Munajat Ramadhan

Bisa tidak sih jadi umat yang benar-benar damai?

Bisa tidak sih ber-Islam benar-benar tulus lillahi ta’ala?

Bisa tidak sih mema’afkan ‘ketidaktahuan’ teman

Karena kenyataannya kita seiman?

Bisa tidak sih memulai shaum Ramadhan

Tanpa meributkan hari H-nya?

Kalau merasa sama mematuhi Allah

Apakah kita selalu yang benar dan teman kita salah?

Di mana letak salahnya bila sebulan itu bisa 29 hari

Dan bisa pula 30 hari?

Bukankah itu pilihan yang diberikan Allah kepada kita?

Apa hebatnya yang tarawih 23 banding yang 11 saja?

Bukankah yang penting adalah isi shalatnya?

Ketahuilah bahwa Rasulullah mengerjakan shalat malam

Mulai dari yang minimal, 2 tambah 1, sampai 40 tambah 3

Dan seterusnya

Dan beliau tidak pernah memarahi umatnya

Yang memilih salah satunya, sesuai kemampuannya!

Bahkan beliau membenarkan seorang Badui

Yang hanya mau istiqamah pada shalat 5 waktu saja!

Bahkan Rasulullah melakukan qiyamu-Ramadhan sendirian

Menghabiskan Al-Quran terbaca entah berapa kali dalam sebulan

Sedangkan kita hanya mau shalat tarawih bila ada rombongan

dan itu pun dilakukan sambil bercanda dan dorong-dorongan

Tapi sudahlah

Itu pilihan kalian

Yang penting bgerhentilah saling menyalahkan

Pikirkankah tentang semboyan fastabiqul-khairat

“Silakan berlomba melakukan yang terbaik

Menurut paham dan usaha kalian!”

Dan bila kalian saling cela

Berarti semboyan itu omong kosong saja

Saling cela berarti sama-sama celaka

Kita ini ibarat penumpang di stasiun kereta

Bila terus saling sikut dan saling menjatuhkan

yang jatuh dan menjatuhkan sama-sama mengundang murka Tuhan

Karena keduanya sama membiarkan kereta berlalu tanpa penumpang

Bila kereta itu adalah Islam

maka Islam telah berjaya di masa lalu

Tapi telah hilang di masa sekarang

Islam itu tentang pasrah

Tentang tulus

Tentang ikhlas

Tentang lillahi ta’ala

Yakni bahwa segala amal kita diserahkan kepada Allah saja

Untuk menyusun konsepnya

Untuk mengajarkan teknik dan filosofinya

Untuk memberikan fasilitasnya

Untuk mengatur ruang dan waktunya

Berterimaksihlah untuk segalanya

Tanpa membanding-bandingkan dengan perbuatan teman

Seolah hanya kita yang paling mampu paham dan beriman!

Seolah untuk kita saja kasing-sayang Allah dicurahkan

Mari saling mendoakan kebaikan

Mari saling memaafkan

Mari masuki bulan Ramadhan

Dengan semangat pengabdian

Mari resapkan nilai Ramadhan

Dengan membuka lebar-lebar keinsafan

Tentang betapa hina dan lemahnya diri

Bila tanpa rahmat ilahi

“Sekali berarti (karena jadi hamba Allah)

Sesudah itu mati (khusnul-khatimah)”

“Wahai Allah, Pembimbing kami

Sungguh kami telah menanggapi seorang penyeru iman

– Rasulullah Sang Teladan pengabdian –

Maka kami pun beriman

Wahai Pembimbing kami – dengan iman ini –

Maka perbaikilah cara hidup kami yang penuh dosa

Dan tutuplah, yakni akhirilah, segala keburukan kami

Dan wafatlah kami bersama orang-orang yang baik

Yakni mereka yang imannya tak pernah miring ke Barat atau condong ke Timur

Tapi hanya menurut ajaranMu saja mereka hidup teratur

Bekasi, Selasa, 3.38, 2 Juni 2015

Comments
One Response to “Munajat Ramadhan”
  1. desrizal says:

    Aamiiin Yaa Rabbal ‘Alamiiin!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: