Persepsi, O Persepsi!

persepsi

Luka hati itu sebenarnya hanya persepsi, atau malah ilusi; karena hati yang batin itu sebenarnya tidak bisa dilukai, kecuali oleh diri sendiri. Karena itu, semakin matang kepribadian seseorang, semakin jarang (atau malah tidak lagi) merasakan sakit hati.
Contoh sederhana, misalnya, ketika orangtua ditampar atau ditendang wajahnya oleh bayinya, kenapa mereka tak marah atau sakit hati? Karena pada saat itu si orgtua menempatkan posisi bayi dan dirinya pada posisi yang benar. Si anak menampar atau menendang bukan dengan maksud menghina. Itu hanya gerakan-gerakan dari bayi yang sedang belajar menggunakan tangan dan kaki. Dan dia belum tahu apa itu menampar dan menendang.

Maka, ketika Nabi Muhammad dianiaya warga Tha’if, dengan dilempari batu dll., beliau hanya berdoa, “Tuhanku, beri petunjuk kaumku; karena sesungguhnya mereka tidak tahu…”

Jadi kalau msh sakit hati artinya jiwa kita belum matang?

 … atau blm sebesar spt yg dicontohkan Nabi Muhammad.

Tapi untuk mempraktekannya sulit banget. Kenapa ya?

Karena: 1. Butuh ilmu yang cukup; 2. Butuh latihan, latihan, dan latihan. Terutama latihan untuk mengubah cara pandang kita; dari cara pandang yang berpusat pada diri sendiri menjadi hanya berpusat pada Allah (dengan menerapkan ajaranNya).

Berarti butuh waktu dong?

 Iya.

Bagaimana dengan Nabi Muhammad sendiri? Apakah beliau sendiri butuh waktu yang lama untuk mencapai tingkat kebesaran jiwanya?

 Oh! Itu jelas sekali. Bila anda perhatikan kasus pelemparan batu warga Tha’if terhadap beliau, itu kan terjadi beberapa tahun, mungkin 2 atau 3 tahun, menjelang hijrah. Itu berarti bahwa beliau sudah menerima wahyu sekitar 10 tahun!

Jelasnya?

 Jelasnya, kepribadian beliau sudah ditempa dengan penerimaan wahyu dan pengalaman menda’wahkannya selama sekitar 10 tahun!

Jadi, eh, beliau tidak menerima kematangan pribadi itu secara dadakan (instant) ya?

Ya, ya! Tentu saja tidak. Bila beliau mendapatkannya secara dadakan, semata-mata karena beliau seorang nabi, maka apa yang didapat beliau tidak bisa didapat oleh umatnya.

Jelasnya?

 Pertama, sebagai nabi/rasul, beliau menerima wahyu. Kemudian, karena wahyu itu diajarkan beliau kepada kita, otomatis kita juga menerima wahyu itu. Cuma caranya saja yang berbeda. Tapi intinya kan sama saja. Wahyu itu diterima manusia dengan cara diajarkan. Bukan dengan cara ditiupkan ke dalam otak, atau dengan cara diinfus!

Terus…?

Penurunan wahyu adalah ‘demonstrasi dari sebuah sebuah metode pembelajaran massal. Selain itu, wahyu juga diajarkan secara kognitif (intelektual), afektif (feeling; emosional), dan psikomotorik (melibatkan peran fisik).

Jelasnya?

 Pertama, wahyu diajarkan, sebutlah, secara klasikal (guru berhadapan dengan murid). Ini bertujuan untuk memberikan informasi demi pembentukan wawasan hidup secara ilmiah. Kedua, wahyu yang sudah dihafal dan dipahami dibawa ke dalam shalat. Ini bertujuan untuk membuat pelaku shalat terpengaruh secara perasaan (emosional; feeling) oleh nilai-nilai wahyu; sehingga secara perlahan terjadi pembentukan ‘selera’ diri yang beraroma wahyu. Ketiga, wahyu yang sudah dipelajari diterapkan ke dalam kehidupan sehari-hari; untuk membentuk kebiasaan; yang kelak jadi kepribadian, jadi tradisi; bahkan akhirnya menjadi kebudayaan berspirit wahyu.

Wow!  Jadii  itu yang menyebabkan Nabi Muhammad begitu ‘mudah’ memaafkan kejahatan orang-orang Tha’if?

 Ya!  Tapi kejahatan dalam tanda kutip. Istilah beliau sendiri untuk mereka adalah lã ya’lamûn(a). Mereka tidak tahu. Bukan jahat.

Ooo… Jadi, cara pandang kita menentukan cara kita menilai sesuatu ya?

O, iya. Itu jelas sekali…!

***

 

Bekasi, 08.56, Jum’at, 27 Nov. 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: