Rekayasa Hina

Aqil Siraj2

Ini salah satu bukti bahwa sejarah bisa direkayasa (diplintir; dibikin sungsang, dsb.) demi kepentingan tertentu. Demi kepentingan Aqil Siraj yang memandang jenggot sebagai simbol kebodohan, maka foto Pendiri NU yang amat sangat dihormati pun diedit demi menghilangkan jenggot beliau. Ini jelas merupakan pemerkosaan dan pembohongan publik yang amat sangat menjijikkan.

Coba tanya Aqil Siraj, siapa yang menciptakan jenggot?  Bila dia menjawab Allah, tanyakan kepadanya (dan para pendukungnya) apakah Allah sengaja menunjukkan seseorang itu bodoh dengan menumbuhkan jenggot di dagunya?

Ketika gambar di atas saya unggah di facebook, ada teman bertanya. “Kenapa anda ikut-ikutan meributkan tentang jengngot?”

Saya bilang, “Bukan jenggot yang saya ‘ributkan’!  Saya hanya ingin menyatakan kekesalan terhadap orang dan para pendukungnya, yang menganggap jenggot sebagai simbol kebodohan, dan kemudian membuat rekayasa untuk membenarkan pernyataannya yang terlanjur diketahui publik.”

Lalu soal jenggot itu sendiri, bagaimana? Apakah anda sependapat bahwa memelihara jenggot itu hukumnya sunnah?

Bila anda menyebut kata sunnah dengan mengacu pada ilmu fiqh, maka saya harus mengatakan bahwa saya tidak sependapat?

Alasannya?

Dalam fiqh, sunnah (sering diucapkan sunat) berarti “dikerjakan berpahala, tidak dikerjakan tidak berdosa”. Dengan demikian, bila memelihara jenggot hukumnya sunnah, maka memelihara jenggot itu berpahala, dan tidak memelihara jenggot itu tidak bcerdosa.

Terus, memang ada sunnah dalam pengertian lain?

Tentu saja ada. Sunnah Allah (sunnatullah), misalnya, sering diartikan hukum alam. Kemudian, ada juga Sunnah Rasul, yang kadang diartikan hadis, kadang diartikan kebiasaan (tradisi) Rasul (Nabi Muhammad).

Nah, soal memelihara jenggot itu, bila dikaitkan dengan sunnah versi ilmu fiqh, mungkin tak akan menimbulkan keributan. Tapi, ketika dikaitan dengan kebiasaan Nabi Muhammad, mulailah timbul keributan.

Mengapa?

Karena setiap muslim harus mencontoh (meneladani) Nabi Muhammad.

Tapi, bila soal jenggot, kan tidak semua orang dianugerahi jenggot?

Memang. Makanya ‘keharusan’ itu hanya berlaku bagi yang dianugerahi jenggot saja, bukan untuk semua orang. Dengan demikian, bila kita bicara sunnah rasul, maka soal jenggot itu hanyalah masalah kecil. Paling tidak, soal itu bukanlah masalah pokok dalam penegakan Islam.

Ooo, begitu ya? Tapi kenapa belakangan ini ada ribut-ribut soal jenggot?

Itu karena ada perenyataan kontroversial dari Aqil Siraj, yang bersifat meremehkan dan atau menghina para pemelihara jenggot.

Tapi, mungkin tidak bila beliau sebenarnya hanya ingin menyindir para pemelihara jenggot yang kadang bersikap berlebihan?

Mungkin saja!  Tapi cara yang dilakukannya, dengan menganggap jenggot sebagai lambang kebodohan, bahkan dia bilang semakin panjang semakin bodoh, itu kan bukan cara yang benar. Apalagi ketika dalam deklarasi Hari Santri kemarin ada penampilan gambar KH. Hasyim Asy’ari yang sengaja dibuang jenggotnya. Itu sebuah rekayasa yang sangat tidak terpuji.

Comments
2 Responses to “Rekayasa Hina”
  1. desrizal says:

    Assalãmu’alaikum WW.
    Koq marah-marah Bang? He he he
    Btw, SAS ini bicara begitu mgkn krn jenggotnya gak mau numbuh kali Bang, ha ha ha!

  2. Ahmad Haes says:

    Ya, saya marah sekali, karena ada kebohongan berjamaah, dan pihak-pihak yang seharusnya marah malah bungkam semua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: