Kita Dan Orang Barat (Dalam Hal Kepedulian Terhadap Bahasa)

almunjid

Al-Munjid, kamus bahasa Arab-Arab, karya Louis Ma’luf, orang Prancis.

Bila kita bandingkan bagaimana bangsa kita belajar di sekolah dengan bangsa-bangsa Barat, misalnya, kita akan melihat perbedaan yang sangat menyolok. Dalam hal perhatian terhadap buku, misalnya, anak-anak sekolah kita cenderung menganggap buku sebagai beban. Sedangkan anak-anak Barat justru sejak kecil sudah dikondisikan untuk menyukai buku.

Suatu hari di masa remaja, saya melihat seorang anak bule berusia sekitar 5 tahun keluar dari rumah dituntun pembantunya dengan mengepit buku ‘setebal bantal’. Karena penasaran saya mendekati mereka dan meminta ijin sang anak untuk melihat bukunya. Kemudian, tahulah saya bahwa buku itu berisi 50 dongeng yang penuh dengan gambar-gambar yang sangat indah!

Bagaimana dengan anak-anak kita yang seusia anak bule itu? Apa yang kita (dan sekolah) berikan?

Orang-orang bule umumnya suka membaca novel (sebentuk dongeng versi orang dewasa) dan buku-buku filsafat (yang mengajak berpikir untuk seek out hidden meaning of things- membongkar rahasia segala sesuatu!). Karena itu dalam obrolan, mereka sering mengutip kata-kata pujangga dan filsuf tingkat dunia idola mereka. Bagaimana bangsa kita? Kebanyakan idola kita adalah peramal dan dukun!

islam-montgomery-watt

Bukuk sejarah Islam, karya orang Belanda, yang menjadi rujukan para cendekiawan muslim, terutama yang tak tahu bahasa Arab.

Jelas, itu hasil dari cara kita mendidik anak. Hasil pendidikan dari orangtua dan guru yang cenderung menggurui (mendikte), dan kurang memberi peluang bagi anak untuk membaca!  Karena itu juga kebanyakan orang Indonesia bahasanya buruk. Tidak menguasai bahasanya sendiri! Dan itu terjadi mulai dari rakyat sampai perjabat. Bahkan orang-orang televisi, para jurnalis elektronik, yang seharusnya mencotohkan bagaimana berbahasa Indonesia dengan baik; kebanyakan justru berbahasa dengan buruk.

Secara psikologi, bahasa adalah alat untuk berpikir. Tanpa bahasa, manusia akan menjadi hewan yang selain tak bisa bicara, juga tak bisa berpikir. Lebih lanjut, walau sudah menggunakan bahasa, bila cara berpikir dan bicaranya kacau, ketahuan bila ia kurang ajar (kurang belajar) dalam hal bahasa.

Dalam konteks pendidikan, bahasa adalah pintu bagi segala ilmu. Orang yang paling miskin dalam penguasaan bahasa adalah orang yang menutup pintu untuk segala ilmu. Sebaliknya, orang yang menguasai bahasa, apalagi banyak bahasa, adalah orang yang membuka pintu untuk segala ilmu. Bahkan lebih jauh, bangsa-bangsa penjajah dulu (sampai sekarang juga?) menganggap bahasa sebagai alat untuk bisa menaklukan bangsa-bangsa lain. Ingatlah pepatah yang mengatakan, “Bila ingin menaklukkan suatu bangsa, kuasailah bahasanya.”

Tahukan anda bahwa lingua franca (bahasa pergaulan) bangsa-bangsa Asia dulu adalah Bahasa Melayu? Anda pikir bangsa-bangsa penjajah kita bisa mengusai kita bila mereka tidak mengerti Bahasa Melayu? Anda pikir Raffles yang orang Inggris itu bisa menulis History of Java bila dia tidak menguasai Bahasa Jawa dan mencuri dokumen-dokumen orang Jawa? (Sampai sekarang surat-surat emas – ditulis dengan tinda emas – milik kerajaan-kerajaan Jawa masih disimpan di Inggris!).

Tahukah anda bahwa salah satu tangan para penjajah adalah kaum Orientalis? Mereka adalah para ahli ketimuran yang sangat tekun mempelajari apa pun yang ada di dunia Timur, bahkan banyak yang rela tinggal di tengah hutan lebat bertahun untuk mempelajari tumbuhan dan hewan, yang hasil studi mereka kemudian disimpan di museum-musem Barat.

Salah satu objek kajian para Orientalis adalah basaha-bahasa Timur, termasuk bahasa Arab. Maka jangan heran bila buku-buku hasil studi mereka, tetang Al-Quran, hadis, sejarah dan lain-lain banyak yang terbit dalam bahasa Jerman, Inggris, Orancis, Belanda. Dalam bahasa Prancis misalnya, terbit sebuan ensiklopedi tentang hadis yang tebalnya setinggi dua bantal dan lebarnya seukuran dada kita. Di situ tertulis dengan rinci daftar segala aspek hadis. Di situ dipastikan apakah sebuah hadis shahih atau tidak. Dengan demikian, akhirnya umat Islam dipaksa untuk membeli buku-buku mereka. Saat ini, di Timur Tengah, kamus bahasa Arab terbaik, misalnya, bukan karangan orang Arab, tapi karangan orang Jerman bernama Hans Wehr. Kamus ini alah sebuah hasil studi yang luas, mencakup naskah-naskah kuno dan modern bahasa Arab, tentu termasuk Al-Quran, hadis, tafsir-tafsir, sejarah, dan lain-lain, bahkan hasil wawancara dengan banyak orang yang terdiri dari berbagai suku Arab. Bayangkan, apa yang akan terjadi bila Hans Wehr tidak menguasai banyak bahasa, khususnya dialek-dialek Arab?

Akhir kalam, saya tutup saja tulisan ini dengan anjuran agar bangsa kita berubah dari bangsa yang kurang peduli terhadap bahasa, menjadi bangsa yang lebih peduli dan lebih peduli lagi terhadap bahasa, sehingga pasti menjadi bangsa yang lebih maju.

 

Bekasi, 8-2-2017, 11:55 WIB.

hans-wehr

Kamus Arab-Jerman (kini terbit sebagai kamus Arab-Inggris), yang di Timur Tengah pun dianggap sebagai kamus bahasa arab terbaik.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: