Tangis Sang Rasul Ketika Mendengar Al-Qurãn

Ibnu Mas’ud bercerita:

قال لى رسول الله صلى الله عليه وسلم: اقرأ عليّ القرآن! قلتُ: يا رسول الله أقرأُ عليك و عليك أنزل؟ قال: نعم. إنى أحبُّ أن أسمعه من غيرى. فقرأتُ سورة النساء حتى أتيتُ إلى هذه الآية: فكيف إذا جئنا من كل أمة بشهيد و جئنابك على هؤلاء شهيدا (النساء: 14), قال: حسبك الآن! فالتفتُّ فإذاً عيناه تذْرِفان.

Rasulullah saw berkata , “Bacakan Al-Qurãn padaku.” Aku  menyahut,  “Ya Rasulullah, mengapa aku harus  membacakan  Al-Qurãn  kepada Anda, padahal Al-Qurãn  diturunkan kepada Anda?”  Rasulul­lah  menjelaskan,  “Ya, sungguh, aku senang  mendengar  orang lain  membaca Al-Qurãn.” Maka aku pun membaca surat An-Nisa.  Ke­tika aku sampai pada ayat yang berbunyi: Fa-kaifa idza  ji’na min  kulli  ummatin bi-syahidin wa ji’na bika  ‘ala  ha-ula-i syahidan. (An-Nisa ayat 41), Rasulullah berseru, “Cukup  sam­pai di situ dulu.” Ketika aku menoleh, kulihat kedua matanya basah. (Hadis riwayat Bukhari dan lain-lain, dari Ibnu  Mas’ud).

Hadis  ini memberikan gambaran tentang tujuan  mendengar­kan orang lain membaca Al-Qurãn; yaitu agar sama-sama dapat  memetik  pelajaran dari ayat-ayat yang dibaca. Dengan kata  la­in,  supaya keduanya mendapat pelajaran yang sama.  Bila  yang membaca dan mendengar sama-sama tidak mengerti, pelajaran  a­pa yang bisa diambil?

حدّثنا الذين كانوا يّقرئوننا القرآن كعثمانَ بن عفّانٍ وعبداللهِ بن مسعود وغيرهما, أنهم كانوا إذا تعلّموا من النبي ص م عشر آيات لم يجاوزها حتى يتعلّموا ما فيه من العلم والعمل جميعا.

Mereka yang mengajarkan Al-Qurãn kepada kami, seperti  Usman bin  Affan,  Abdullah bin Mas’ud, dan  lain-lain,  menuturkan bahwa bila mereka mempelajari sepuluh ayat dari Nabi,  mereka tidak  menambah pelajaran sebelum mengkaji isinya secara  ke­seluruhan,  mulai dari teori sampai praktiknya. (Hadis  dari Abdurrahman As-Sulami).

Hadis  ini  semakin menegaskan  Hadis  sebelumnya,  bahwa Al-Qurãn harus dipelajari secara seksama, sehingga isinya  dapat dipahami, untuk selanjutnya diamalkan. Ini  bertolak-belakang dengan  kecenderungan  kita yang gemar  membaca  Al-Qurãn sampai khatam (tamat), tapi tidak mempedulikan kandungannya.

Suari  hari,  menjelang subuh, Bilal  melihat  Rasulullah menangis. Ketika ditanya Bilal, Rasulullah menjawab:

و ما يمنعنى أن أبكيَ و قد أنزل هذه الليلةَ: إن فى خلق السماوات والأرض واختلاف الليل وانهار لآياتٍ لأولى الألباب (آل عمران:19). ثم قال: ويل لمن قرأها ولم بتفكّر.

“Bagaimana  aku tidak menangis, padahal tadi malam  telah diturunkan padaku ayat yang berbunyi: inna fi  khalqissamawa­ti  wal-ardhi wakhtilafil-laili wan-nahari la-ayatin  li-ulil albab. Kemudian Rasulullah menegaskan, ‘Celakalah orang  yang membaca  ayat  ini tapi tidak memikirkannya.'” (Hadis  Ibnu Hibban,  Ibnul  Munir, Ibnu Mardawaih, dan  Ibnu  Abu-Dun-ya, bersumber dari Aisyah).

Comments
3 Responses to “Tangis Sang Rasul Ketika Mendengar Al-Qurãn”
  1. Urikss says:

    ok…..mantap…..lanjut

  2. aghson says:

    bagmana para juri MTQ setelah mendengar menunjuk juaranya ?

  3. Ahmad Haes says:

    Mereka menangis bila tidak terima amplop! hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: