Bantahan Untuk Ahmad Husnan (Tentang Al-Quran Bahasa Arab)

Sehari setelah pemuatan tulisan berjudul “Berita Tentang Isa Bugis 23 Tahun Lalu”, saya (pemilik blog ini) menerima email yang berisi bantahan terhadap isi tulisan tersebut. Selengkapnya adalah sbb:   Teori Ahmad Husnan Dalam majalah al-Muslimun edisi Oktober 1990, Ahmad Husnan menulis bantahan terhadap teori Isa Bugis di atas, yang secara ringkas sebagai berikut: 1.   Bahasa … Continue reading

Berita Tentang Isa Bugis 23 Tahun Lalu

Berita Tentang Isa Bugis, Sepuluh Tahun Lalu

Tulisan di bawah ini diambil dari majalah GATRA yang terbit 6 Desember 2003. Gerakan Pembaru Sang Ahli Tafsir Dianggap terpengaruh ajaran sosialis komunis Partai Ba’ath di Irak.  Soekarno konon pernah menugasi Isa Bugis memper dalam Islam. Sayup-sayup azan salat Jumat berkumandang dari Masjid At-Taqwa di Dusun Bandarharapan, Kecamatan Terbangibesar, Lampung Tengah. Sebenarnya wujud At-Taqwa hanya … Continue reading

Isa Bugis Sang Pemberontak (?)

Saya menemukan sebuah tulisan cukup menarik, yang ditulis tanggal 3 September, 1998. judulnya: Isa Bugis Sang Pemberontak Banyak tafsir Quran beredar tanpa harus menyebabkan penafsirnya dianggap sesat. Isa Bugis tidak masuk ke dalam kelompok ‘orang-orang mujur’ itu. Penafsir Quran yang sempat berkecimpung sebagai Pemuda Masyumi ini sejak awal memperkenalkan tafsirnya sudah diserang para ‘ahli’ dengan … Continue reading

Kajian Wahyu Pertama (6): Baca, Bacakan, Himpun!

Setahu penulis, sampai saat ini baru Abdullah Yusuf Ali yang menerjemahkan kata iqra menjadi proclaim (nyatakan/umum­kan). Meski tafsir Abdullah Yusuf Ali cukup populer di  Indo­nesia,  para  penafsir Indonesia tidak ada  yang  terpengaruh olehnya dalam penerjemahan kata iqra ini. Terus-terang, tulisan ini lahir karena penulis tergugah oleh  terjemahan Abdullah Yusuf Ali tersebut.  Bila  meminjam istilah Isa … Continue reading

Kajian Wahyu Pertama (3): Pragmatisme Isa Bugis

Dalam  rangkaian kuliah yang diberinya judul  “Nuzulul­-Qur’an” (berlangsung di Jakarta, dimulai pada tanggal 22 Sep­tember 1986)[1], dalam kuliah pertamanya, Isa Bugis mengajukan suatu tinjauan  atas peristiwa turunnya wahyu pertama itu, yang disebutnya sebagai “pengkajian pragmatis”. Ia menegaskan bahwa dalam pengkajian pragmatis itu “bahasa itu sendiri  ha­rus dipahami secara kondisional dan proporsional dari  makna­nya yang melambangkan … Continue reading