Adakah Tempat Bertanya Lebih Baik?

alquran2

App Quran2

Empat hari lagi tahun 2014 berlalu.
setiap awal tahun kita selalu membahas tentang perbaikan hidup …
Sekadar basa-basi atau sungguh-sungguh?
Bila sungguh-sungguh, apa ukurannya bahwa kita menjadi lebih baik?
Para Muslim/Muslimah seharusnya merujuk kitab sucinya (!).
Adakah tempat bertanya lebih baik dari Allah?
Adakah kitab yang lebih baik dari Al-Quran?
Sebuah hadis jelas tegas menyatakan bahwa keunggulan Kitabullah dibanding seluruh “kalam” (wacana dalam bentuk apa pun), adalah sama seperti keunggulan Allah dibanding seluruh makhlukNya.
Tapi mengapa kita tak pernah begitu peduli terhadapnya?
Memang kita sering berbicara tentangnya…
Tapi kapan kita biarkan dia sendiri yang ‘berbicara’ kepada kita, sebagai wakil Allah,yang telah menempatkan kita begitu mulia sebagai lawan bicaraNya?
Tidak paham?
Tentu saja tidak, bila kita selalu menghindar jadi lawan bicara Allah. Selalu tak sempat mempersiapkan diri untuk itu.
Kita selalu bersemangat, sangat antusias, ketika menyimak pihak-pihak selain Allah. Kita selalu terpukau oleh sabda para tokoh motivator, penulis, filsuf, kiai, ustadz, dan sebagainya. Selalu bergairah memenuhi ajakan dan panggilan banyak pihak di lingkungan kita di dunia ini. Apalagi bila ajakan dan panggilan itu ada duitnya. Ada keuntungan sosial-ekonominya. Lebih-lebih bila ada gengsinya!
Begitu hebatnya kita menilai gengsi di hadapan manusia.
Dan begitu rendahnya kita menilai gengsi di hadapan Allah.
Padahal, bila kita nanti pulang, arwah kita tak akan pulang ke Amerika, ke puncak Everest, atau planet Mars.
Kita pulang, konon, ke tempat yang disediakan Allah…
Apakah memang kita hanya mengingat hal itu sebatas konon katanya?
Sebagai berita yang sampai secara sayup-sayup (samar)?
Ya. Tentu saja berita itu akan selalu sayup (tak mengenai sasaran) bila kita selalu mengelak, atau bahkan menjejalkan penyumbat pada telinga. Atau lebih gawat lagi, kita membiarkan hati kita berpenyakit?
Kapan sebenarnya kita benar-benar melakukan perbaikan diri sebagaimana petunjuk ilahi?
Kapan siap jadi penyimak firmanNya?
Menunggu mata rabun, gendang telinga beku tertimbun, dan otak pikun?
Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna. Begitu kata pepatah moyang kita. Menyadari diri sejak dini pasti berarti. Sebaliknya, sadar belakangan – seperti Fir’aun! – tidak ada gunanya. Insaf setelah nyawa siap lepas landas dari tenggorokan adalah percuma!
Sekali lagi, adakah tempat bertanya lebih baik dari Allah? Adakah rujukan lebih baik – untuk memastikan posisi diri – selain kitabNya?
Pastikan langkah efektif
Memperbaiki diri tidak cukup dengan hanya berwacana.
Tidak cukup dengan hanya berdoa dengan doa-doa subjektif.
Perbaikan diri hanya bisa terjadi bila kita menyambut doa (= da’wah) Allah, yakni Al-Qurãn.
Bila tidak, tak ubahnya tanaman yang gagal, semua doa menjadi hampa, karena sejak awal sudah salah memilih benihnya.

*Bekasi, 27 Desember 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: