hamka

Buku HamkaPuluhan tahun lalu, ketika saya masih di bawah 17 tahun, saya membaca buku milik kakak berjudul Ayahku, karya HAMKA (Haji Abdul Malik – bin Abdul –  Karim Amrullah). Itu buku biografi ayah Hamka, Abdul Karim Amrullah, yang ditulis Hamka dengan begitu bagusnya, sehingga buku itu layak disebut sebagai buku biografi bernilai sastra. Intinya, Hamka berkisah tentang ayahnya yang alim dan heroik, salah satu ulama yang mendapat pengakuan dari Universitas Al-Azhar, Mesir, dan juga memimpin perlawanan terhadap Belanda dan Jepang. Dikisahkan dalam satu bab bagaimana beliau, Haji Abdul Karim Amrullah, dalam sebuah upacara yang dipimpin tentara Jepang, menolak untuk membungkuk terhadap bendera Jepang.

Kini buku itu tidak bisa lagi ditemukan di banyak toko. Sekali ditemukan di toko tertentu, harganya dipatok hampir setengah juta! Ya, itu memang buku langka. Yang disayangkan, penjual buku tersebut rupanya lebih cenderung menjual nama besar Hamka sendiri, sehingga mereka menghargai bukunya secara ‘lebay’ (berlebihan). [Tapi sekarang sudah ditemukan file PDFnya di internet, yang bisa diunduh secara gratis].

Al-hamdu lillah, baru-baru ini, bulan Mei lalu, Repuplika Penerbit meluncurkan sebuah buku berjudul Ayah…, yang ditulis Irfan Hamka, putra Hamka kelima, yang telah berusia 70 tahun!

Buku ini, biografi Hamka hasil kompilasi sang anak, dengan tebal 320 halaman, dijual tak sampai 50 ribu rupiah.

Judul dan rancangan cover menarik, terutama bagi siapa pun yang kenal Hamka, langsung atau tidak. Foto Hamka dengan senyumnya yang khas langsung membangkitkan kenangan tersendiri.

Saya sendiri ‘mengenal’ Buya Hamka pertama kali lewat kuliah-kuliahnya di RRI dan TVRI, yang dilanjutkan dengan membaca beberapa buku beliau yang dibeli kakak sulung, salah seorang pengagum Hamka. Dari kumpulan buku kakak, saya antara lain membaca Tafsir Al-Azhar (waktu itu 30 jilid), Pandangan Hidup Muslim, Tasauf Modern, Pelajaran Agama Islam, dan lain-lain. Kemudian, karena menyukai sastra, saya pun membeli karya-karya Hamka berjudul Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, Margareta Gauthier (terjemahan novel Prancis, yang disalin Hamka dari versi bahasa Arabnya), Merantau Ke  Deli, dan Di Bawah Lindungan Ka’bah. Setelah itu, sejak tahun 1980an, saya tak lagi ‘menyentuh’ buku-buku Hamka.

Munculnya buku Ayah…, mau tak mau merenggut saya ke masa lalu. Senyum Hamka yang lembut dan ramah, yang terpampang di buku itu, mengingatkan saya ketika suatu hari sempat berjabat tangan dengan beliau di Masjid Agung Al-Azhar, Kebayoran Baru. Saya tak bisa melupakan tangan beliau yang tipis, putih, dan lembut. Terus terang, saat itu dan sampai sekian lama, saya membayangkan beliau sebagai ulama ‘borjuis’ yang tak kenal kerja fisik yang keras! Saya membayangkan bahwa kerja beliau hanyalah berceramah dan menulis.

Al-hamdu lillah, buku Ayah… karya Irfan Hamka membuyarkan citra itu, dan saya pun ingin minta maaf atas pemikiran saya yang salah itu. Buku Ayah… mengingatkan saya kembali akan buku Ayahku, yang dulu saya baca dengan begitu asyik. Buku yang mengisahkan perjuangan keras seorang ayah, seorang pahlawan, yang ditulis putranya yang juga pejuang keras, dan tak kalah pahlawannya.

Irfan, penulis buku Ayah…, mengingatkan kembali tentang perjuangan Hamka ketika beliau masuk hutan lebat Sumatera, demi menghindari penangkapan Belanda, karena beliau termasuk ulama pejuang Republik.

Irfan juga mengingatkan betapa ayahnya, selain ahli agama, adalah juga pendekar silat Minang yang tangguh. Dengan kata lain, Hamka adalah seorang Muslim yang Basthatan fil-‘ilmi wal-jismi (mumpuni secara ilmu maupun fisik). Pantas bila beliau dikenal sebagai orang yang tak kenal takut.

Suatu hari di tahun 1980an, saya bercakap-cakap dengan seorang teman. Entah bagaimana mulanya, teman ini tiba-tiba bercerita tentang Buya Hamka, yang disebutkan sebagai tukang kawin. Waktu itu saya hanya bisa mengatakan bahwa, setahu saya, Hamka hanya menikah dua kali, dan pernikahannya yang kedua dilakukan setelah istri pertamanya wafat.

Melalui buku Ayah…, Irfan menulis kisah pernikahan ayahnya yang kedua kali, halaman 266-272, dengan keluarga bangsawan Cirebon, melalui rekayasa pihak luar, bukan atas keinginan Hamka sendiri. Pernikahan kedua itu teerjadi sekitar 6 tahun setelah ketiadaan istri pertama. Jadi, tak ada bukti bahwa Hamka tukang kawin!

Ayah… ditulis Irfan, agaknya, tanpa ‘ambisi’ untuk ‘nyastra’ seperti Ayahku, yang memang ditulis Hamka yang sastrawan. Irfan hanya ingin berbagi tentang pengalaman dan kenangannya dengan sang ayah secara akrab dan santai. Karena itu, buku ini memang terasa renyah dan terbaca tanpa terasa telah terlewati halaman demi halaman. Kita menemukan kisah-kisah lucu, menegangkan, mengharukan, mengagumkan.

 Buku ini, antarta lain, juga menyiratkan cara Hamka mendidik anak yang sangat berientasi Islami, yang antara lain anti rasialis. Ketika Hamka

Buku “Ayahku” yang terbit tahun 1982. Sebelumnya sudah terbit sejak tahun 1950an.

memboyong keluarga besarnya ke Jakarta, misalnya, ia menyewa sebuah rumah milik orang arab, yang terletak di lingkungan yang dihuni berbagai suku dan ras. Ada Arab, Cina, Jawa, Betawi dan lain-lain. Banyak hal-hal ‘kecil’ yang dilakukan Hamka terhadap Irfan yang menggambarkan kebijaksanaan menyikapi seorang anak dari 12 anaknya. Watak Irfan, misalnya, diketahui sang ayah sebagai temperamental dan suka berkelahi. Maka, ketika Irfan berkali-kali meminta sang ayah untuk mengajarinya silat, Hamka tak pernah menggubris. Dan ketika akhirnya permintaan itu dikabulkan, Hamka hanya mengajarkan kepada Irfan jurus-jurus dasar silat Minang, yaitu “langkah sembilan”, yang hanya berisi tentang bagaimana mengatur langkah. Setelah itu, ketika salah seorang pamannya datang, Hamka menyerahkan Irfan kepada adiknya, untuk mengajarinya jurus-jurus bertahan. Baru belakangan sekali Irfan sadar bahwa ayahnya sengaja tidak mengajarinya jurus-jurus menyerang, karena khawatir sang anak yang agresif itu makin agresif!

Secara keseluruhan, buku Ayah… sangat menarik. Bila ada ‘kekurangan’, para editor agaknya kurang berani menggarap kata pengantar Irfan, yang di sana-sini masih ditemukan kata-kata yang mubazir. Selebihnya, secara keseluruhan boleh dikatakan mulus. Meminjam semboyan majalah Tempo, buku Ayah… “ enak dibaca dan perlu”.∆

Comments
8 Responses to ““Ayahku” Dan “Ayah… “”
  1. andi says:

    download pdf ayahku dimana bang?

  2. Ahmad Haes says:

    Maaf, saya lupa. Tadinya udah saya bookmark tapi komputer saya eror, terus diinstal ulang windowsnya… Coba cari dg bantuan google.

  3. Rita Revita says:

    dapat di download? caranya bagaimana yah..? terima kasih

  4. Ahmad Haes says:

    Maaf, waktu itu saya mencarinya dg bantuan google, tpi lupa di mana alamatnya.

  5. aya says:

    buku ayaku mmg dah tak diterbitkan ya?

  6. Ahmad Haes says:

    Tidak tahu. Saya belum mencari di toko2 buku. Tapi di internet ada file PDF-nya.

  7. iwan says:

    Berikut ini link buku ayahku pdf, karya buya hamka… semoga bermanfaat
    https://muslimminang.files.wordpress.com/2013/08/ayahku-dr-haka.pdf

  8. Ahmad Haes says:

    Saya sudah punya filenya. Tapi terimakasih atas perhatian anda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: