Lagi-Lagi Tentang Qurbän

Kambing berkaos
sapi-dan-kambing

Gambar dari yayasannurulihsan.org

Di blog ini saya sudah menulis dua kali tentang qurbän(un). Tapi masih  saja saya gregetan untuk menulis lagi, menulis lagi. Soalnya masih saja banyak yang bertanya, dan pertanyaan mereka kadang memang butuh penjelasan dengan cara lain.

Secara bahasa, qurbän(an), adalah mashdar (kata dasar?) dari katakerja qaruba-yaqrubu, dengan wazn(un) (pola) fa’ula-yaf’ulu. Kata kerja yang menggunakan pola ini umumnya adalah kata kerja tak berobjek (intransitif), yang dalam bahasa Indonesia setara dengan kata sifat. Karena itu terjemahan harfiah dari kata kerja qaruba adalah (berposisi) dekat, dan demikian juga dengan mashdarnya (posisi dekat, pendekatan), karena mashdar kadang merupakan kata benda verbal (verbal noun), yaitu kata benda yang kadang berperan sebagai kata kerja yang lepas dari ikatan waktu. Karena itu pula kata-kata berpola mashdar kadang digunakan sebagai kata perintah (komando), misalnya wali kelas di sekolah ketika guru masuk, dia berseru: qiyäman (berdiri), ikhtiräman (beri hormat), julûsan (duduk).

Jadi, qurbãn itu berarti ‘dekat’. Bisa juga berarti pendekatan (pdkt).

Dekat atau PDKT dengan apa/siapa? Bisa dengan apa/siapa saja. Termasuk dengan kekasih dan atau dengan calon mertua. Nah, untuk punya posisi dekat, atau melakukan pendekatan, tentu ada sarana (alat; cara; metode), misalnya, bila ingin melakukan  PDKT dengan calon mertua, kalau datang harus bawa martabak istimewa!

Begitu juga dengan Allah! Wow!

Sayangnya di sini orang sering keliru, atau berpikiran dangkal.

Mereka pikir, potong hewan itu adalah metode untuk PDKT dengan Allah. Titik.

Dengan kata lain, Allah bisa ‘disogok’ dan atau dibujuk dengan unta, sapi, dan kambing! Duh!

Mbok yao eling! Kalau ngomong Allah itu jangan dipisahkan dengan ajaranNya. Dalam arti, kita tidak mungkin bisa dekat dengan Allah sebagai dzät (diri; oknum), tapi hanya bisa dekat, benar-benar dekat secara konkret dan faktual, dengan ajaranNya (wahyu; ilmu). Dengan cara apa? Tentu dengan menyentuh mushhaf Al-Qurän, membacanya, memahaminya, mengamalkannya, mewujudkannya jadi kenyataan.

Lho, apa hubungannya dengan potong hewan?

Allah mengajar bukan hanya dengan bahasa verbal (berupa kata-kata), tapi juga dengan bahasa lambang. Dan ritus (upacara) adalah bahasa lambang.

Nah, potong hewan itu dinamakan qurbãn (PDKT), tapi hanya simbolik (sebagai lambang). Dengan kata lain, bisa juga dikatakan bahwa pemotongan hewan itu hanya ‘simulasi’, seolah-olah kita sedang memasyarakatkan ajaran Allah.

Dengan memotong hewan dan kemudian membagikan dagingnya kepada orang-orang yang berhak, berarti kita sedang melakukan simulasi (permainan pura-pura), seolah-olah kita sedang peduli pada saudara kita yang secara gizi kekurangan.

Jadi, potong hewan itu, walau hanya lambang, tetap ada manfaat nyatanya, yaitu untuk memperbaiki gizi orang miskin. Berikutnya tentu tidak cukup sampai di situ. Harus ada usaha-usaha kaum berpunya untuk meningkatkan kemampuan ekonomis kaum dhu’afa (lemah secara ekonomis). Dan inilah memang salah satu tujuan Islam diturunkan. Yaitu supaya orang kaya punya kepedulian yang real terhadap orang miskin.

Jadi, jangan puas hanya karena anda sudah  potong kambing.

Ingat, itu mah baru simulasi.

Baru pura-pura.

Mau dekat dengan Allah  kok pura-pura!

Lewati kepura-puraan itu. Lakukan PDKT yang hakiki.

Tentu dimulai dengan mempelajari wahyu Allah, memahaminya, mengamalkannya, menghayatinya (mewujudkannya dalam hayat ­– hidup).

Kalau semua itu sudah dilaksanakan, ya berarti kita sudah berqurbãn dengan benar.

Lalu?

Fa-idza azamta, fa-tawakkal ‘alallah(i).

Bila sudah kuat tekad, sudah koreksi niat, ya sudah. Mudah-mudahan segala kekurangannya dimaafkan Allah.

 

Ahmad Haes, Bekasi, 7 September 2016.

Comments
4 Responses to “Lagi-Lagi Tentang Qurbän”
  1. reza says:

    bang..kalo hadist tunda ptong kuku atau rambut sebelum ritual qurban itu bgmana? singkron dgn qur’an gak?

  2. Ahmad Haes says:

    Coba baca ulang hadisnya. Dhamirnya mengacu ke mana? Ke org atau hewan qurban?

  3. taqin says:

    maf ijin share pak

  4. Ahmad Haes says:

    Silakan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: