Ãqil Mujîbur-Rahmãn (Putra Kami)

Setelah mengalami pukulan batin karena bayinya terdahulu (2011) wafat di dalam kandungan, akhirnya Allah memberikan hiburan besar bagi istri saya, dengan kelahiran bayi keduanya…

Al-marhumah saya beri nama Salmah Fitya Irhamy, dan adiknya kini saya beri nama Aqil Mujibur-Rahman (عاقل مجيب الرحمان).
Kata pertama, Aqil(un) artinya orang yang berakal atau orang yang menggunakan akalnya, cerdas, pintar, tanggap, dsb.). Kata kedua, mujib(un), berarti penjawab, pengabul, penyambut, dsb. Kata terakhir, Ar-Rahman, adalah salah satu sifat Allah, Sang Pengajar Al-Quran.
Seperti kata Rasulullah, bahwa nama adalah doa; maka saya melalui nama ini berdoa (berharap; bercita-cita) agar putra kami ini menjadi manusia yang cerdas dan mau menggunakan akalnya (kecerdasannya) untuk membuatnya menjadi penyambut da’wah Allah, yang menawarkan Al-Quran, sebagai ilmu yang berkemampuan menciptakan kehidupan hasanah (baik) di dunia hingga akhirat. …
Semoga Allah mengabulkan harapan kami. Dan semoga semua teman, sahabat, saudara seiman mengaminkan, serta kelak ikut membantu mewujudkan harapan tersebut; dengan bersama-sama membangun lingkungan yang kondusif (mendukung; cocok) bagi terciptanya generasi yang diridhai Allah.

***
Ada peristiwa kecil yang tak terlupakan beberapa bulan sebelum Aqil mengisi rahim ibunya. …
Istri saya tak bisa melupakan putrinya yang wafat dalam kandungan tersebut. Saya sering melihatnya termangu-mangu dan kadang menangis tiba-tiba, sambil memanggil, “Salmah, Salmah…!”
Suatu hari, mungkin setahun yang lalu, saya semobil dengan seorang ibu yang membawa anak lelaki kira-kira berusia 3-4 tahun. Anak itu tampan dan cerdas. Ia terus mengajak ibunya berbicara, sehingga si ibu tampak agak kewalahan, tapi jelas tampak bangga dengan kepintaran putranya.
Entah mengapa, dalam batin, saya berdoa agar istri saya bisa berbahagia seperti ibu itu. Mempunyai anak yang tampan/cantik dan pintar. Dan saya merasa doa itu akan dikabulkan Allah.
Saya bukan tipe orang yang suka ‘mendikte’ Allah. Bagi saya, doa subjektif demikian tidaklah penting. Saya punya anak atau tidak, itu hak prerogatif Allah. Saya selalu katakan pada diri saya dan teman-teman, apa yang menjadi hak Allah, biarlah menjadi hak Allah. Apa yang menjadi hak kita, Allah pasti akan memberikannya.
Tapi, saya sangat ingin agar istri saya tidak bersedih karena kehilangan putrinya tersebut.
Akhirnya, doa saya (dan istri saya) memang dikabulkan Allah, dengan lahirnya putra kami ini: AQIL MUJIBUR-RAHMAN.
Terimakasih, Ya Allah. Bantulah kami agar mampu membimbingnya menjadi salah satu hambaMu yang baik.

*** VIDEO DI BAWAH INI DIBUAT SEKITAR 5-10 MENIT SETELAH KELAHIRANNYA. ***

Comments
2 Responses to “Ãqil Mujîbur-Rahmãn (Putra Kami)”
  1. desrizal says:

    Semoga senandung harapannya atas putera yang baru saja lahir ke dunia ini dikabulkan Allah SWT.

    Aamiiin Yaa Rabbal ‘Alamiiin!

  2. Ahmad Haes says:

    Syukran katsiran. Aamiin…🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: