Teknologi Canggih Belum Mampu Memastikan Titik Hilangnya Pesawat

Kesibukan para pencari... (gamb. Antara, Eric Ireng).

Kesibukan para pencari… (gamb. Antara, Eric Ireng).

28 Des. 2014

GILLIAN MOHNEY

 

Hilangnya pesawat AirAsia QZ8501 kembali menarik perhatian sehubungan dengan sulitnya menemukan titik jatuhnya pesawat tersebut, walau menggunakan peralatan berteknologi canggih.

Belum jelas apa yang digunakan untuk mencari AirAsia, tapi para ahli mengatakan walau menggunakan teknologi terbaik pun, tetap masih sulit untuk menemukan lokasi jatuhnya sebuah pesawat secara cepat.

Mereka bilang, pesawat seharusnya mempunyai transponder untuk berhubungan dengan radar yang dijalankan pengawas perjalanan udara selama penerbangan.

Trasponder bekerja dengan cara mengingatkan pengawas lintas udara tentang lokasi pesawat dan gerak-geriknya.

“Radar mengirim isyarat yang menanyakan ‘Siapa anda?’ dan pengawas mengirim sinyal basalan,” kata konsultan penerbangan Alan Diehl, yang pernah bertugas pada National Tansportation Safety Board.

Pesawat juga seharusnya mempunyai sistem komunikasi yang memungkinkan para pilot dan pengawas penerbangan mengirimkan pesan-pesan secara digital,” kata Diehl pula.

Bila transponder tak berfungsi, apakah atas kehendak petugas atau karena kerusakan, maka pengawas penerbangan bisa mencari sinyal-sinyal tak dikenal pada radar, untuk memastikan apakah pesawat masih di udara, sambung Diehl.

John Nance, analis penerbangan pada ABC News dan veteran kapten penerbangan, mengatakan bahwa AirAsia bisa ditandai lokasinya melalui lampu daruratnya bila mengalami kerusakan.

Lampu darurat tersebut, dapat memacarkan sinyal baik melalui satelit yang terhubung langsung atau dengan mengirim pesan melalui gelombang radio, ketika terjadi kecelakaan. Itu dirancang untuk membantu para petugas menemukan pesawat yang hilang. Tapi Nance mengatakan bahwa lampu tersebut tidak bisa berfungsi baik bila tidak terlempar dari pesawat yang mengalami kerusakan.

Nance juga mengatakan lampu tersebut di masa lalu sangat membantu dalam kecelakaan yang terjadi di atas tanah (bukan di laut).

Alhasil, pesawat-pesawat pencari dan kapal-kapal penyelamat harus malang melintang di kawasan yang luas, di tempat pesawat luput dari radar, seperti yang terjadi dengan pesawat MH 370 milik Malaysia.

Dalam kasus MH 370, setelah transponder tak berfungsi (disabled), pesawat masih di udara. Selagi pesawat masih terbang, ia tidak terhubung langsung dengan pengawas untuk memberi tahu mereka lokasi dan gerak-geriknya.

Pesawat Malaysia tersebut juga mempunyai peralatan semacam kunci dari perusahaan telekomunikasi Inmarsat, yang memungkinkan pesawat mem-ping sebuah satelit, meski transpondernya tidak aktif.

Sebagai hasil pengumpulan data Inmarsat, para petugas akhirnya bisa mengetahui bahwa MH370 terbang berjam-jam sebelum transpondernya berhenti bekerja, dan tampaknya mengalami kecelakaan di Samudera Indonesia.

Namun, AirAsia tidak dilengkapi perlatan dari Inmarsat technology. Demikian menurut email dari jubir Inmarsat Chris McLaughlin.

Bila tidak ada tanda penemuan lokasi pesawat, tim pencari bisa menggunakan mikropon bawahair, untuk memeriksa kalau-kalau mereka bisa mendengar sebuah ping (isyarat) dari kotak hitam pesawat. Semua kotak hitam mempunyai locater pinger (pemberi tahu lokasi) yang bisa bertahan 30 hari, sehingga kapal-kapal pencari bisa mengetahui lokasi pesawat lebih mudah. ***

*Sumber: ABCNEWS.COM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: