Konsep Budaya Tinggi Mulia (Terjemah tafsiriah surat Al-A’la – Studi Permulaan)

Sujud bareng

Belajar AlQuran - Zakir Naik

  1. Beredarlah kamu di bumi, menjalankan ajaran Allah, yang jelas bernilai tinggi tiada tara.
  2. Sebagaimana Dia telah mencipta alam semesta serta menata keseimbangannya;
  3. Yakni sebagaimana Dia ciptakan kepastian hukum alam, maka Dia pun mengajarkan petunjuk bagi kehidupan budaya.
  4. Selanjutnya, sebagaimana Dia menghamparkan padang rumput hijau (bagi hewan gembalaan; begitu juga Dia menghidangkan ruang dan waktu berbudaya saling asuh saling jaga).
  5. Maka perhatikanlah bahwa Dia telah rumuskan bahwa padang rumput hijau itu pasti mengering hingga warnanya menjadi coklat tua dimakan usia. (Begitu juga halnya ruang-waktu budaya; kelak tidak lagi hijau – kondusif – bagi penegakan budaya mulia).
  6. Maka, selanjutnya (setelah mengajarkan prinsip di atas itu), Kami akan bacakan (ajarkan) kepadamu (Muhammad) selengkap-lengkapnya; maka kamu janganlah mengabaikannya;
  7. Kecuali yang Allah kehendaki (agar kamu mengabaikannya); Karena Dia akan mengajarkan kepadamu segala yang kasat mata serta semua yang hanya bisa dipahami secara intelektual saja.
  8. Yakni akan Kami mudahkan pengajarannya, demi kemudahan pelaksanaannya.
  9. Maka sampaikan peringatan selagi itu berguna.
  10. Pastilah akan mengambil pelajaran setiap orang yang mengkhawatirkan masa depannya.
  11. Sebaliknya, pastilah akan mendepaknya jauh-jauh orang yang amat sakit jiwanya.
  12. Dia itulah yang senantiasa ingin mengobarkan kehidupan neraka seluas-luasnya.
  13. Sehingga orang menanggung derita seolah mati tak berkuburan dan hidup tak tentu tujuan.
  14. Sungguh telah berjaya orang yang membersihkan diri dengan ajaranNya;
  15. Yakni telah membangun kesadaran dengan ilmu pembimbingNya, dan selanjutnya hanya berharap untuk hidup dengan ajaranNya selama-lamanya.
  16. Tapi sayangnya, kehidupan dunia (status quo) selalu mencengkeram kesadaran kalian;
  17. Padahal kehidupan akhirat (alternatif hidup dengan ajaran Allah) jelas lebih baik dan abadi.
  18. Sesunguhnya hal ini juga sudah diajarkan melalui suhuf lama;
  19. Seperti, antara lain, dalam suhuf Ibrahim dan Musa.
Comments
2 Responses to “Konsep Budaya Tinggi Mulia (Terjemah tafsiriah surat Al-A’la – Studi Permulaan)”
  1. Haris Prasongko says:

    Assalamalaikum ……., saya ucapkan terima kasih atas kiriman email ini ….., dan akan saya gunakan sebaik baiknya …., dan semoga ini adalah awal dari perbaikan kehidupan saya dan yang lain menuju hidup berpedoman al quran ….., wassalamualaikum …..

  2. Ahmad Haes says:

    Komentar-komentar di Facebook:

    Avraham Naji Katanya di sumber lain: “Sucikanlah nama tuhanmu yang maha tinggi”, Mungkin tanpa mengaitkan dengan perintah ” Fasabbih bihamdi robbika wastagfir”, dan pernyataan “Sabbaha lillaahi maa fissamaawaati wal ardh!” (IMHO) smile emoticon asik lah bacanya apalagi klo faham tata bahasa… hehe
    Unlike · Reply · 1 · September 8 at 5:17pm

    Ian Csa bang Ahmad Husein, sy msh bingung dgn pengertian ahwa. mohon penjelasannya
    Like · Reply · Yesterday at 6:11am

    Ahmad Husein Kata أحوى di sini berasal dari kata kerja حَوِيَ – يَحْوَى – حَوًى , yang berarti: mewadahi; berisi; mengumpulkan; bergulung dsb. Kata bendanya berarti: warna gelap, terutama merah kehitaman dan hijau kehitaman; warna dari dedaunan yang mati. Dari akar ini, dalam Al-Qurãn muncul variasinya seperti hawãyã (حوايا), dan ahwã (أحوى). Kata ahwã dalam surat ini menempati posisi sifat dari ghutsã’an, yang bisa berarti jerami, rumput tua, daun tua, dsb., yang biasanya berwarna coklat tua, atau coklat kehitaman. Tapi dalam ayat ini tentu saja kata mar’ã dan ghutsã’an ahwã adalah perumpamaan bagi ‘padang’ atau ‘ladang’ atau sarana bagi penegakan iman. Bila dikaitkan dengan hadis kullukum rã’in wa kulli rã’in mas’ûlun ‘an raiyyatihi… maka jelaslah bahwa si rã’in (penggembala; pemimpin) dan raiyyah (gembalaan; rakyat), kedua-duanya berkiprah dalam atau membutuhkan mar’ã (padang rumput). Jelasnya, karena mar’ã ini adalah isim makan/zaman, maka untuk menegakkan iman itu memang membutuhkan waktu (kesempatan) dan tempat (wilayah).
    Like · Reply · 1 · Yesterday at 10:28am

    Ian Csa Dalam ayat lain, gutsa-an diterjemahkan sbg sampah banjir. Dalam kamus, selain berarti jerami, gutsa-an jg bs berarti sisa2/sampah. Di situ yg bikin sy bingung. Jika mar’a sbg sarana (ruang & waktu) pedukung iman (sebenernya kekafiran jg ada di mar’a), lalu gutsa-an sebagai ungkapan apa jika dikaitkan dgn ayat lain (sy lupa dlm surat apa, nnti sy edit klo udh inget) ?
    Like · Reply · Yesterday at 12:40pm

    Ahmad Husein Ghutsa-an/un memang bisa berarti sampah. Secara umum, ghutsa’ adalah runtuhan, rontokan, puing dsb. Tp dlm konteks padang rumput yg bisa berubah menjadi ghutsa’an, artinya bisa jerami, dedaunan kering, dan sebagainya. Apalagi dipertegas dengan kata ahwa, tidak logis bila diartikan sampah.
    Istilah mar’a (padang rumput; tempat penggembalaan) adalan kiasan (analogi) sejarah yg diambil dari alam tumbuhan.
    Ibarat tumbuhan, sejarah bermula dari benih/biji, berkembang jadi tunas dan seterusnya menjadi tumbuhan sempurna. Tapi setelah mencapai usia tua, terjadilah proses degenerasi, yg berpuncak pada kematian. Daun yg semula hijau berubah jadi coklat tua (ahwa).
    Sebagai ‘padang iman”, saya katakan di mar’a itu ada ra’in (penggembala, dan ada raiyyah (hewan gembalaan). Ini menggambarkan bahwa pembangunan iman berproses melalui pengasuhan, bimbingan, pengajaran, dan mungkin juga penghukuman, bila diingat kambing kadang harus dicambuk.
    Like · Reply · 1 · Yesterday at 1:59pm · Edited

    Ahmad Husein Di mar’a ada kekafiran? Tentu saja. Katakanlah bila yang sudah mu’min adalah para ra’in, maka otomatis para raiyyah adalah orang2 yang masih kafir, dalam arti mrk baru sedang diproses untuk menjadi mu’min yg sebenarnya.
    Like · Reply · 1 · Yesterday at 2:09pm

    Ahmad Husein Kata ghutsa’ juga ditemukan dlm surat Al-Mun’minun ayat 41, yang diartikan Dep-Ag sbg sampah yang dibawa banjir. Tapi ada jg yang mengartikannya “whitered leaves” (daun-daun layu), “rubbish of dead leaves” (sampah berupa daun-daun kering). Penerjemah Majlis Mujahidin malah mengartikannya buih.
    Like · Reply · 1 · Yesterday at 2:32pm

    Ian Csa Sip bang.. makasih atas pencerahannya.
    Like · Reply · Yesterday at 7:09pm
    Ahmad Husein

    Write a reply…

    Ajib Setya Budi Saya udah baca ini. Rasanya baca lagi baca lagi ada sesuatu yang terasa mrnggetarkan jiwa. Maturnuwun.
    Unlike · Reply · 1 · Yesterday at 8:15am

    Ahmad Husein Al-hamdu lillah… Masih perlu dikaji ulang, Mas. smile emoticon
    Like · Reply · Yesterday at 10:17am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: