Manusia Masa Kini, Makhluk Berceloteh

Balon berdandan

 

Manusia sekarang adalah manusia wacana alias tukang ngobrol, atau kasarnya manusia tukang ngoceh, ngaco belo, berceloteh, cuap-cuap, dan entah apa lagi istilahnya.

Jangan disalahkan (walau boleh dipertanyakan); karena sarananya memang ada dan semakin banyak variasinya. Dulu orang bertutur hanya dengan mulut, kemudian dengan alat tulis. Lalu ditemukan radio, telepon, televisi, komputer, handphone dengan berbagai gajetnya, internet dengan berbagai variasi media sosialnya. …

Makin lama, manusia makin tersaranai secara lengkap dan lebih lengkap untuk terus menjadi makhluk berceloteh. Bila dulu pepatah al-insãnu hayawãnu-nãthiq(u) hanya dipahami sebagai “manusia adalah makhluk yang (bisa) berbicara,” sekarang pengertiannya adalah makhluk pengoceh.

Sekali lagi, ini bukan untuk disalahkan; selagi dipahami bahwa hal itu terjadi karena adanya pengkondisian, adanya penciptaan peluang. Selain itu, manusia memang pemilik “lidah tak bertulang”, yang “tak terbatas kata-kata(nya)”, seperti kata syair sebuah lagu. Lagipula, berbicara bukan hanya cara untuk berkomunikasi. Dalam keadaan ‘tertekan’ (stres), berbicara (berteriak) adalah sesuatu yang dianjurkan para ahli ilmu jiwa, untuk mendapatkan hasil pengenduran.

Nah! Di kala kehidupan semakin lama semakin penuh persaingan yang menegangkan dan bikin stres, maka berceloteh adalah pelaksanaan dari teori ilmu jiwa tersebut!

Bercelotehlah, dan anda akan kendur!

Untuk itulah segala sarana dibuat; walau semakin canggih semakin mahal. …

Drama pelarian

Tapi  itu adalah ironi.

Manusia (yang seharusnya) sebagai pemegang amanah Tuhan, telah menyimpang…

Menyimpang, atau disimpangkan?

Sama saja. Intinya penyimpangan terjadi.

Bila mengacu sebuah hadis, manusia adalah makhluk yang suka berbuat salah dan lupa (lalai dan sebagainya).

Salah karena lupa, atau lupa lalu berbuat salah, adalah ‘kerjaan’ manusia.

Dan bila kita mengacu pada rujukan-rujukan agama, semua itu terjadi bukan karena faktor internal (batin; niat) si manusia sendiri; tapi karena faktor eksternal (godaan; arahan; pengkondisian).

Sederhananya, faktor eksternal itu disebut iblis, bila dia pasif. Dan dinakaman setan, bila dia aktif melakukan yuwaswisu fi shuduri-nãs(i). Yaitu melakukan penanaman rasa waswas dalam jiga manusia, sehingga timbul kekacauan atau kekaburan cara pandang; sehingga timbul ketidak-mampuan membedakan mana salah dan mana benar. Kalaupun masih bisa melihat kebenaran, penglihatannya sudah kabur. Alhasil, ‘kebenaran’ itu hanya tampak seperti kelap-kelip bintang di langit, yang tak mampu memberi penerangan sesuai kebutuhan.

Karena tak ada ‘penerangan’ yang pas, kebanyakan manusia jadi buta skala prioritas berdasar nalar ilmu. Alhasil, yang muncul sebagai pemandu pencapaian prioritas adalah perutnya, alat kelaminnya, dan instrumen-instrumen nafsu lainnya.

Tapi semua itu tak pernah bisa terpuaskan. Perut butuh kenyang, tapi lapar segera datang lagi. Birahi butuh penyaluran, tapi setelah itu membludak lagi. Nafsu-nafsu lain menuntut pelayanan, pelayanan, dan pelayanan melulu; dengan hanya memberikan sedikit tip (santunan recehan).

Ujung-ujungnya, manusia terjebak dalam komedi putar setan, yang terus berputar dan berayun-ayun menina-bobokan. Manusia menjadi tidur dalam bangunnya. Menjadi mati dalam hidupnya. Atau, seperti kata Al-Qurãn: lã yamûtu fihã wa lã yahyã. Manusia di dalam buaian neraka dunia ini menjadi tidak bisa dikatakan mati, tapi tidak bisa pula dikatakan hidup!

Bagaimana bisa dikatakan hidup, bila lupa amanah Tuhannya?

Tapi bagaimana pula bisa dikatakan mati, sedangkan semua ramai berceloteh?

Berceloteh tentang taburan bintang di langit.

Berceloteh tentang pekerjaan tak kunjung habis.

Berceloteh tentang suami/pacar yang ingkar janji.

Berceloteh karena terus menjadi jomblo.

Harga-harga yang naik tak turun lagi. …

Dan apa lagi?

Silakan anda celotehkan sendiri, di kamar mandi, dalam komunitas jagongan (obrolan) di pos ronda, dalam kelompok kasak-kusuk (kaskus), di facebook, twiter, atau apa lah!

Yaa, kalau memang masih betah berlalai ria dalam buaian setan!

 

*Bekasi, 6 Januari 2015.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: