Apakah Beda Antara Nasib Dengan Takdir?

Takdirku

Demikian seorang pemuda bertanya kepada saya melalui inbox Facebook.
Karena ruang dan waktu yang sempit, saya menjawab demikian: Nasib adalah “keadaan kita sekarang”; sedangkan takdir adalah sebutan lain (salah satu nama) Al-Qurãn yang berfungsi, antara lain, memastikan apakah keadaan kita sekarang ini baik atau buruk menurutNya.”
Terus-terang, jawaban ‘sederhana’ itu tidak memuaskan diri saya sendiri.
Seperti kata para ahli agama, pembicaraan tentang nasib, dan khususnya takdir (taqdîr) adalah sesuatu yang tidak atau belum pernah selesai.
Mengapa?
Karena: (1) Manusia tak pernah berhenti bertanya tentang itu; (2) Jawaban-jawaban yang diberikan masih diakhiri dengan frasa wallahu a’lam … Allah lebih tahu tentang itu, atau hanya Allah yang tahu kebenarannya. Kalau memang begitu, mengapa mereka terus mencoba untuk menjawab pertanyaan tentang itu?
Belakangan, saya melihat ada kesalahan metodologis atau kesalahan prosedur dalam memahami istilah – terutama – taqdîr (تقدير). Selama ini – seperti tersirat dari frasa wallahu a’lam yang sering digunakan sebagai penyimpul, pemahaman tentang takdir selalu dikaitkan dengan dzãt (pribadi; oknum) Allah; sehingga ketika para ahli memberikan jawaban, maka jawaban mereka hanya bersifat ‘menebak-nebak’ pandangan Allah. Dengan kata lain, mereka hanya berspekulasi. Dan malangnya, mereka suka ‘mencabut’ spekulasi mereka dengan frasa wallahu a’lam tersebut.
Lantas, bagaimana bila kesalahan metodologis itu dikoreksi, misalnya dengan ‘melepaskan’ istilah takdir dari oknum Allah?
Bagaimana caranya?
Mudah sekali!
Selama ini, banyak orang tahu bahwa Rasulullah melarang kita memikirkan dzat Allah melalui sabdanya yang terkenal: Tafakkarû fi khalqihi wa lã tatafakkarû fi dzãtihi. (Pikirkanlah tentang ciptaanNya, tapi jangan pikirkan tentang diriNya). Tapi mungkin mereka mengira bahwa yang dimaksud adalah ‘memikirkan’ dalam arti (hanya) membayangkan wujudNya seperti seseorang membayangkan calon jodohnya. Padahal, hadisnya jelas bahwa Rasulullah hanya menyuruh kita untuk mengalihkan fokus pikiran, dari yang semula fokusnya ditujukan kepada diri Allah kemudian dialihkan kepada ciptaan-ciptaanNya.
Salah satu ciptaanya itu adalah adalah agamaNya. Yaitu Dînul-Islãm, yang konsepnya terdapat di dalam Al-Qurãn.
Jadi, ketika berhadapan dengan Al-Qurãn, misalnya, tentu saja kita tidak boleh mengabaikan Allah sebagai pencipta dan pengajarnya; tapi fokus perhatian kita jangan lagi pada Allah, tapi pada Al-Qurãn itu sendiri sebagai ilmu yang harus difungsikan menjadi petunjuk hidup.
Satu hal yang harus digaris-bawahi dalam hal ini adalah kenyataan bahwa Al-Qurãn berisi firman atau kata-kata Allah. Ini seharusnya menyadarkan kita bahwa Allah telah menjadikan Al-Qurãn sebagai alatNya untuk berkomunikasi dengan kita. Dengan kata lain, dan ini yang terpenting untuk disadari, Al-Qurãn adalah ‘wakil Allah’ untuk menyatakan segala kehendakNya atas kita, dan karena itu – otomatis – pertanyaan tentang apa yang Dia kehendaki terhadap kita sudah terjawab melalui Al-Qurãn!
Apa dampaknya bila kita menyadari bahwa Al-Qurãn berkeadaan seperti itu?
Seperti kata Ali, “Istanthiqil-Al-Qurãna!” Mintalah Al-Qurãn ‘bicara’! Mintalah Al-Qurãn menjawab setiap pertanyaan kita. Jadikanlah Al-Qurãn sebagai rujukan. Buatlah dia menjadi kamus hidup!
Bila Al-Qurãn sudah menjadi rujukan, sudah menjadi semacam kamus, maka kita tidak lagi perlu bertanya langsung kepada Allah; yang memang tidak bisa dilakukan kecuali oleh para pengkhayal.
Jadi, jelaslah bahwa Al-Qurãn seharusnya dijadikan furqãn (pembeda; pemilah) antara cara berpikir realistis-ilmiah dengan cara berpikir mitologis-khayaliah. Berpikir ilmiah adalah berpikir dengan mengacu pada sebuah buku rujukan. Sebaliknya, berpikir khayaliah alias mistis, adalah berpikir dengan mengacu pada kepercayaan, atau tepatnya pada hati, dan sering kali mengabaikan pembuktiaan. Pokoknya percaya. Titik. Itulah semboyan pemikir mistis.

Pengertian nasib dalam Al-Qurãn
Nasib (nashîb; نصيب) secara harfiah antara lain berarti bagian, saham, peran, posisi, status, dan lain-lain.
Dalam surat An-Nisa, misalnya, kata nashîb kita temukan beberapa kali digunakan dalam pengertian “bagian” harta yang bisa diterima oleh para ahli waris. Sedangkan dalam surat Al-Qashash ayat 77, pengertiannya boleh jadi bukan bagian yang bisa diterima, tapi “saham” yang harus diberikan seseorang. Pada ayat ini jelas disebut nama Qarun yang merupakan kaum Musa, yang namanya memunculkan istilah harta Qarun, dalam arti harta yang terpendam; karena kekayaan Qarun yang sangat luar biasa itu akhirnya ditenggelamkan Allah ke dalam tanah…
Mengapa Qarun bisa mengalami ‘nasib’ (posisi) demikian?
Kemungkina besar, sebagai kaum Musa, yang tentunya menerima da’wah Musa, Qarun tidak mengindahkan seruan Musa untuk memberikan “saham” atau “ambil bagian” dalam perjuangan da’wah Musa.
Coba kita perhatikan terjemahan tim Departeman Agama RI atas ayat dua ayat Al-
Qashash di bawah ini:
76. Sesungguhnya Karun termasuk kaum Musa, tetapi dia berlaku zalim terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. …
77. Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. …
Khusus untuk terjemahan untuk ayat 77, mari kita perhatikan bahwa Qarun tentunya merupakan sasaran da’wah Musa, dan Musa otomatis menjadi penda’wah atau ‘guru agama’ baginya. Selain itu, kita tahu pula bahwa Qarun adalah salah seorang pejabat Fir’aun, kendati dia adalah pendatang di kerajaan Fir’aun (Mesir). Di lain pihak, Musa datang ke Mesir justru hendak membebaskan Yahudi dari kekuasaan Fir’aun. Konteks inilah yang seharusnya melandasi pandangan kita untuk memahami arti kata nashîbaka (bagianmu) dalam ayat ini.
Pada umumnya “bagianmu” tersebut dipahami sebagai jatah yang berupa rejeki duniawi, sebagai ‘panjer’ dari pahala akhirat! Tapi pemahaman ini sebenarnya tidak nyambung dengan konteks Qarun yang adalah pejabat dan atau kroni Fir’aun yang kaya raya.
Yang logis dan wajar adalah bila Musa meminta Qarun “ambil bagian” atau memberikan “saham” dalam perjuangan da’wahnya. Dengan demikian, terjemahan yang masuk akal dari ayat 77 adalah sebagai berikut:
Maka kejarlah apa yang Allah anugerahkan (janjikan) kepadamu tentang “Negeri Akhirat” (jannah), tapi jangan abaikan “bagian” (atau “peran”) yang harus kamu mainkan di dunia ini (dalam mendukung da’wah Musa). …
Jadi kata nashîbaka di atas sewajarnya harus mengacu pada posisi Qarun di dunia yang sangat baik, yaitu sebagai pejabat dan orang kaya; yang untuk itu dia layak diminta untuk memainkan perannya dalam da’wah, atau layak memberikan sahamnya dalam perejuangan da’wah yang dipimpin Musa. Ayat ini adalah peringatan bagi para pejabat dan orang kaya untuk bisa memberikan sumbangsih mereka dalam perjuangan da’wah. Secara umum, ayat ini mengingatkan agar kita memeriksa diri sedemikian rupa (teliti), untuk memastikan peran (saham) apa yang bisa kita berikan bagi kepentingan da’wah agama Allah. Ambillah bagian dalam da’wah, sebagai apa saja. Berikan saham anda, sekecil apa pun. Jangan sampai anda mendapat bagian (nasib) celaka seperti Qarun.

Pengertian takdir

Terlepas dari berbagai tafsir tentang istilah takdir yang sudah beredar selama belasan abad, dan langsung mengacu kepada Hadis Jibril (hadis yang berisi dialog antara Rasulullah dengan Jibril), maka kita bisa cepat menyimpulkan bahwa (definisi) takdir adalah “sesuatu yang memastikan setiap orang menjadi baik atau buruk.”
Dan harap diperhatikan bahwa baik atau buruk setiap orang ini sama sekali tidak berkaitan dengan keadaan fisiknya dan jumlah hartanya. Pembicaraan tentang takdir, bila acuannya adalah Al-Qurãn dan hadis, sasarannya hanya keadaan baik atau buruk dalam konteks agama dan atau iman.
Bila kita angkat kembali kasus Qarun, jelas Al-Qurãn menggambarkan bahwa dia mempunyai kekayaan yang angat sangat banyak, sehinga kebanyakan orang menjadi iri hati terhadapnya. Tapi, karena pilihan imannya yang salah, harta itu hanya membuatnya mendapat nasib (status) buruk dalam pandangan Allah.
Jadi, bicara takdir pada hakikatnya adalah bicara tentang nilai baik-buruk sikap setiap orang menurut qadar (ukuran; ketentuan; kepastian) Allah, yang diajarkan melalui kitabNya. Dengan demikian, jelaslah bahwa takdir kita (baik atau buruk menurut ukuran ajaran Allah) adalah sesuatu yang bisa diikhtiarkan, alias bisa dipilih. Dengan kata lain, takdir kita itu sebenarnya “ada di tangan kita”. Kita menggenggam takdir baik, bila mau hidup dengan ajaran Allah. Sebaliknya, kita terpuruk ke dalam takdir buruk, bila menolak ajaran Allah. Kaya atau miskin; bagus atau buruk rupa, bukan masalah. Innallaha lã yanzhuru ila shawarikum, wa lakinallahu yanzhuru ila ma fi qulubikum. Sesungguhnya Allah tidak melihat (menilai) keadaan fisik kalian, tapi Ia melihat (menilai) apa yang ada dalam hati kalian. (Hadis). ***

*Bekasi, Sabtu, 6/12/ 2014, pukul 08.13 a.m. WIB

Comments
2 Responses to “Apakah Beda Antara Nasib Dengan Takdir?”
  1. bambang says:

    Saya ingin mendonload semua kiriman tp gk bs caranya bgm ya pak maaf trmksh wasalamualikum

  2. Ahmad Haes says:

    Wah, saya tidak tahu itu. Coba tanya kpd ahlinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: