Snouck Hurgronje Dan Agus Salim

Agus Salim

Snouck Hurgronje seorang orientalis(t). Titik? Tidak. Penyebutan nama ini bisa menjadi awal dari pengungkapan episode sejarah dunia yang panjang dan rumit.

Orientalis, harfiah, berarti “orang yang ahli tentang ketimuran”. Tapi, karena mereka lahir seiring maraknya imperialisme dan kolonialisme, yang mewakili penjajahan bangsa-bangsa Eropa (dan Amerika) yang beragama Kristen terhadap bangsa-bangsa Timur, khususnya yang beragama Islam, sebutan orientalis sering berkonotasi “ahli agama Islam”, yang dibayar para penjajah untuk mendalami agama Islam sekaligus perilaku para penganutnya, agar mereka mudah dikendalikan.

Konon, bangsa-bangsa beragama Islam sangat sulit ditaklukkan para penjajah, karena Islam terbukti merupakat ‘alat’ perelawanan yang hebat. Tapi karena para penjajah datang membawa meriam, sementara korban mereka hanya bersenjata tombak dan pedang, mereka berhasil melakukan kolonisasi (pendudukan; penjajahan) di mana-mana, walau untuk itu mereka harus berkorban harta dan nyawa cukup banyak.

Namun, kendati tanah-tanah Muslim diduduki, para penduduknya yang Muslim tetap Muslim. Hanya sebagian kecil dari mereka yang bisa di-Kristen-kan. Lantas, bila demikian, apa dong jasa orientalis bagi penjajah?

Kisah Agus Salim menguak tabir rahasia.

Agus Salim yang dididik ketat dalam Islam sejak lahir, tiba di Batavia (dalam usia 13 tahun) menghadapi kenyataan harus melanjutkan pendidikan di HBS, sekolah menengah Belanda, yang didirikan – antara lain – untuk menjerat anak-anak para orang penting pribumi, supaya meninggalkan agama mereka (Islam). Lho, kok tahu? Ya, karena penggagas HBS dengan sistem pengajarannya lahir dari otak Snouck Hurgronje! Selain itu, Agus Salim adalah saksi hidup sebagai salah satu korban pendidikan HBS.

Diakui oleh Salim bahwa setelah lulus HBS, ia mulai meragukan kebenaran Islam, dan semua agama. Kalimat kunci yang mempengaruhinya waktu itu adalah: “Agama itu bertentangan dengan ilmu pengetahuan.” Itu mendorongnya untuk  cenderung menjadi seorang agnostic; yaitu orang yang percaya adanya Tuhan tapi tidak percaya Tuhan mengajarkan agama!

Selain sempat bersekolah di HBS, Agus Salim sempat pula tinggal di rumah keluarga Belanda, dan usai sekolah ia sempat pula mengabdi sebagai pegawai Belanda.

Agus Salim menempatkan Snpouck Hurgronje sebagai guru kesayangannya, dan sang guru ini pulalah yang kemudian mengusulkan agar pemerintah Hindia Belanda menerimanya sebagai amtenar (pegawai negeri) di konsulat Belanda di Jeddah, Saudi Arabia (1906).

Manusia boleh berbuat makar (siasat; trik dsb.). Tapi mohon diingat bahwa Allah adalah perancang makar terbaik (Ali Imran; 54).

Setelah diarahkan untuk menjadi intelektual agnostic di HBS selama 5 tahun, selama itu pula Agus Salim bertugas di Jeddah. Di luar dugaan guru kesayangannya dan pemerintah Belanda, selama di tempat tugasnya, Agus Salim justru bisa bertemu dan belajar Islam dari para guru (ulama) dari negerinya sendiri. Ia, antara lain, ia malah bertemu dengan pamannya sendiri, Syaikh Ahmad Khatib, seorang alim asal Minangkabau yang terkenal.

Bertugas 5 tahun di Jeddah seolah mengubur hasil didikan 5 tahun di HBS. Dengan mendalami bahasa Arab dan Islam dari para guru yang mukim di Makkah, Agus Salim batal menjadi agnostik.

Selanjutnya, anda tentu tak menduga bahwa tokoh yang satu inilah yang merupakan bapak dari para cendekiawan muslim Indonesia, dan dia pula yang menjadi guru dari sejumlah tokoh Masyumi, termasuk Muhammad Natsir. ▲

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: