Sederhana Tapi Sulit…

 

A: Selama ini hidup saya galau. Nasihati saya, apa yang harus saya lakukan mulai awal tahun ini ke depan?
B: Berikan apa yang  kamu punya, dan jangan minta apa yang orang punya.
A: Tapi, saya tak punya apa-apa.
B: Bukankah kamu punya muka?
A: O, iya, tentu saja.
B: Berikan senyum! Dan jangan menuntut orang lain tersenyum.
A: Kenapa?
B: Karena bila orang lain tidak tersenyum kepadamu, mungkin dia sedang punya masalah. Atau, bisa jadi kamu punya salah kepadanya, tapi kamu tidak menyadari.
A: Hm, ya, ya. Cuma itu?
B: Tentu kamu punya hati juga kan?
A: Iya lah.
B: Berikan doa-doa terbaikmu untuk orang lain.
A: Kenapa?
B: Karena itu akan memantul kepada dirimu sendiri.
A: Lho, jadi doanya berpamrih dong?
B: Bukan berpamrih, tapi berdampak. Bila kamu doakan supaya orang rajin mengaji, misalnya, otomatis kamu akan rajin mengaji. Dan begitu seterusnya.

A: Ooo, jadi itu salah satu manfaat berdoa ya?

B: Ya. Ingat! Kehidupan mu’min itu dibingkai dengan doa!

A: Jelasnya?

B: Dari bangun tidur hingga tidur lagi, kita menjalankan ritual doa. Apa pun yg kita lakukan, ada doanya. Minimal “bismillah…” Bila kita perhatikan makna doa-doa itu, kita akan tahu bahwa dengan berdoa, melalui doa-doa, sebenarnya Allah mengajar kita untuk secara perlahan tapi pasti membangun akhlak mulia.

A; Ooo, begitu ya? Lalu, bagaimana dengan shalat?

B: Shalat juga pada hakikatnya adalah doa. Seperti kata Rasulullah: ash-shalatu hiya-du’a. (Shalat adalah doa). Dengan catatan, shalat adalah doa yang lebih lengkap.

A: Lebih lengkap bagaimana?

B: Bukankah dalam shalat kita membaca Al-Quran? Bukankah semakin bervariasi bacaan shalat kita, berarti doa kita menjadi semakin banyak?

A: Iya. Tapi kenapa harus banyak?

B: Bukanlah Al-Qurãn itu berisi ajaran Allah? Bukankah semakin banyak kita membacanya berarti semakin tahu ajaranNya?

A: Lalu, dengan semakin tahu ajaranNya?

B: Berarti kita tak lagi kurang ajar!

A: Maksudnya?

B: Kita sering ngomong “kurang ajar”, tapi tak tahu maksud sebenarnya. Kurang ajar itu kan sebenarnya kurang belajar, kurang berilmu!

A: Ooo, begitukah? Baru tahu… Terus, jadi  harus banyak menghafal Al-Qurãn
dong?

B: Ya iyalah! Supaya doanya jadi semakin mendekati doa Allah!

A: Mendekati doa Allah?  Memangnya Allah berdoa? Ada-ada saja!

B: Bukan ada-ada saja, tapi memang begitu adanya!

A: Bagaimana cara Allah berdoa? Dan kepada siapa Dia berdoa?

B: Dengan menurunkan Al-Qurãn ! Dan berdoanya kepada manusia!

A: Wah, saya tidak mengerti ini!

B: Bukankah berdoa itu artinya meminta atau mengharap?

A: Iya?

B: Bukankah dengan menurunkan Al-Qurãn, Allah meminta atau berharap supaya kita hidup Al-Qurãn?

A: Ooo, begitu maksudnya?

B: Dan doa Allah tentu bukan untuk kepentingan diriNya…

A: Karena Al-Qurãn diturunkan untuk kepentingan  kita?

B: Iya.
A: Oke, oke. Selanjutnya?
B: Coba itu saja dulu…
A: Baik. Akan saya coba nasihat sederhana ini, walau sebenarnya tidak mudah juga ya?
B: Semua sulit, pada mulanya. Tapi akan mudah bila dilatih.

 

*Bekasi, 1 Januari 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: