Allah Menyukai Amal Kecil Yang Rutin

Kucing n buku2

Pagi ini saya hampir menangis karena sedih dan maran kepada istri saya.

Kenapa?

Kemarin, saya bangga karena dalam belanjaannya istri saya menyertakan sekantong plastik ikan cue (pindang) tongkol yang sudah dipotong-potong. Ikan itu, saya pikir, sengaja dibeli untuk makanan kucing. Memang benar sih, tapi …

Saya biasa menghancurkan ikan itu dan mencampurnya dengan nasi, supaya kucing merasa kenyang, dan kami juga berhemat. Maklum, kucing itu ternyata adalah makhluk yang doyan makan, dan sering terlihat tak kenal kenyang. Mereka beru berhenti makan bila yang diberikan adalah makanan yang tidak mereka suka!

Kami punya dua ekor kucing, yang sebenarnya bukan punya kami, karena tak pernah sengaja memelihara mereka. Di antara banyak kucing yang sering lalu-lalang dan mampir di depan rumah, saya memilih untuk hanya memberi makan secara rutin dua ekor kucing ‘remaja’. Karena itu, dua ekor kucing inilah yang juga secara rutin datang minta makan. Mulut mereka selalu ramai setiap kami membuka pintu.

Kenapa pagi ini saya harus sedih dan marah kepada istri? Soalnya, pagi ini saya melihat istri saya mencampurkan beberapa potong ikan tersebut ke dalam balado tempe yang dibuatnya. Saya lantas ngomel panjang-lebar.

“Kamu tahu engga? Allah itu menyukai amalan kecil yang dilakukan secara rutin. Amal kita terhadap kucing itu, hanya amal kecil, tapi bila dilakukan secara rutin, mudah-mudahan bisa menambal bolong-bolong ibadah kita yang lebih besar, tapi hanya dilakukan sekali-sekali. Selain itu, mudah-mudahan, amal kita terhadap kucing itu menjadi sarana latihan agar hati kita menjadi lembut, mempunyai perhatian dan kasih-sayang terhadap makhluk Allah yang lemah. …”

“Tapi kan itu mahal…” bantah istri saya.

“Mahal? Memang berapa harga ikan itu? Lima belas ribu? Apa kamu lupa kalau kita makan di restoran sekali makan bisa habis seratus lima puluh ribu, malahan kadang bisa tiga ratus ribu atau lebih? Ngaku beriman kok orientasinya duit melulu? Memang nanti kamu mau pulang ke mana? Ke gudang duit?”

Seperti biasa, bila saya sudah galak, istri saya suka diam. Dan diam-diam saya juga jadi kagum. Coba pikir, kalau dia sama galaknya, jadi ramai dech perang mulut, yang bisa berujung saling sakit hati.

Sebenarnya, istri saya bukan orang yang benci kucing. Dulu, sebelum anak kami lahir, kami pernah menampung dua ekor kucing besar yang dibuang oleh tetangga. Satu di antarnya kemudian belahirkan beberapa anak. Apa yang dilakukan istri saya? Dia rajin membeli makanan kucing di toko, lengkap dengan pasir, juga bak plastik untuk sarana eek mereka. Pokoknya istri saya perhatian banget dech. Sampai ketika dia hamil, kepeduliannya terhadap kucing tidak berkurang. Dia tak pernah takut dengan cerita tentang virus yang bisa mengganggu kehamilannya; karena, menurut tulisan-tulisan di internet, kucing – selain kesayangan Nabi Muhammad – adalah juga hewan yang bersih.

Tapi, setelah anak kami lahir, istri saya jadi agak paranoid terhadap kucing, walaupun juga tak pernah membenci kucing. Tapi, mungkin, saat itu dia mulai berhitung isi dompet. Mungkin (semoga saya salah) dia berpikir: Daripada uangku digunakan untuk melayani kucing, lebih baik untuk kepentingan anakku saja.

Alhasil, istri saya jadi tak mau lagi membeli makanan dan pasir kucing. Hanya sesekali saja dia membelikan ikan cue …

Sementara itu, sikap aneh saya terus berjalan.

Saya tak pernah sengaja memelihara kucing, tapi selalu tertarik memperhatikan kucing-kucing terlantar di jalanan, apalagi bila tampak kumuh, kurus, penyakitan, dan lapar. Saya suka berkhayal punya panti asuhan kucing!

Setiap ada kucing mampir di depan rumah, saya selalu tergerak untuk memberi makan.

Sekarang, ada dua anak kucing yang rutin datang minta makan, dan malam harinya tidur di depan pintu. Untuk tidak menambah jumlah mereka, dan menghemat biaya, kucing-kucing yang lain terpaksa harus diusir.

Ternyata, dua ekor kucing itu telah menyebabkan saya ‘bertengkar’ dengan istri. Untungnya, istri saya bukan tipe wanita yang suka bertengkar, dan sangat mudah menerima omongan saya sebagai benar. Haha.

Dan, saya jadi terus memikirkan hadis yang mengabarkan bahwa Allah menyukai amal kecil yang dilakukan secara rutin. Selain karena kami ‘bertengkar’ tadi, istri saya juga (setelah ‘bertengkar’ tadi) bercerita tentang ‘koordinator’ pengajian bulanan yang minta uang ke ‘pengurus pusat’ untuk dana “gula dan kopi”.

Saya terhenyak, sedih dan marah lagi. Kok bisa begitu?  Apakah mereka, para ‘pengurus wilayah’, tak punya simpanan uang? Kata istri saya, satu-dua orang sudah menyumbang uang untuk makanan dan entah apa lagi. Tapi untuk gula dan kopi, belum ada…

Saya lantas bertanya kepada istri saya, apakah pengumpulan harian uang logam tidak dijalankan lagi?

Tidak, kata istri saya.

Saya semakin sedih.

Karena peserta pengajian kebanyakan proletar, yang sama miskinnya dengan para nelayan yang kemarin digusur Ahok, yang di antaranya berubah nasib menjadi manusia perahu, saya pernah mengusulkan agar mereka setiap hari menyisihkan uang logam untuk kepentingan pengajian. Saya bilang, bila kalian taruh uang logam lima ratusan setiap hari, sebulan bisa terkumpul 15 ribu. Bila jumlah kalian ada 10 orang, dalam sebulan kalian bisa mengumpulkan yang 150 ribu. Itu sudah lebih dari cukup untuk membeli gula dan kopi.

Tapi, sebagian dari mereka rupanya menganggap ide itu remeh, walaupun saya tetap memaksakan, dan sempat berjalan.

Sayangnya, itu tidak terus berjalan. Mereka meremehkan amal kecil yang rutin. Akibatnya, kas pengajian kosong.

Padahal, pernah saya katakan kepada mereka, bahwa pengumpulan uang recehan itu sebenarnya merupakan kiat kuno; yang ternyata bisa mendukung sebuah projek besar. Pernah saya baca berita tentang Daai Tv, yang ternyata juga melaksanakan kiat itu, untuk membantu biaya operasional mereka yang tidak menerima iklan.  Mereka, antara lain, meminta para karyawan untuk menghimpun uang recehan. ***

Bekasi, Jum’at, 15 April 2016.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: