Bersatu Bukan Melebur Tapi Menjalankan Satu Program Atau Menggarap Satu Projek Secara Bersama-Sama

Dunia2

Sekarang ini, bila ada orang berkampanye tentang persatuan, maka yang dimaksud adalah mengajak pihak-pihak lain untuk bergabung ke dalam partainya, atau agamanya, atau sektenya.

Setiap pendiri partai, ingin partainya membesar. Begitu juga para pemimpin agama dan sekte-sekte-(madzhab-madzhab)-nya. Tak ada partai yang didirikan untuk dimerjer. Tak ada agama dan atau sekte yang diajarkan untuk mengajak orang bergabung dengan yang lain. Semua berambisi untuk merekrut, bukan direkrut. Semua berobsesi untuk meleburkan, bukan dileburkan.

Otomatis, kampanye demikian tak akan pernah mencapai tujuan. Mengajak anggota partai lain masuk partai anda, berarti meremehkan partainya. Begitu juga mengajak orang lain masuk agama dan atau sekte anda, berarti ada menyalahkan (menghina!) agama dan atau sektenya! Dengan kata lain, kampanye demikian bukan ajakan bersatu, tapi tantangan berseteru!

Terus, gimana dong?

Tanya diri sejujurnya, untuk apa partai, ormas, agama dan atau sekte dibentuk? Untuk menyenangkan orang, atau untuk menyusahkan? Untuk memakmurkan atau untuk memelaratkan? Untuk menyelamatkan atau untuk mencelakakan?

Bila semua diadakan demi kebaikan manusia semata, kebaikan macam apa yang diinginkan? Kebaikan asumtif (angan-angan) atau kebaikan objektif (nyata)?

Kebaikan asumtif bertumpu pada kepercayaan, yang kadang dipaksakan, didogmakan. Sebaliknya kebaikan objektif dirasakan dan dinikmati secara nyata dan langsung. Tidak harus menunggu mati. Tidak membutuhkan alam akhirat.

Bukan tidak percaya alam akhirat. Tapi, seperti kata Al-Quran, kebaikan (hasanah) itu ada di dunia dan di akhirat. Dengan catatan kebaikan dunia harus hadir sebagai babak pertama.

Bagaimana menghadirkan kebaikan di dunia? Langkah pertama dan utama adalah menghadirkan manusia-manusia baik.

Bagaimana itu manusia-manusia baik? Dalam peristilahan Islam, manusia baik itu adalah Muslim. Apa itu Muslim? Orang yang tunduk-patuh-pasrah pada kehendak Allah; dengan cara menjalankan ajaran Allah seperti yang dicontohkan rasulNya.

Bagaimana menurut Kristen, Hindu, Buddha, dan lain-lain? Kurang-lebih samalah. Hanya beda bahasa dan susunan redaksinya, tapi intinya pasti sama. Bila meminjam pemikiran Nurcholis Madjid tentang pengertian islam, maka kata beliau: islam itu, secara harfiah tentu, adalah kepatuhan terhadap Tuhan. Anda boleh tidak sepaham dengan Nurcholis Madjid, tapi bagaimana pun ia telah berusaha menebarkan kesejukan. Paling tidak, Nurcholis Madjid mencontohkan satu cara untuk mengungkapkan bahwa untuk mematuhi Tuhan, anda tak harus masuk (agama) Islam. Tak harus takut dipaksa masuk agama Islam. Tak harus takut dengan Islamisasi. Tapi, tentu saja anda pun, bila bukan penganut agama Islam, harus bersikap menyejukkan juga. Misalnya dengan menegaskan bahwa untuk mendapatkan keselamatan itu tak perlu menjadi penganut Kristen!

Tapi pemikiran ini pasti ditolak banyak pihak, terutama yang merasa militan, dan terlatih untuk menjadi pengembang, untuk memburu target pembengkakan kuantitas umat! Bagi mereka, pikiran ini menghambat da’wah, menghalangi penginjilan dunia, dan sebagainya.

Tapi, bila pihak Muslim ingat bahwa “tak ada paksaan dalam agama”, dan non-Muslim juga bisa menerima ‘rumusan’ ini, maka da’wah dan atau propaganda itu memang tidak harus dipaksakan, tapi dibiarkan saja berjalan melalui mekanisme zaman. Bagaimana? Biarkan orang mendengarkan ceramah-ceramah, secara sengaja atau tidak. Biarkan mereka membaca tulisan-tulisan dalam buku, majalah, selebaran, internet, dan lain-lain. Biarkan mereka pindah agama secara suka-rela, dengan kesadaran sendiri. Tak perlu ada yang kecewa dan sakit hati. Lebih baik legowo saja. Menyadari bahwa manusia adalah makhluk bebas, dan hidup adalah pilihan. Dan agama adalah salah satu pilihan itu!

Tapi, yang bukan pilihan adalah bahwa kita lahir di Indonesia, misalnya. Kita tidak bisa memilih tempat kelahiran. Bahkan, ketika kita lahir sebagai bayi, kita juga tidak bisa memilih orangtua dari agama tertentu. Tahu-tahu, kita sudah Muslim/Muslimah, sudah Kristen, sudah Buddhis, sudah Hinduis, dan lain-lain. Terus, masalah buat loe?

Bayi mungkin tak punya masalah, karena mereka tak bisa memilih itu tadi. Tapi, orang dewasa menemukan masalah justru karena kemampuannya memilih. Mengapa? Karena, setelah memilih, ia mengklaim pilihannya sebagai pilihan yang benar. Tak sadar bahwa kebenaran yang disebut bukan kebenaran objektif, tapi hanya asumtif. Hanya kebenaran berdasar anggapannya, yang landasannya hanya khayalan, atau setidaknya keinginan. Intinya, semua bukan kenyataan.

Padahal, kita hidup di alam nyata.

Di Indonesia, misalnya, kita hidup di sebuah negara nyata. Bukan di negeri dongeng. Kita hidup sebagai satu bangsa, yang orang-orangnya menganut agama Islam, Kristen, Hindu, Buddha, dan lain-lain.

Agama apa yang harus dominan di Indonesia? Serahkan pada mekanisme zaman. Jangan ada pemaksaan. Serahkan kepada kebebasan manusia Indonesia sendiri untuk menentukan pilihan, baik secara individu maupun kelompok.

Namun, sebagai satu bangsa, kita harus punya projek bersama.

Apa?

Sebagai Muslim, dengan mengacu ajaran Islam dalam Al-Quran maupun hadis, saya melihat bahwa projek bersama para penganut agama Islam dengan seluruh madzhabnya adalah:

  1. Melenyapkan diskriminasi kelas dan gender. Dalam Islam tidak ada feodalisme. Tidak ada kerahiban (kependetaan). Tidak ada teori bahwa satu bangsa lebih unggul dari bangsa yang lain. Suami dan istri satu sama lain punya fungsi yang sama, yaitu sebagai “pakaian”. Bila bicara kemuliaan, dalam pandangan Allah, maka “yang paling mulia adalah yang paling bertakwa.
  2. Melenyapkan kemiskinan struktural. Yaitu kemiskinan yang terjadi semata-mata karena penerapan sistem kasta dalam masyarakat, sehingga orang tidak bisa menjadi lebih baik semata-mata karena kungkungan kastanya. Dengan lenyapnya kemiskinan struktural itu, kemiskinan objektif (karena cacat fisik/mental, penyakit, jompo, dan sebagainya) tentu tetap ada. Dan ini adalah lahan amal bagi negara serta para dermawan, untuk menolong mereka.

Bagaimana untuk skala bangsa? Kita sudah punya Pancasila dan UUD 1945 (yang sudah direvisi berkali-kali!). Bila keduanya dilaksanakan “secara murni dan kensekuen”, oleh kita semua, sebagai “projek nasional,” bisa dipastikan bahwa kedua projek di atas bisa cepat selesai.

Lalu bagaimana dengan pihak-pihak yang menganggap Pancasila sebagai konsep bikinan manusia, yang bila dijadikan sebagai “rumus pemersatu” berati menganggapnya lebih tinggi dari agama Allah?

Jawabannya gampang: Silakan anda ajukan rumusan dari agama Allah, yang bisa diterima oleh para penganut agama lain yang ada di Indonesia!

Bila tidak, jangan nangis dulu! Ingat bahwa Rasulullah pun pernah mengecewakan para pengikutnya dengan membuat Perjuanjian Hudaibiyah. Tapi kemudian terbukti bahwa melalui perjanjian itulah perjalanan sejarah Islam bisa menjadi lebih mulus.***

 

*Bekasi, Selasa, 6 Januari, 03.24, 2015.

Comments
3 Responses to “Bersatu Bukan Melebur Tapi Menjalankan Satu Program Atau Menggarap Satu Projek Secara Bersama-Sama”
  1. desrizal says:

    “Extra-ordinary” tapi benar2 “excellente”.
    Makasih Bang!

  2. Ahmad Haes says:

    Terimakasih utk dukungannya bro!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: