Terorisme Adalah Game

Sesal

Entah mengapa, saya sering berpikir bahwa terorisme adalah sebuah atau semacam GAME (permainan komputer); yang semula diciptakan dan dimainkan oleh militer. Ya, terorisme adalah sebuah game perang; yang dimainkan demi menimbulkan ketakutan dan kekacauan di pihak musuh. Jelasnya, terorisme adalah permainan perang urat saraf, yang dalam konteks militer dilancarkan demi tercapainya demoralisasi alias keruntuhan morale (semangat tempur prajurit) di pihak lawan. Bila demoralisasi sudah terjadi, serangan secara fisik akan lebih mudah dilakukan, atau malah tidak perlu dilakukan, bila keruntuhan moral prajurit diikuti dengan ‘acara-acara’ diplomasi yang berujung pengakuan kekalahan. Selanjutnya, bisa ditebak bahwa yang akan terjadi adalah sebuah praktik penjajahan dan sebagainya.

Jadi, jelas, pada awalnya game ini adalah milik militer negara; yang ‘penciptanya’ tentulah para tokoh intelijen.

Pendek cerita, game ini kemudian diadopsi – sebut saja – oleh Palestina, sebagai cara pihak lemah yang terjajah untuk sekadar ‘mengganggu’ penjajahnya, Israel; yang bukan hanya kuat tapi juga didukung oleh Amerika dan Eropa. Selain itu, mereka juga ingin memancing perhatian dari pihak-pihak (negara-negara, bangsa-bangsa, komunitas-komunitas) lain. Siapa tahu mereka tergugah dan menaruh belas kasihan.

Teror-teror Palestina banyak tercatat dalam sejarah, dan tokoh terorisnya pun tercatat pula dengan tinta tebal, yakni – sebut saja – Yasser Arafat.

Dari sini kita bisa melihat bahwa istilah teror tercipta atau dipopulerkan oleh Barat; yang memandang Palestina (Timur) sebagai ‘pengganggu’ mereka.

Lalu, perlahan tapi pasti, Palestina pun diidentikkan dengan Islam…

Entah karena Arafat sebagai ‘teroris’ akhirnya berhasil menjadi presiden pertama Palestina, game terorisme pun diadopsi banyak kelompok yang lahir di Timur Tengah, yang secara gampangan dianggap sebagai wakil dari “Dunia Islam”. Maka dimulailah babak atau versi kedua dari game terorisme, yang mengidentikkan terorisme dengan Islam.

Babak kedua ini jelas merupakan bencana besar bagi umat Islam.

Bencana itu bukan berupa terhapusnya atau terminimalisirnya Islam, tapi merebaknya demoralisasi (keruntuhan morale) yang melanda umat Islam di seluruh dunia. Bagaimana tidak terjadi demoralisasi bila setiap ada peristiwa teror umat Islam jadi seperti tertimbun tanah longsor? Setiap peristiwa teror selalu menimbulkan dampak ‘malu hati’ bagi umat Islam, karena setiap mata dan telunjuk selalu mengarah kepada umat Islam.

Bila prajurit sudah kehilangan morale (semangat tempur), boro-boro mereka bisa dan mau berjuang. Yang ada, mereka hanya merasa dilolosi seluruh tulang dan dilumpuhkan seluruh otot. Ini lebih parah dibanding bila senjata mereka dilucuti.

Begitulah nasib umat Islam sekarang. Entah cara apa yang bisa berhasil mengubah nasib yang mahasial dan buruk ini. ***

***Bekasi, 20.29 WIB, 16 Januari 2016.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: