Sakitku dan Halusinasi

 

Kemarin sore, demi menenangkan istriku dan kawan-kawan dekatku yang sangat peduli padaku, aku terpaksa pergi ke dokter. Seorang dokter lelaki tua memeriksaku. Di pembaringan, ketika aku tertelentang, ia menempelkan stetoskopnya di jantung, paru-paru dan perutku.Setelah itu ia menyuruhku duduk, lalu menempelkan stetoskopnya di leher, bahu, dan punggung bagian atas. Kemudian di tangan bagian atas pula. Sesuatu yang kukira aneh; karena setahuku stetoskop itu hanya alat untuk mendengarkan detak jantung. Rupanya berguna juga untuk mendengarkan paru-paru, organ perut,  aliran darah leher, bahu, punggung, dan tangan? Entahlah. Terserah dia.

Setelah itu, istriku bertanya,“Vertigo ya, Dok?”

“Ya, mengarah ke situ!” sahut si dokter sambil tertawa kecil.

“Ada hubungan dengan gula darah?” tanyaku.

“Ga ada,” katanya sambil terus menggoreskan tulisan-tulisan jeleknya di atas kertas berwarna hijau.

“Suka merokok?” tanyanya kemudian.

“Tidak!” sahutku.

“Kopi?”

“Suka. Suka banget!” sambar istriku.

“Kurangi kopinya,” kata si dokter.

Aku nyengir dalam hati. Dasar dokter tua. Kuno. Ga mengikuti perkembangan ilmu tentang kopi. Aku terus ngomel dalam hati.

Tapi, kalau hanya mengurangi kopi, tak ada masalah buatku. Aku memang suka kopi, tapi bukan pecandunya. Ada kalanya, yang membuatku agak heran juga, aku kadang merasa muak mencium bau kopi. Bila sudah demikian, aku akan berhenti ngopi, dan baru mulai lagi sampai hari yang tidak ditentukan. Mungkin sampai main ke rumah teman yang tahu aku suka kopi, dan dia senang sekali melayaniku dengan menghidangkan kopinya yang terbaik.

“Apa lagi yang harus dilakukan, Dok?” tanya istriku kemudian.

“Olahraga! Olahraga secara teratur, misalnya seminggu tiga kali.”

“Lari pagi?” tanya istriku lagi.

“Semua boleh. Yang penting teratur.”

Mungkin maksudnya aku harus berolahraga secara rutin. Dia tak tahu bahwa aku selalu berolahraga secara ruitin, dalam bentuk shalat, hehe.

Pak dokter minta upah memerikasaku 80 ribu rupiah. Selanjutnya empat macam obat kimia harus kami beli di apotek.

Dari keempat obat itu, ada yang harus kuminum sekali sehari, selebihnya dua kali sehari.

Tak lama setelah minum obat, aku mengantuk, lalu tertidur pulas sekali, sampai aku baru bisa bangun untuk shalat isya di waktu yang sudah mepet ke subuh, dan itu pun kulakukan sambil duduk. Astaghfirullah!

Selanjutnya, seharian hanya merasakan pening terus menerus. Tidak berat, tapi seperti menempel. Aku merasa kepalaku seperti terus dikitari  piring terbang mini, yang berputar mepet di kepalaku. Itu yang membuatku terus pening, dan selain itu, rasa pening itu pun berbaur dengan rasa mengantuk.

Istriku mencari informasi ke apoteker langganannya. Ia mendapat keterangan bahwa yang membuatku ngantuk terus adalah obat yang justru merupakan obat penghilang pening!

Al-hasil, seharian aku hanya bisa berbaring. Ngantuk tapi tidak bisa benar-benar tidur. Aku harus menggeletak terus, karena duduk bisa membuat pusingku tambah berat. Celakanya, sekarang aku tidak bisa lagi tiduran sambil membaca buku, karena mataku harus terus kupejamkan. Aku hanya bangun bila merasa sangat lapar dan haus, atau bila tahu waktu shalat tiba. Lagi-lagi aku harus shalat dalam posisi duduk, dan begitu usai shalat aku langsung  membaringkan badan di atas sajadah.

Sore tadi, ketika istriku pulang dari kantor, aku sempat marah kepadanya. Mengapa? Mungkin dia lupa bahwa aku sedang sakit, atau dia pikir aku sudah sembuh. Melihat aku masih terbaring dengan mata terpejam, ia lantas ngomong sesuatu yang tak enak didengar, bahkan sampai memberi kuliah segala. Aku jadi marah. “Cerewet kamu! Udah tahu orang lagi pusing, malah ngomong yang enga-engga!” bentakku, sambil melempar sajadah di kursi, lalu membanting diri di tempat tidur.

Entah berapa lama kami berdiam-diaman.

Aku tak tahu apa yang ia lakukan setelah itu.

Aku sendiri  hanya membolak-balik badan di tempat tidur. Pusing dan mengantuk kini berbaur dengan pegal di pundak dan lutut. Aku berharap ada ahli pijat refleksi datang memijat kakiku.

Entah berapa lama dalam keadaan demikian. Tiba-tiba aku merasa sedang berbaring di hamparan bulu yang tebal. Begitu lebar hamparan bulu itu, dan di ujungnya bertemu dengan kaki langit yang putih bersih.

Aku terbaring di atas hamparan bulu yang tebal, kepalaku berbantal lipatan tangan kanan.

Di manakah aku sekarang?

O, mungkinkah sekarang aku di alam kematian?

Tapi, di mana malaikat maut? Di ujung cakrawala sanakah? Tapi serasa lama menunggu dia datang! Dan dia tak kunjung datang. Bahkan aku merasa jarak diriku dengan maut masih sangat jauh.

Lalu di mana aku sekarang? Di alam halusinasi atau ilusi?

Apa yang sedang dilakukan obat dokter itu pada otakku?

Kesadaranku terasa timbul-tenggelam.

Kadang terdengar suara lonceng kamatian, tapi  hanya sayup-sayup sampai.

Tuhan, kaudatangkan maut, atau kaulanjutkan hidupku, aku tak akan memilih.

Mauktku adalah hakMu, dan hidupku adalah anugerahMu.

Tak ada satu pun yang buruk bagiku bila Kau yang  memilihkannya untukku.

Aku tak mau memilih. Aku hanya akan menerima apa saja yang Kauhidangkan.

“Abang mau makan siomay?” tiba-tiba terdengar suara istriku.

Agak lama aku bereaksi dengan menurunkan kaki dari tempat tidur. Lalu sambil berusaha membuka mata aku pun mencoba bangkit. Perlahan aku menuju ruang tamu. Di depan televisi sudah terhidang dua piring kecil berisi siomay.

Aku menyantapnya, disusul istriku.

Siomay belum terasa cukup enak.

Tapi jelas sekali bahwa aku masih hidup, dan baru lepas dari alam halusinasi atau ilusi.

Tuhanku, terimakasih.

Hari Ahad besok aku masih harus memimpin pengajian.

Aku juga masih ingin membuat video-video pelajaran bahasa, dengan istriku sebagai juru kameranya!

Lucu berbaur bangga setiap melihat istriku di belakang kamera.

Dia tak punya pengalaman, begitu juga aku. Hanya berbekal tekad, kami mengerjakan rekaman.

Aku hanya membekalinya dengan ‘teori’ yang kupungut dari sebuah skenario film.

“Pokoknya begini aja;  kamu lakukan long-shot, medium, close-up, dan big close-up. Itu artinya kamu ambil gambar jarak jaruh, jarak sedang, jarak dekat, dan lebih dekat lagi, sehingga orang hanya kelihatan wajahnya. Kalau kamu mau iseng, boleh juga nanti gambar Abang kamu ambli hidungnya doang, atau mulutnya doang. Pokoknya santai aja! Kamera ada di tanganmu, maka gerakkan sesukamu!”

Istriku tertawa. Mungkin ia ingat suka mengolok-olok lubang hidungku sebagai goa!

Dan hasil dari kuliah singkat itu adalah belasan video yang bisa anda saksikan lewat youtube.

Terimakasih istriku, sayang.

Maafkan bila aku kadang kasar sama kamu.

I love you so full, very very full! ∆

Bekasi, 0:34, 8 Agustus 2014.

Comments
One Response to “Sakitku dan Halusinasi”
  1. desrizal says:

    Cepat sembuh Bang!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: