Aqil Terlambat Dikhitan

20150711_124340

Kemarin, Sabtu 11 Juli 2015, Secara tak terduga, Aqil harus dikhitan.

Saya baru tahu sehari sebelumnya dari istri saya, yang telah mengontak orang di Rumah Khitan di Bekasi. Dan karena Sabtu pagi itu ada tugas mengajar sharaf kepada ibu-ibu komplek, saya tak ingat hal itu. Jadilah secara ‘mendadak’, saya mengantar Aqil dan emaknya ke tempat tersebut.

Masih banyak orang mengira bahwa tindakan kami mengkhitan bayi berusia 5 bulan adalah “terlalu cepat”. Padahal, bila ikut ajaran atau cara (sunnah) Rasulullah, seharusnya Aqil sudah ‘disunat’ selambat-lambatnya seminggu setelah lahir. Artinya, kelahiran dan sunat bayi adalah dua peristiwa yang hendaknya terjadi secara beriringan.

Kami pun (saya dan istri), sebenarnya ingin mengikuti ajaran Rasulullah, yang belakangan dibenarkan oleh para dokter. Mereka, para dokter, mengatakan bahwa sunatan di usia bayi baru beberapa hari justri tidak akan menimbulkan sakit, dan penyembuhannya bisa lebih cepat. Ingat saja bagaimana tali pusar bayi yang dipotong tak lama setelah kelahirannya.

Tapi, kami terhambat oleh ‘administrasi’ rumahsakit tempat Aqil dilahirkan. Selagi biaya operasi saja sudah menguras biaya lebih dari 20 juta (yang sebagian kami bayar dengan bantuan teman), ongkos khitan mereka minta lagi sebanyak 7 juta!

Kami mundur teratur. Lalu mencari tempat lain. Tapi, berbagai hambatan masih harus kami hadapi, sehingga Aqil baru bisa disunat setelah usianya 5 bulan lebih 3 hari. Di tempat yang kami sebut di atas, biaya khitan ‘hanya’ 1,4 juta, plus sekotak plastik barang yang disebut “kit perawatan” seharga 150 ribu! (Addaa aja objekan dokter!).

Aqil bersikap sangat manis. Sebelum operasi, dia tertidur pulas. Bahkan sampai ditaruh di meja tindakan, menunggu puluhan menit seorang dokter yang harus melayani banyak pasien sunat, dari bayi sampai aki-aki, Aqil masih pulas.

Sampai detiknya tiba, Aqil ‘dikeroyok’ dokter dan dua asistennya. Istri saya, yang sejak awal ‘rewel’ karena fobianya, takut Aqil begini dan begitu lah, akhirnya harus pasrah di ruang operasi yang sempit itu. Dia harus memegangi tangan Aqil, dan merayunya dengan kicauan-kicauan aneh tentang apa saja yang mampir di otaknya! Yang penting, ketegangannya sendiri bisa hilang!

 

Sumpah, saya rada bingung dengan rumitnya dokter menangani kerja potong titit bayi yang kecil dan lunak itu. Sekilas saya berpikir mereka itu amat sangat jauh lebih ‘bodoh’ dari para dukun sunat di kampung. Waktu saya disunat dulu, dalam usia 11 tahun (dan dianggap telat banget!), pagi-pagi Ayah (tumben!) menggendong saya ke sumur. Setelah dimandikan, saya didudukkan di sebuah kursi, lalu seorang lelaki paruh baya bersarung yang ganteng mengajak saya ngobrol santai. Entah apa yang dia perbuat! Tahu-tahu, katanya, saya sudah selesai dikhitan.

Lho, kok bisa? Kapan dia menangani burung saya? Hadeuh, pas saya memeriksanya, kok dia sudah botak?

Dukun sunat (orang Sunda bilang bengkong) tentu tidak menjual ‘kit perawatan’. Seingat saya, bengkong saya hanya memberi satu sachet bubuk yang oleh orang Sunda disebut solpatilamid (sulfanilamide?). Selanjutnya, saya harus sarungan dengan menyelipkan ‘tanduk’ sabut kelapa di depan, supaya burung saya tidak tersentuh kain. Dua hari kemudian, saya sudah bisa bercelana seperti biasa!

Tapi, tapi… Yang dilakukan dokter ini, duh aduh, burung Aqil disuntik bius di sana-sini, yang bisa membuat emaknya pingsan kalau dia melihat! Lalu mulailah gunting digunakan, satu, dua, tiga, entah berapa kali bunyi ‘krek’ saya dengar. Tahu-tahu burung Aqil sudah berlumur darah! Dan Aqil pun menjerit!

Loh, apa ya kerja obat bius itu? Kok anakku masih menangis kesakitan.

Selanjutnya, Aqil menangis dan menangis terus, di tempat khitan, di mobil, di sepanjang jalan, di rumah. Sampai-sampai saya jadi ikutan nangis. Merasa bersalah telah ‘menganiaya” makhluk kecil yang indah ini. Duh aduh, ya Allah what happen aya naon? Kumaha atuh ieu teh? Apa yang bisa saya lakukan untuk meredakan rasa sakit Aqil?

Dari sore sampai semalaman, Aqil terus menangis, dengan suara keras dan heboh. (Kata dokter tadi, anak lelaki mah memang begitu!). Selain harus berusaha meredakan tangis Aqil, kami (terutama emaknya tentu!) harus menjaga supaya Aqil tidak tengkurap (padahal dia lagi hobi-hobinya tuh!).

Burung Aqil dikurung dalam sebuah sangkar kecil dari plastik putih, untuk mengisolasinya dari sentuhan celana, selimut dan lain-lain. Kalau dia tengkurap, sangkarnya itu selain mengganjal tubuhnya, juga pasti bakal menyiksa burungnya!

Al-hamdu lillah, menjelang subuh ternyata Aqil sudah mengoceh seperti biasa. Entah apa yang diomongin dan dengan siapa dia ngobrol, Aqil kembali bercicit-cuit dan tertawa-tawa geli sendiri. Ini berarti rasa sakitnya sudah menyatakan goodby. Ya, sudah, pergilah kamu jauh-jauh dan jangan pernah balik lagi!

Aqil yang ganteng dan cemerlang, sudah selesai dikhitan. Emak dan abahnya girang bukan kepalang.

Terimakasih ya Allah.

Hidup kami jadi tambah asyik dan seru dengan hadirnya Aqil.

Itu anugerahMu. Dan kami tidak mampu menyatakan syukur yang selayak-layaknya.

Ampun, ya Allah, ampuuunnn!

 

Bekasi, 12 Juli 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: