Buku Pelajaran Bahasa Arab Di Perpustakaan Saya (4)

Buku yang menantang

Entah berapa lama kemudian, setelah mendapatkan buku Nahwu & Shorof, saya menemukan buku Kitãbut-Tashrîf(i) karya Hasan bin Ahmad, terbitan Bangil, tanpa tanggal dan tahun. Sedihnya, saya juga lupa mencantumkan tanggal tahun pembelian buku ini.

Buku ini sangat menantang bagi saya karena ditulis dengan huruf Jawi atau huruf Arab Melayu, yaitu hurufnya Arab tapi bahasanya Melayu dan Jawa. Bila tak salah, sebutan “huruf Jawi” timbul karena waktu itu orang Arab mengenal orang Indonesia sebagai orang Jawi (jawiyyun: orang/bangsa Jawa). Ada hal yang sangat menarik di sini. Di satu sisi, tak diragukan lagi bahwa suku Jawa merupakan suku yang mayoritas dari dulu sampai sekarang. Bila dikaitkan dengan jama’ah haji, misalnya, sejak sebelum masa penjajahan hingga sekarang, pastilah orang Jawa merupakan yang terbanyak jumlahnya dibandingkan suku-suku lain. Begitu juga, logikanya, jumlah orang Jawa yang bermukim (menetap) di Arab, sebagai pelajar (dan kemudian guru!) agama Islam. Dari sini timbul anekdot bahwa orang Jawalah yang telah menyumbangkan vokal “o” kepada bangsa Arab, karena dalam bahasa Arab hanya ada vokal “a-i-u” (tidak ada “o”, dan juga “e”). Karena itulah sekarang kita mengucapkan shalat(un) menjadi sholat atau solat…

Di sisi lain, meski mayoritas dan dominan, orang Jawa pada waktu itu (bahkan hingga sekarang) bisa menerima bahasa Melayu sebagai lingua franca (bahasa pergaulan), bahkan akhirnya bisa menerima bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia.

Kembali kepada buku Kitãbut-Tashrîf; saya sebenarnya tidak pernah terdidik untuk membaca dan menulis huruf Jawi. Tapi di waktu kecil, saya sering mendengar ayah (yang pernah belajar di beberapa pesantren) membaca buku-buku berhuruf Jawi dengan suara agak nyaring, dan saya tidak mengerti karena bahasanya adalah bahasa Jawa! Tapi, suatu hari, saya pernah membawa buku berhuruf Jawi yang kecil dan tipis ke hadapan ibu, meminta beliau membacakan. Dan ketika beliau membacakan, ternyata bahasanya adalah bahasa Sunda. Saya pun menyimak dan kemudian ikut membaca dengan sangat bergairah, karena merasa menemukan sesuatu yang baru. Waktu itu usia saya mungkin 10 atau 11 tahun. Saya sudah bisa membaca huruf Arab, berkat ibu juga, tapi tulisan Arab saya masih amat sangat jelek.

Proses membaca huruf Jawi bersama ibu hanya terjadi beberapa hari. Buku kecil itu terlalu kecil untuk dibaca dalam waktu lama. Tapi itulah ‘kurus kilat’ dari ibu yang membekas hingga hari ini. Dengan itulah saya bisa membaca Kitãbut-Tashrîf. Pada mulanya perlahan-lahan; tapi karena setiap kata bisa dengan mudah ditebak, saya pun bisa membaca dengan lancar.

Buku ilmu sharaf terbaik

Buku ini boleh jadi merupakan master piece, dan merupakan kebanggaan orang Persis (Persatuan Islam). Mengapa? Nama Hasan bin Ahmad pastilah tak bisa dipisahkan dengan tokoh fenomenal Ahmad Hassan (A. Hassan), yang ketika tinggal di Bandung dikenal sebagai Hassan Bandung, dan ketika pindah ke Bangil dikenal sebagai Hassan Bangil. Dan, setahu saya, beliau juga mempunyai putra bernama Abdul-Qadir Hasan. Tapi, saya tidak tahu siapa yang menulis Kitãbut-Tashrîf; apakah A. Hassan, atau putranya, atau orang lain. Satu hal yang pasti, buku ini diterbitkan dari Bangil. Sayangnya, tanpa tanggal dan tahun, dan tanpa keterangan yang berkenaan dengan penulisnya.

Satu hal lagi, karena pada waktu itu belum ada komputer dan mesin ketik berhuruf Arab, saya menduga buku ini ditulis dengan tangan! Ini bukan sesuatu yang mengherankan; karena ini sudah dilakukan oleh para ilmuwan (ulama) tempo dulu, yang menulis nasakah Al-Qurãn, hadis, kitab-kitab tafsir, sejarah, dan lain-lain, dengan tulisan tangan (bahkan dengan kaligrafi) yang indah.

Bila benar Kitãbut-Tashrîf ini ditulis dengan tangan, tentu ini merupakan prestasi hebat sang penulis, yang telah melahirkan sebuah buku berharga dengan tulisan tangan yang rapi dan bagus, untuk diwariskan kepada bangsanya. Tapi, namanya juga tulisan tangan, di beberapa bagian buku ini kita temukan juga susunan yang agak berantakan. (Mungkin penulisnya sedang mengalami kelelahan).

Buku sharaf terlengkap

Sejauh pengamatan saya, buku karya Ahmad bin Hasan ini juga adalah buku ilmu sharaf terlengkap yang pernah ditulis orang Indonesia. Bukan hanya lengkap, buku ini juga sistematis. Tapi, sehubungan dengan hurufnya, ada beberapa teman dan murid saya mengeluhkan buku ini. Mereka ingin agar buku ini ditulis ulang dengan menggunakan huruf Latin dan bahasa Indonesia modern!

Keinginan itu tidak salah, bila mengingat kebutuhan pragmatis mereka. Tapi bila ditinjau dari aspek sejarah, keinginan itu bisa dikatakan sebagai sikap yang kurang memahami nilai sejarah. Ya! Bukan hanya menjadi ciri khas, penulisan dengan huruf Jawi pegon[1] atau huruf Arab Melayu, adalah ibarat monumen untuk mengenang huruf tersebut, yang sekarang tidak lagi dikenali anak-anak kita. Dan saya percaya bahwa para pewaris buku ini, baik keluarga maupun kerabat Hasan bin Ahmad, menyadari betul bahwa buku ini harus tetap dipelihara sebagaimana keadaannya semula. Dengan demikian, mereka tak pernah mengotak-atik format fisik buku ini, dan tak pernah pula menerbitkan versi bahasa Indonesia modernnya, yang ditulis dengan huruf Latin. Bila ada perubahan yang mereka lakukan, perubahan itu hanyalah menggabungkan buku ini, dari 3 jilid menjadi hanya 1 jilid.

Isi buku

Jilid pertama buku ini mencakup 20 bab atau wazan (pola) kata kerja normal, dan setiap pola diuraikan secara lengkap, mulai dari kata kerja lampau, kata kerja sekarang dan akan datang, masdar, kata pelaku, dan seterusnya, yang terurai secara mendatar dalam bagan; serta uraian menurun yang disusun berdasar urutan kata ganti yang berjumlah 14. Setelah itu, mulai dari jilid 2, barulah diuraikan pola-pola kata kerja yang ‘tidak normal’, karena berhuruf ganda, dimasuki ‘huruf penyakit’, dan lain-lain. Definisi-definisi istilah tidak lagi diberikan dalam bahasa Melayu, tapi dalam bahasa Arab. Mungkin penulis berpikir bahwa setelah menyelesaikan jilid 1 dan 2, para pembaca sudah  mulai mampu memahami kosa kata bahasa Arab yang digunakan dalam buku ini. Dan untuk membatu pembaca, penulis memang menyediakan pula 3 halaman (!) akhir yang berisi ‘kamus’ kosakata.***

[1] Konon kata pegon berasal dari pégo, yang berarti menyimpang. Dikatakan menyimpang karena orang Jawa sebenarnya mempunyai huruf sendiri, sehingga tak perlu menggunakan huruf Arab. Tapi inilah salah satu bukti kekuatan pengaruh Islam terhadap orang Jawa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: