Nasib Rakyat Indonesia Dalam Pengamatan Kwik Kian Gie

Nasib Rakyat Indonesia - Kwik Kian GieAda buku bagus, bahkan sangat bagus, yang terbit awal tahun ini.

Judulnya Nasib Rakyat Indonesia Dalam Era Kemerdekaan, buah tangan dari tokoh tua yang masih fit secara fisik dan mental, Kwik Kian Gie.

Pak Kwik sangat mengagumkan karena kejernihan pikirannya, ketajaman mata, lidah dan penanya, kejujurannya, dan keberaniannya yang hampir sulit dicari tandingannya; terutama bila yang dimaksud adalah mereka yang berdarah Cina. Ahok, misalnya, memang tajam dan berani. Tapi, dengan ketajaman lidahnya, Ahok sering kali tampil terlalu ‘boros’ mengumbar kata tidak layak. Dengan kata lain, lidah Ahok tak jauh beda dengan lidah preman jalanan. Sedangkan lidah Pak Kwik adalah, jelas sekali, lidah seorang intelek yang mencerminkan keunggulan pengetahuan.

Delapan Bidang Fundamental

Dalam bab 1, halaman 3, buku setebal 152 halaman plus daftar isi dan pengantar ini, Pak Kwik sudah memukau dengan memberikan gambaran ringkas dan jernih tentang sebuah bangsa dan negara yang sukses; yaitu yang memiliki 8 ciri keberhasilan demikian:

  1. Madiri dalam menentukan kebijakan di segala bidang.
  2. Memiliki mental dan moral yang tidak korup.
  3. Menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.
  4. Kokoh dalam persatuan dan kesatuan.
  5. Kondisi hankam yang kuat alias tidak rapuh.
  6. Terhormat di mata dunia internasional.
  7. Makmur, sejahtera, dan berkeadilan.
  8. Keadaan keungan negara yang tak terbatas (= kas negara tidak krisis).

Indonesia di ambang kejatuhan

Bila dalam bab 1 Pak Kwik membutuhkan 6 halaman untuk memaparkan kedelapan hal tersebut, dalam bab 2, yang menyimpulkan urian di atas, beliau hanya butuh setengan halaman untuk mengatakan demikian:

“Dalam berbagai seminar, pertemuan, diskusi, bahklan dalam perbincangan sehari-hari di mana-mana, pada umumnya orang berpendapat bahwa dalam 8 (delapan) bidang fundamental tersebut kita mengalami kemerosotan yang parah.

Dalam sejarah kehidupan bangsa-bangsa, gejala seperti yang sedang dialami oleh bangsa kita juga pernah dialami oleh bangsa-bangsa lain. Karena faktor-faktor yang tidak selalu sama, dalam kurun waktu tertentu yang bisa panjang atau pendek, sebuah bangsa dapat mengalami kemerosotan dalam segala aspek dan segala bidang kehidupan. Gejala seperti ini disebut malaise atau general melt down.

Karena faktor-faktor yang juga tidak sama, banyak bangsa yang mencapai titik kemerosotan yang terendah atau titik balik, yang disebut pencerahan atau aufklärung. Titik balik ini diikuti dengan awal masa jaya dalam segala bidang, yang disebut renaissance. Dengan terpilihnya Jokowi sebagai presiden belum terlihat tanda-tanda akan terjadinya aufklärung di Indonesia. Gejala-gejala yang kita saksikan justru sebaliknya, eforia orang-orang kaya dan yang berkuasa menyerupai eforia menjelang kajatuhan Kekaisaran Romawi (The Roman Empire).”

Selengkapnya, silakan baca buku ini, yang isi dan bentuknya sangat menyegarkan.

Dan tentu saja mengajak kita untuk merenung secara cerdas dan penuh harapan ke depan; yaitu untuk mencapai apa yang disebut Pak Kwik sebagai “Gerakan Kemerdekaan Kedua”. ***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: