Hikmah Memaafkan

Di pangkuan17

Maafkan orang lain seperti kau selalu memaafkan bayimu.

Ada yang bilang tujuan idul-fitri bukan untuk maaf-maafan, karena memaafkan bisa dilakukan setiap hari dan harus dilakukan segera, bukan menunggu setahun. Benarkah?

O, tidak, karena ada hadis yang menyatakan bahwa salah satu yang harus dilakukan pada saat idul-fitri adalah saling memaafkan.

Tapi jangan lupa bahwa apa pun yang dilakukan pada saat idul-fitri kebanyakan bersifat simbol (lambang), yang hikmahnya tentu harus digali, supaya bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Memaafkan, misalnya, mengandung pelajaran (hikmah) bahwa kita harus menghapus ingatan tentang kesalahan orang lain, yang bisa jadi hanya timbul dari salah paham dan salah sangka kita sendiri. Jadi intinya memaaafkan orang lain itu adalah membersihkan diri dari sangka buruk terhadap orang lain. Otomatis, bila sangka buruk (su’uzh-zhann) sudah hilang, maka yang harus ditumbuhkan adalah sangka baik (husnuzh-zhann).

Dengan kata lain, bersangka baik adalah berpikir positif.

Kita bukan hanya harus berpikir bahwa orang lain itu baik, dan berdoa selalu agar mereka baik, tapi juga yang terlebih dahulu harus menjadi baik adalah diri kita sendiri.

Menjadi baik itu berarti kita menjadi orang yang bisa dipercaya, bisa diharapkan, bisa diandalkan.

Menjadi orang yang bisa diharapkan berarti menghilangkan rasa kesepian bagi orang yang ada di dekat kita, menjadi teman, bahkan saudara, bahkan lebih dari itu, kita siap memberi apa yang dibutuhkan secara materi maupuin ruhani. Kita menjadi pemberi harapan (PHP), tapi tentu bukan harapan palsu. Setidaknya kita punya ketulusan, mulai dari memberikan senyum, uluran tangan dan seterusnya.

Jadi, memaafkan itu hakikatnya membersihkan ruhani dari sampah-sampah berupa marah, dendam, benci dan seterusnya, terutama kepada saudara seiman, yang memang punya tekad yang sama untuk ‘membesarkan’ ajaran Allah di dunia. Sehubungan dengan itu, memaafkan juga harus memperhatikan gunanya. Memaafkan manusia yang selalu cenderung jahat, misalnya, tentu tak berguna, karena berarti membiarkan kejahatannya terus berjalan. Kejahatan yang harus dihukum tetap harus dihukum, supaya hukum bisa berjalan sebagaimana mestinya, dan supaya para penjahat terhalang untuk berbuat jahat.

Maaf adalah hak bagi setiap orang yang ingin memperbaiki diri, bukan untuk mereka yang ingin melestarikan kejahatan.

 

  1. Husein, Bekasi, 1 Syawwal 1437.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: