OKB Dan OKL

Tank baja

Tank baja

Seorang teman curhat tentang tetangga barunya, yang disebutnya OKB (orang kaya baru). Kenapa? Katanya tetangganya itu adalah orang yang sudah lama dikenalnya, walau selama ini tidak berteman akrab. Masalahnya? Ya, dia itu kan dulunya ‘orang susah’, tapi sekarang sudah punya rumah dua lantai dan mobil dua-ratusan juta. Lha iya, terus masalahnya apa?

Masalahnya, gayanya itu loh, berubah banget. Seperti berusaha banget meniru segala kelakuan OKL (orang kaya lama). Misalnya, mulai dari pakaian anak-anaknya, asesoris kamar anak-anaknya, mainan anak-anaknya, juga tentu termasuk sekolah anak-anaknya. Semua dibuat supaya ketahuan bahwa dia orang kaya!

Saya tertawa. Apa salahnya bila orang yang dulunya miskian lalu menjadi kaya, dan disebut OKB? Adakah undang-undang negara atau hukum agama yang melarang orang jadi OKB?

Teman saya mendengus. Masalahnya bukan di situ, katanya, tapi pada sikap tetangganya yang over acting!

Sesaat saya terdiam. Lalu saya bilang, “Anda katakan dia over acting?  Itu kan ‘tafsir’ anda. Bagi dia, mungkin itu biasa-biasa saja.”

“Akh, itu bukan cuma tafsir saya, tapi tafsir banyak orang sekompleks. Dia memang over acting. Lagaknya seperti ingin selalu pamer kekayaan! Padahal dia itu muslim. Istrinya saja berjilbab.”

Saya terdiam lagi. Mencoba memahami jalan pikiran teman saya, yang tampak jengkel betul pada tetangganya.

“Kita tahu kan? Ciri seorang muslim itu, antara lain, dia harus mengamankan orang lain dari kata dan perbuatannya…”, tiba-tiba teman saya berusaha meraba isi sebuat hadis. Dan saya semakin tercenung.

Bila benar curhatan teman saya ini, memang benar pula ada OKB yang over acting, dan ‘mengganggu’ tetangganya dengan gaya hidup barunya yang cenderung (seperti) suka serba pamer alias “riya”. Tapi, bila itu benar, kenapa teman saya harus jengkel?

“Maaf,” kata saya, “Apakah anda tidak iri pada tetangga anda itu?”

“Iri? Kenpa saya harus iri? Rumah saya lebih besar, dan mobil saya lebih mahal… Pendeknya, warga di sekitar kami kebanyakan adalah orang kaya lama, tapi tak ada satu pun yang cenderung pamer kekayaan dan bergaya seperti dia.”

“Ooo, begitu. Jadi, salah satu di antara orang kaya lama itu adalah anda ya?” celetuk saya sambil tertawa. Dia ikut tertawa, agak malu-malu.

Setelah hening beberapa menit, saya bertanya, “Jadi, selanjutnya, anda mau berbuat apa terhadap orang itu?”

Dia tampak kaget mendengar pertanyaan saya. “Ya, ya, engga tahu juga sih. Saya cuma ingin curhat saja. Melepas kejengkelan,” katanya.

“Lalu, setelah anda melepas kejengkelan, apakah orang itu akan berubah?” goda saya.

“Ya engga lah,” jawabnya sambil nyengir.

“Bagaimana bila yang anda ungkapkan ini merupakan ghibah?” goda saya lagi.

Ghibah? Maksud anda gunjing?”

“Iya. Dia kan  muslim. Anda kan muslim juga. Seorang muslim yang menggunjingkan saudaranya kan sama seperti makan bangkai?”

Dia mendesis. Garuk-garuk kepala. Meremas-remas mulut. Lalu katanya, “Sebenarnya saya bukan tidak tahu tentang itu. Saya hanya kesal. Saya ingin menasihati dia, tapi tak tahu bagaimana caranya.”

Saya mengangguk-angguk. Satu hal, harta memang sangat dominan dalam kehidupan. Demikian hebatnya pengaruh harta, sampai-sampai banyak orang ingin menyesuaikan diri, mengubah gaya hidup, sesuai banyaknya jumlah harta. Perubahan gaya hidup itu selalu pula dikaitkan dengan kelas-kelas masyarat, sehingga ketika seseorang punya harta lebih banyak, lantas saja dia merasa telah naik kelas. Dan biasanya kelas dalam masyarakat itu selalu berkaitan dengan gengsi alias ‘harga diri’. Orang yang banyak uang suka merasa dirinya lebih berharga, lebih bergengsi, dari orang lain. Itu ketika dia  menengok ke bawah. Tapi bila menengadah ke atas, melihat yang lebih kaya, dia akan merasa sedikit minder. Dan tentu saja dia ingin dirinya menjadi lebih kaya lagi.

“Anda punya ide?” teman saya memecah kesunyian.

“Saya juga tidak tahu!” sahut saya sambil tertawa.

“Saya tersentuh dengan parkataan anda,” katanya lagi.

“Perkataan saya yang mana?”

“Itu tadi… Dia muslim, saya muslim. Secara agama, kita bersaudara. Rasa kesal saya sudah hilang. Walau itu tak akan mengubah gaya hidup tetangga saya, setidaknya saya sudah sadar bahwa saya tak harus kesal sama dia. Malahan, daripada kesal, bukankah lebih baik saya doakan saja dia supaya penyakit suka pemernya segera sembuh?”

“Nah, itu anda punya ide bagus ternyata!  Seandainya doa itu tak berdampak bagi dia, bagi anda sendiri pastilah ada manfaatnya. Setidaknya menghilangkan rasa kesal, hehe.” Saya mengacungkan jempol sambil tertawa.

Akhirnya kami tertawa sambil mengadu telapak tangan. Toss, sampai terdengar bunyi “klepak”!

Al-hamdu lillah. ***

 

*Bekasi, 11.14, Ahad, 6 Maret 2016.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: