Manusia Itu Zhalim Dan Bodoh! (Al-Ahzãb 72)

Amanah s Ahzab 72

Untuk membaca file PDF-nya, silakan klik di sini: Amanah – s Ahzab 72

Ya, saya sangat bingung dengan ayat ini, surat Al-Ahzab ayat 72, yang menyebut manusia sebagai zhalim dan bodoh, justru setelah manusia bersedia menerima amanah!
Hm, ya, ya. Lengkapnya begini dalam terjemahan versi Departemen Agama (sekarang Kementrian Agama): “Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat), lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan bodoh.”
Menurut Ibnu ‘Abbas, konon, yang dimaksud amanat adalah ketaatan. Ketika Nabi Adam bertanya tentang isi manat itu, Allah menjawab, “Jika kamu berbuat baik maka mendapat imbalan dan jika berbuat buruk maka mendapat hukuman.”
Demikian yang tertulis dalam Mushaf al-Azhar, tahun 2010, yang dilengkapi dengan terjemahan Depag serta ringkasan tafsir Ibnu Katsir dan Ath-Thabari.
Kemudian, dalam Tarjamah Tafsiriyah, karya Al-Ustadz Muhammad Thalib, terbitan Majlis Mujahidin, tahun 2011, yang jelas ditujukan untuk mengoreksi terjemahan Depag, ayat tersebut ditafsirkan demikian: “Allah telah menawarkan tanggung jawab melaksanakan syari’at Allah kepada langit, bumi dan gunung. Akan tetapi mereka semua menolak untuk menerimanya. Mereka merasa sangat berat menerima tanggung jawab itu. Akan tetapi, manusia mau menerima tanggung jawab melaksanakan syari’at itu. Sungguh manusia itu suka menzhalimi dirinya sendiri lagi tidak pandai mengukur kemampuan dirinya sendiri.”
Jadi, menurut tafsir versi MMI (Majlis Mujahidin Indonesia), amanat dalam ayat itu adalah “tanggung jawab melaksanakan syari’at Allah”? Dan, yang tersirat dari tafsir itu, manusia seharusnya tidak menerima amanah itu?
Ya, itu jelas tertulis di sana.
Terus, kenapa dalam tafsir itu tidak dikatakan bahwa amanat tersebut adalah “syari’at Allah” saja, supaya lebih jelas?
Saya tidak tahu. Tanyakan saja kepada yang bersangkutan. Tapi, saya sependapat dengan anda, bila diingat dalam ayat itu jelas tertulis al-amanah; yaitu tertulis berupa kata benda definitif, atau isim ma’rifah dalam bahasa Arabnya.
Artinya?
Kata benda definitif
Bila sebuah kata benda diucapkan atau ditulis dalam bentuk definitif, berarti mengacu pada sesuatu yang sudah disebut terdahulu. Atau mungkin ia merupakan sebuah istilah yang harus didefinisikan, atau merupakan alias (nama lain) dari sesuatu yang sudah dikenal. Misalnya, Al-Hudã, Al-Furqãn, Adz-Dzikrî, dan lain-lain, adalah istilah-istilah yang merupakan sebutan lain bagi Al-Qurãn.
O, begitu ya? Terus menurut anda, apakah “al-amanah” tersebut juga merupakan sebuah istilah? Atau sebuah alias? Bila alias, alias dari apa?
Entah. Saya baru sedang memikirkannya.
Wah! Jadi, belum bisa memberi jawaban bagi saya?
Belum! Tapi, mari kita kaji bersama. Pertama, secara bahasa, al-amãnata (الأَمَانَةَ) itu adalah kata benda definitif (isim ma’rifah), yang dalam susunan kalimat berkedudukan sebagai objek (maf’ûl), yaitu sesuatu yang dipamerkan, diajukan, ditawarkan, atau diserahkan Allah kepada bumi, langit dan gunung-gunung. Tapi…
Tunggu dulu! Mengapa Allah menawarkannya kepada langit, bumi, dan gunung-gunung? Apakah mereka merupakan makhluk yang tepat untuk ditawari atau diserahi amanah?
Pertanyaan bagus!
Kalau begitu, anda harus memberikan jawaban yang bagus juga!
Haha! Bagaimana anda bisa tahu bahwa jawaban saya bagus atau tidak?
Hmh, bila jawabannya memuaskan saya, mungkin…
Haha! Tapi itu bukan ukuran kebenaran, sobat!
Iya juga sih. Terus, ukurannya apa dong?
Bila saya berhasil memahami ayat Allah, dan kemudian mampu menjelaskannya kepada anda secara apa adanya (objektif), dengan bahasa yang bisa anda pahami, mungkin!
Kenapa masih menggunakan kata mungkin?
Tantangan Allah
Karena, anda tidak akan memahami Al-Qurãn secara maksimal bila anda tidak berusaha memahaminya secara langsung.
Yang anda maksud memahaminya secara langsung itu bagaimana?
Yaa, paling tidak, anda harus memahami bahasa aslinya.
Mengapa harus begitu? Apakah itu bukan menyulitkan?
Menyulitkan? Itu relatif sekali. Tapi, setahu saya, hal itu justru merupakan tantangan bagi setiap orang yang ingin meningkatkan kecerdasan dan wawasannya, khususnya para muslim.
Jelasnya?
Setiap orang yang menyatakan diri sebagai muslim, ditantang oleh Allah, seumur hidupnya, untuk berusaha memahami Al-Qurãn secara langsung.
Manfaatnya?
Al-Qurãn adalah alat komunikasi Allah dengan kita. Bahkan, setelah Rasulullah tiada, Al-Qurãn adalah satu-satunya wakil Allah di bumi ini. Bila anda ingin tahu peraturan Allah, kehendak Allah, rencana-rencana Allah untuk hari ini dan hari depan anda, anda bisa menanyakan semua itu kepada Al-Qurãn!
Dengan membacanya secara langsung, dan mengerti bahasa aslinya?
Ya!
Apakah tidak cukup dengan hanya melalui terjemahannya?
Bila anda tidak ingin memproses diri untuk lebih maju, lebih berkualitas, lebih yakin, mungkin membaca terjemahannya saja sudah cukup. Tapi, jelas itu merupakan tanda stagnasi alias kebekuan! Bila ada hadis yang mengatakan bahwa iman itu bisa bertambah dan berkurang, dengan stagnasi seperti itu, bisa jadi iman anda tak akan pernah mengalami peningkatan.
Oke, oke, saya bisa terima. Artinya, seumur hidup, saya harus memproses diri untuk meningkatkan kemampuan dalam rangka memahami Al-Qurãn secara langsung. Begitu?
Persis!
Seperti mitos
Kembali ke masalah tadi. Mengapa Allah menawarkan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung? Terus-terang, ini seperti mitos! Saya jadi ingat dongeng tentang alam yang bisa berpikir dan berbicara seperti manusia!
Anda benar!
Apanya yang benar?
Bahwa memang seperti dongeng bila Allah menawarkan amanah – apalagi syari’at seperti tafsir MMI – kepada langit, bumi, dan gunung-gunung.
Nah! Lantas, apa yang salah?
Mungkin paham kita! Maksud saya, mungkin kita yang salah paham terhadap ayat itu.
Di mana letak salah pahamnya?
Bisa jadi kita lupa bahwa Al-Qurãn sebuah kitab sastra! Maksud saya sebuah kitab yang dikomunikasikan kepada kita dengan bahasa sastra.
Bahasa sastra! Saya sering dengar itu! Tolong jelaskan…
Ringkasnya, ada kemungkinan bahwa langit, bumi, dan gunung-gunung itu adalah kiasan…
Dari mana bisa diketahui bahwa itu kiasan?
Antara lain dari hal-hal yang anda sebut sebagai seperti mitos tadi. Jelasnya, bila amanah itu, misalnya, berarti syari’at seperti tafsir MMI, mengapa ditawarkan kepada langit, bumi, dan gunung-gunung? Apakah mereka merupakan makhluk-makhluk yang layak ditawari syari’at? Katakanlah, bila syari’at yang dimaksud adalah syari’at Islam, yang dengan kata lain juga disebut orang agama Islam, apakah pantas agama Islam ditawarkan kepada langit, bumi, dan gunung-gunung?
Nah, itu kan pertanyaan saya!
Iya. Dan jawabannya, menurut akal sehat anda, adalah tidak pantas! Begitu kan?
Ya, he’eh. Tidak pantas!
Mengapa tidak pantas?
Karena, sepantasnya, syar’at itu ditawarkan kepada manusia!
Persis!
Iya. Tapi, mengapa setelah manusia menerima penyerahan amanah itu, kok manusia malah dikatakan zhalim dan bodoh?!
Teka-teki
Hehe! Itu memang teka-tekinya kan?
Teka-teki?
Ya. Kita kan sedang berusaha menemukan jawaban mengapa manusia disebut zhalim dan bodoh, justru setelah menerima penyerahan amanah!
Ya, ya, ya! Jadi, jawabannya apa?
Jawabannya, paling tidak untuk sementara ini, yang disebut sebagai langit, bumi, dan gunung-gunung itu adalah manusia juga!
Lho? Kok bisa?
Itu ada logikanya lho!
Ada logikanya? Bagaimana itu?
Amanah adalah sesuatu yang diserahkan Allah kepada manusia (Premis Mayor)
• Berdasar premis mayor itu, maka langit, bumi, dan gunung-gunung adalah sebutan (kiasan) untuk manusia (Premis Minor)
• Dengan demikian, amanah Allah memang layak ditawarkan kepada mereka; yaitu manusia yang disebut sebagai langit, bumi, dan gunung-gunung, dan juga insan. (Simpulan)
Waduh!? Jadi, ada manusia yang disebut dengan nama atau istilah langit, bumi, dan gunung?
Ya. Bila kita menggunakan logika seperti itu.
Bila tidak?
Silakan memahami Al-Qurãn sebagai buku dongeng, yang di dalamnya ada cerita tentang langit, bumi, gunung, burung, semut, dan lain-lain yang berpikir dan berbicara seperti manusia!
Hm, jadi ini masalah pilihan?
Ya. Tepatnya pilihan metodologis! Atau pilihan perspektif.
Jelasnya?
Dalam memahami apa pun, kita tidak bisa memulainya dengan otak yang kosong, kan?
Tentu saja! Otak yang kosong malah tidak bisa memahami apa-apa!
Tepat sekali. Kita juga tidak bisa memahami Al-Qurãn dengan otak kosong. Harus ada sesuatu yang menjadi “apriori”.
Apriori?
Apriori yang saya maksud adalah “pengetahuan awal”. Sebelum berhadapan dengan Al-Qurãn, kita sudah mempunyai apriori (anggapan; asumsi) tentang Al-Qurãn. Apriori itu mungkin berupa dogma (ajaran yang didiktekan) bahwa dalam Al-Qurãn ada kisah tentang burung dan semut yang berbicara dengan Nabi Sulaiman, dan banyak lagi.
Dan itu, menurut anda, tidak benar?
Bukan menurut saya! Tidak harus menurut saya! Apriori biasanya merupakan pengetahuan yang kita terima sebelum kita melakukan pengkajian secara langsung terhadap objeknya. Dan apriori itu bisa terus bertahan bila usaha pengkajian kita tidak maksimal.
Bagaimana bila apriori atau “pengetahuan awal” itu adalah sesuatu yang benar; misalnya karena diajarkan oleh nabi?
Tetap saja harus dibuktikan melalui pengkajian.
Mengapa?
Supaya apriori itu menjadi pengetahuan objektif.
Apa yang anda maksud dengan pengetahuan objektif?
Bila meminjam istilah Al-Ghazali, yang membagi “keyakinan” menjadi ‘ilmul-yaqîn (keyakinan berdasar informasi), haqqul-yaqîn (keyakinan berdasar rumus atau logika ilmiah) dan ‘ainul-yaqîn (pengetahuan mutakhir yang merupakan gabungan pengetahuan berdasar informasi, logika ilmiah, dan kesaksian dengan mata kepada sendiri) maka pengetahuan objektif adalah ‘ainul-yaqîn.
Dalam konteks pemahaman Al-Qurãn?
Seperti yang saya katakan terdahulu; kita harus berusaha memahami Al-Qurãn melalui bahasa aslinya!
Hanya itu?
Tidak. Selain itu, tentu ada sejumlah ilmu yang harus dipelajari juga.
Bisa anda sebutkan?
Sebaiknya anda baca saja buku-buku yang membahasa tentang ilmu-ilmu Al-Qurãn, misalnya.
Setahu saya, buku-buku demikian itu membahas tentang banyak disiplin ilmu yang disebut sebagai “ilmu alat”, yang akan menjadi alat kita untuk memahami Al-Qurãn.
Iya.
Apakah semua ilmu alat itu bisa menjamin untuk kita mampu memahami Al-Qurãn?
Setidaknya, itu cukup membantu. Atau malah sangat membantu. Ilmu bahasa, yang mencakup ilmu sharf, nahwu, dan sastra, misalnya, itu sangat membantu. Tapi setelah itu semua, yang paling membantu adalah keakraban kita sendiri dengan Al-Qurãn.
Keakraban?
Ya. Maksud saya dengan keakraban itu adalah seringnya kita mengulang dan mengulang dalam membaca dan mengkaji Al-Qurãn.
Oke, oke. Sekarang kembali ke soal tadi. Tentang manusia yang disebut dengan istilah langit, bumi, dan gunung…
Ini berkaitan dengan persoalan manusia sebagai makhluk sosial dan budaya. Gampangnya, manusia terbagi ke dalam kelas-kelas sosial. Ada kalangan atas (langit), ada tokoh penting (gunung), ada rakyat jelata (bumi).
Wow!
Ketika amanah – kita konkretkan saja, misalnya yang dimaksud adalah dengan amanah itu adalah Al-Qurãn – ditawarkan kepada manusia kelas atas, mereka menolak dengan segala bentuk keberatan khas kalangan atas. Begitu juga ketika ditawarkan kepada para tokoh masyarakat yang menonjol tak ubanya gunung, mereka juga menolak dengan logika khas mereka. Demikian juga ketika ditawarkan kepada rakyat jelata. Mereka juga mempunyai alasan-alasan khas untuk menolak amanah Allah itu (Al-Qurãn).
Wow!
Kenapa wow wow melulu?
Kaget lahh…
Terus?
Terus, kan di ayatnya disebutkan bahwa amanah itu akhirnya diambil oleh manusia. Dan kemudian si manusia itu disebut zhalim dan bodoh!
Haha!
Kok tertawa?
Saya tak habis kagum terhadap Allah yang begitu lihai memainkan bahasa!
Saya tentu belum bisa mengaguminya. Memahami saja belum!
Oke. Gpp.
Terus…
Yaa… Jadi, ada manusia yang disebut langit, bumi, gunung, dan al-insan. Dan anda tahu bahwa yang terakhir inilah yang memikul amanah…
Ya! Dan dialah yang disebut zhalim dan bodoh; justru karena mau memikul amanah!
Nah… Menurut Ibnu Abbas, konon, sebutan atau makian itu dilontarkan karena al-insan hanya berminat pada ganjaran dari penerimaan amanah itu, tapi mereka tidak serius dalam menjalankannya.
O, begitu ya?
Ya. Dan tafsir Ibnu Abbas ini rupanya diikuti oleh banyak pihak. Bahkan ulama Arab yang mengerjakan projek Al-Qurãn The Saheeh International Translation juga manut pada tafsir ini, dengan mengatakan bahwa al-insan menjadi zhalim dan bodoh karena: Coveting its reward while forgetting the penalty for failure to keep his commitment. (Bernafsu untuk mendapatkan ganjarannya tapi melupakan hukumannya bila dia gagal menjaga komitmennya). Tapi, saya tidak bisa menerima tafsir seperti ini.
Mengapa?
Karena tetap belum menjawab mengapa al-insan disebut zhalim dan bodoh, justru setelah dia bersedia mengemban amanah!
Iya. Lalu?
Perhatikanlah bahwa tadi kita telah mengongkretkan bahwa amanah Allah itu adalah Al-Qurãn!
Iya. Terus?
Anda tahu untuk apa Al-Qurãn diajarkan? Maksud saya, apakah Al-Qurãn diajarkan untuk membuat al-insan menjadi zhalim dan bodoh?
Hmh, yaa… tentu tidak! Bahkan seharusnya berfungsi sebaliknya kan?
Ya!
Jadi, sebutan zhalim dan bodoh itu untuk siapa?
Tentu untuk al-insan. Tapi…
Tapi apa?
Itu memang sebutan untuk al-insan, tapi sebelum menerima amanah. Sebelum menerima Al-Qurãn!
Alasannya?
Ada kata kãna (كان)… yang bisa berarti “dahulu”.
Jadi?
Innahu kãna zhalûman jaHûlan (إِنَّهُ كَانَ ظَلُوماً جَهُولاً). “Sesungguhnya dia (al-insan) itu dahulu – sebelum menerima amanah (Al-Qurãn) adalah zhalim dan bodoh”.
Hmh, begitu ya? Tapi…
Kenapa?
Mengapa ada manusia yang disebut langit, bumi, gunung, dan ada juga yang disebut insan?
Mungkin, mungkin… Karena amanah Allah memang hanya bisa diterima oleh al-insan. Yaitu manusia yang benar-benar manusia. Yaitu manusia yang masih mempunyai sifat hanif alias cenderung atau berminat pada kebenaran. Karena dia tidak merasa tinggi atau arogan seperti si Langit dan Gunung, dan juga tidak dungu dan hopeless seperti si Bumi. …
Hmhhhh… Oke, oke, oke…
Oke-oke apa?
Saya sudah kehabisan bahan pertanyaan!
Ya, sudah. Diskusi kita tutup dulu. Al-hamdu lillah!
Sampai jumpa! 

Comments
7 Responses to “Manusia Itu Zhalim Dan Bodoh! (Al-Ahzãb 72)”
  1. desrizal says:

    Assalamu’alaikum WW.

    Bang AH,
    Pengertian Bumi, Gunung, dan Langit spt itu apakah bisa juga kita gunakan utk QS. Al-Haaqah ayat 13-16?

    Makasih sblmnya.

    Wassalamu’alaikum WW.

  2. Ahmad Haes says:

    Entah. Saya harus mengkajinya dulu. Tapi jawabannya “ya” bila anda periksa surat Al-Muzzammil. Silakan baca Mengungkap Gagasan surat Al-Muzzammil Melalui Teori Sastra dlm blog ini.

  3. ali jaulah fisabilillah. says:

    Lailaha ilaAllah.

  4. wira dharma says:

    Luarbiasa

  5. Kiki Dasrial says:

    Amanah disini yaitu kehendak untuk memilih ( Akal dan hati )

  6. Ahmad Haes says:

    Sebutkan alasannya.🙂

  7. adedede says:

    berarti sudah ada strata sosial ya pak sebelum di turunkannya alquran itu?tp bukankah strata sosial itu terbentuk dari masyarakat yang sudah berpikir? kalo seandainya kejadian ini di kaitkan dengansejarah manusia purba,kira2 dalam priode manaya kejadian ini terjadi?maaf saya hanya ingin menghubungkan saja setiap kejadian sejarah. hanya untuk meyakinkan hati yang masih bimbang ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: