Definisi Islãm

Dalam Al-Quran ada satu ayat (antara lain) yang bagi sebagian orang menakutkan, mengkhawatirkan, mencemaskan, merikuhkan, menjengahkan, dan sebagainya.

Ayat yang dimaksud adalah potongan surat Ali Imran ayat 19, yang menegaskan bahwa agama Allah hanyalah Islam (إن الدين عند الله الإسلام…).

Bila kita kritisi secara cermat, pertama, dengan pertanyaan, “Siapakah Allah?”, sebuah kamus terbitan Oxfod University Press, menyebutkan bahwa Allah adalah name of God among muslims (nama Tuhan di kalangan muslim). Berdasar ini, jelaslah bahwa ayat tersebut hanya berlaku untuk kalangan muslim, bukan untuk penganut agama-agama lain. Dengan demikian, para pemeluk agama lain, selain Islam, tidak perlu ‘baper’ (bawa perasaan) ketika mendengar ayat ini. Ayat ini bersifat internal, bukan universal.

Kedua, kita juga perlu bertanya, misalnya kepada saudara-saudara sebangsa yang beragama Kristen, “Mengapa anda mengggunakan kata Allah untuk God (Tuhan dalam bahasa Inggris), padahal anda tahu (atau tidak tahu?) bahwa Allah itu adalah Tuhan umat Islam? Bila anda tahu, tapi tetap menggunakannya secara sengaja untuk menerjemahkan, misalnya the Lord, apa maksud dari kesengajaan itu? Apakah itu berkaitan dengan missi penyebaran Kristen, sebagai trik untuk membuat bangsa Indonesia beranggapan bahwa Tuhan Kristen dan Islam itu sama? Bila itu jawabannya, kami jadi mengerti mengapa anda juga menggunakan istilah Alkitab untuk menyebut Bibel, padahal al-kitãb(u) itu bahasa Arab dan merupakan sebutan lain dari Al-Qurãn.

Bermula dari Nurcholis Madjid

Nurcholis Madjid (NM) adalah orang pertama, di Indonesia, yang memperkenalkan pengertian islãm secara generic (umum) menjadi kepasrahan. Berdasar penerjemahan inilah NM kemudian memahami Islam tidak lagi sebagai nama agama, tapi sebagai sikap kepasrahan kepada Tuhan. Lucunya, NM tidak menegaskan Tuhan  yang dimaksud ituTuhan siapa, Tuhan umat Islam atau Tuhan umat-umat agama lain. Padahal, sebagai intelektual terkemuka, pastilah NM tahu bahwa Tuhan dalam konsep satu agama dengan agama-agama lain pastilah berbeda.

Selain itu, NM juga lupa bahwa bila pada suatu kata (istilah) ada makna generic (umum), tentu ada juga makna spesifik (khusus), yang ditentukan oleh pengguna dan konteksnya. Secara kamus umum, boleh saja islãm berarti kepasrahan atau penyerahan diri pada Tuhan (yang mana pun). Tapi secara khusus, dalam kaitan dengan agama Islam, misalnya, kepasrahan dan atau penyerahan diri itu tentu ada definisinya sendiri, terutama bila diingat bahwa Tuhan dalam Islam adalah Allah, dan Dia mengajarkan wahyu berupa Al-Qurãn kepada seorang rasul bernama Muhammad.

Rintisan NM kemudian diikuti, bahkan katanya diperkuat, oleh Ulil Absar Abdalla (UAA), yang mengaku sebagai NM ‘kecil’. Islam bukan lagi nama agama, tapi hanya sikap kepasrahan kepada Tuhan (secara umum). Dengan demikian, secara logika UAA, seorang yang disebut dan atau mengaku muslim, belum tentu dia beragama Islam. (Silakan anda pikirkan betapa kacau dampak yang ditimbulkan oleh pemikiran ini!).

 

Islãm dalam Hadis Jibril

Bila kita mengacu pada Hadis Jibril (hadis yang membahas antara lain tentang al-islãm, al-îmãn, al-ihsãn), islãm didefinisikan oleh Rasullah dengan kata-kata (terjemahan bebas): Al-islãm itu adalah anda bersyahadat, menegakkan shalat, menunaikan zakat, melakukan shaum Ramadhan, dan berhaji bila anda sanggup melakukannya.

Bagi yang memahami bahasa Arab, mereka pasti tahu bahwa kata  islãm dipaparkan Rasulullah secara bahasa (sharf) sebagai gerund (kata kerja berakhiran ing), sehingga kata islãm ini bisa diterjemahkan  menjadi ‘berislam’, dan ‘berislam’ ini, dalam konteks menjalankan agama Islam, apa lagi artinya bila bukan ”beragama Islam”?

Jadi, melalui Hadis di atas, Rasulullah menegaskan bahwa seseorang baru dikatan muslim bila dia bersyahadat, menegakkan shalat, dan seterusnya; yang tentunya merupakan bukti kepasrahan dan atau penyerahan dirinya terhadap Tuhan (Allah).

Dengan demikian, dalam konteks ini, tidak bisa orang dikatakan pasrah bila mereka tidak bersyahadat, dan seterusnya; kecuali bila mereka melepaskan kepasrahan itu dari konteks agama Islam dan Tuhan Allah; yang hasilnya sudah terlihat berupa pemikiran liberal (bebas; semau gue) yang tak mau peduli pentingnya menjaga kaitan suatu istilah dengan sumber pengambilan istilah itu. Ibarat mengambil buah jambu, mereka tak mau menyebutkan pohonnya, tapi hanya ingin mempropagandakan bahwa buah jambu itu bisa dimakan oleh siapa saja.

Islãm sebagai nama agama

Bahwa Islam adalah nama agama, ditegaskan misalnya dalam surat Al-Maidah ayat 3:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمْ الإِسْلامَ دِيناً

Pada hari ini telah Kusempurnakan bagimu agamamu, yakni telah Kuselesaikan (penyampaian) “ni’matku”, dan selanjutnya Aku telah rela Islam menjadi agamamu.

Bagi orang yang cenderung berpikir jujur ilmiah, dengan adanya ayat ini, tidak mungkin lagi dia berani membuat definisi lain tentang Islam. Seandainya dia hendak menerjemahkan Islam sebagai sikap kepasrahan terhadap Tuhan, maka dia juga akan menegaskan bahwa kepasrahan yang dimaksud adalah kepasrahan dalam konteks agama Islam, dengan Allah sebagai Tuhannya. Bila hendak mendefinisikan kepasrahan dalam konteks agama-agama lain, atau di luar konteks agama apa pun, kita tidak berhak melarang. Asal jangan memaksakan menyusupkan konsep lain ke dalam konteks Islam. ***

Bekasi, Selasa, 16.10, 16 Februari, 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: