Sejarawan, Sastrawan, Dan Al-Qurãn

alquran2

Apa beda sejara(h)wan dengan sastrawan?

Sejarawan, kira-kira, adalah pencari dan penghimpun jejak kejadian masa lalu. Sedangkan sastrawan adalah pencipta kejadian, dengan kekuatan daya khayal (imajinasi)-nya. Sejarawan tidak bebas. Sastrawan relatif bebas. Sejarawan tak boleh meniru sastrawan yang mengandalkan kekuatan iamjinasi, tapi sastrawan boleh menggunakan data sejarah. Karena itulah ada novel yang penuh dengan ‘data’ sejarah, seperti banyak novel Pramudya Ananta Toer, sehingga boleh disebut novel sejarah, tapi tak ada (buku) sejarah yang dibangun dari bahan baku imajinasi.

Pertanyaan bersifat menggugat bagi sejarawan adalah: Apakah anda hadir di tempat kejadian, atau hanya  menghimpun klipingan? Bagi sastrawan, syarat kelulusannya adalah: tulisan anda indah (walau tak masuk adal).

Dalam hal “kebenaran” sastrawan, sedikitnya, punya tiga kebenaran, yaitu:

  1. Kebenaran kejadian, yang berarti dia menuturkan kisah nyata;
  2. Kebenaran kemungkinan, yang berarti dia memainkan imajinasi; dan
  3. Kebenaran keyakinan, yang berarti dia ingin menonjolkan suatu visi atau ‘ideologi’.

Sastra yang berisi kisah nyata tidak dimaksudkan untuk menulis ulang kejadian, seperti yang mungkin dilakukan sejarawan, tapi sastrawan hanya ingin menyampaikan sebuah kisah yang ‘indah’, walau berupa tragedi. Dalam hal kebenaran kemungkinan, sastrawan bisa saja bercerita bahwa cinta bisa mempersatukan si kaya dengan si miskin, atau anak raja menikahi orang miskin, seperti sering ditemukan dalan kisah-kisah Hans Cristian Andersen (sastrawan Denmark). Dan dalam hal kebenaran ideologi, sastrawan, melaui ceritanya, berusaha meyakinan bahwa ideologi anu lebih unggul dari ideologi yang lain.

Rincian dan asas

Sejarawan, tentu saja, berusaha keras untuk menulis secara rinci tanpa memasukan pendapat pribadi. Sastrawan juga suka dengan rincian, tapi menyusupkan pandangan pribadi boleh dikatakan justru menjadi misinya. Masabodoh orang tak setuju. Makin beda dengan orang lain malah membuktikan keunikannya, dan itu bisa membuat karyanya menang dalam perlombaan.

Soal rincian dan asas (prinsip), saya percaya merupakan unsur penting dalam penulisan sejarah maupun fiksi (seperti novel, cerpen, dan sebagainya). Tapi, yang melahirkan tulisan ini adalah pertanyaan: Mengapa Al-Qurãn yang begitu ‘nyastra’ dalam bentuknya (bahasa dan cara penyusunan) seperti lebih menonjolkan prinsip ketimbang detail?

Dalam Al-Qurãn banyak kisah, terutama tentang Nabi Musa dan Bani Israil (Yahudi), tapi hanya kisah Nabi Yusuf yang terpapar secara ‘lengkap’, dalam surat Yusuf. Sementara kisah Nabi Adam, kita akan hanya menemukan semacam fragmen (pecahan), mulai dari surat Al-Baqarah, Al-A’raf, Thaha…

Menariknya, ‘fragmen-fragmen’ itu seperti sengaja disisipkan dalam tema-tema tertentu. Seperti sengaja ditampilkan untuk memberi contoh kasus dari sebuah tema (pokok bahasan).

 

Pendeknya, dalam bertutur tentang kejadian, termasuk juga tentang alam, Allah sebagai Mahasejarawan sekaligus  Mahasastrawan, seperti lebih mementingkan prinsip daripada rincian kejadian.

Al-Qurän, seperti ditegaskan surat Yusuf ayat 111:  Sungguh pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. (Al-Qurãn) itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu dan (sebagai) petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. (terjemahan Depag).

Dalam ayat ini, yang diberi tekanan adalah kata ‘ibratun (‘ibrah), yang oleh Depag diartikan pengajaran.  Jadi bila kita pegang ayat ini, kata ibrah adalah inti yang hendak disampaikan melalui penuturan kisah-kisah (sejarah) dalam Al-Qurãn, dan untuk itu penuturan secara detail tidak penting (?). Tapi, seperti disinggung di atas, dalam surat Yusuf ternyata kisah Nabi Yusuf dituturkan secara cukup rinci. Kesimpulannya? Rinci atau tidak, (penuturan) kisah-kisah  (sejarah atau bukan) harus mengandung ‘ibrah (pengajaran; penyampaian pelajaran/ajaran). Mungkin karena itulah para orangtua kita menuturkan kisah-kisah seperti Sangkuriang, Malin Kundang, Joko Tingkir, dan lain-lain. Tegasnya, dongeng menjadi sarana untuk menyampaikan ‘pesan’.

Kembali kepada Al-Qurãn, untuk bertutur secara sejarah maupun fiksi, Allah tentu mempunyai keunggulan tiada tara. Seperti dikatakan dalam sebuah hadis: keunggulan kalam Allah (Al-Qurãn) atas semua kalam (buatan manusia) adalah seperti keunggulan Allah atas semua makhlukNya. Tentu demikian juga dalam hal memberikan ‘ibrah. Keunggulan ‘ibrah Allah tentulah melebihi semua ‘ibrah yang dikarang manusia.

Tapi, apakah kita mau menerimanya?

 

  1. Husein, Bekasi, 28 Juli 2016.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: