Sakitku, Olga, dan ISIS

Aku 21 JUli 2014Sabtu, tanggal 2 Agustus, aku dan istri berencana melakukan ritual lebaran yang kesekian, dengan mengunjungi saudara yang 3 bulan lalu melahirkan bayi kedua (setelah bayi pertamanya meninggal). Tapi rencana itu batal karena aku tiba-tiba merasa pening ketika bangkit dari duduk. Esoknya, pagi-pagi kami berangkat untuk melanjutkan rencana kemarin.

Kunjungan berjalan lancar.

Pulangnya, kami mampir ke sebuah pusat belanja di dekat pasar Pondok Gede. Tapi aku sudah merasa agak pening dan ingin buang air kecil. Setelah itu, aku berusaha menjajari istri yang sudah masuk lebih dulu ke ruang belanja. Tapi rasa pening itu muncul lagi. Aku minta ijin istri untuk tidak mendampinginya berbelanja tapi menunggunya saja di luar.

Di luar ada dua bangku panjang yang kebetulan tidak dipenuhi banyak orang. Aku duduk dengan harapan rasa pening segera hilang. Tapi rupanya rasa pening itu memuncak, bahkan disusul dengan rasa mual. Ada sesuatu yang memberontak di perut, terus menyodok leher. Aku muntah. Untung di sampingku ada sebuah tempat sampah berbentuk tabung, terbuat dari logam, dan di atasnya ada selembar kertas iklan yang segera kumanfaatkan untuk mengelap mulut.

Satu-dua orang yang ada di dekatku menyingkir. Beberapa orang yang lewat tak ambil peduli. Mungkin memang mereka tidak tahu bahwa di kepala dan perutku sedang terjadi kekacauan. Tapi, kenapa ya aku kok berharap sangat agar ada yang membantuku untuk berdiri. Aku ingin sekali pergi lagi ke toilet yang terletak di lantai 2 itu. Aku ingin muntah sampah tuntas, dan terasa juga ingin buang air besar. Tapi tetap tak ada orang yang tahu, dan aku juga sebenarnya tidak ingin mereka repot.

Akhirnya, setelah berusaha menguatkan diri, aku berusaha mendekati tangga dan kemudian berjuang untuk bisa sampai di lantai 2. Terasa jauh sekali berjalan dari ujung tangga ke toilet yang terletak nun di ujung ruangan. Aku sempoyongan melewati dua petugas OB yang duduk di bangku kayu panjang berwarna putih. “Ya, silakan, Pak. Toilet pria di samping kiri,” kata salah seorang dari mereka, yang rupanya tidak tahu bahwa aku sudah hampir kehilangan kesadaran, dan toilet pria ada di sebelah kanan, bukan kiri.

Begitu ketemu ruang WC, aku menerobos pintu dan langsung menyemburkan isi perut. Perut terasa sakit luar biasa, tapi menjadi agak lega setelah isinya tertuang di lubang WC. Setelah itu, maaf, aku pun bersusah-payah membuka celana untuk BAB.

Kepala masih terasa pening sekali, dan aku pun tak sanggup membuka mata; karena setiap membuka mata rasa peningpun makin menyiksa. Untung aku tidak kehilangan kesadaran. Aku masih bisa berjongkok, BAB, menyalakan kran, menampung air di ember, menyiram kotoran, dan cebok.

Tapi aku belum mampu berdiri.

Entah berapa lama aku dalam posisi jongkok dengan mata terpejam.

Tiba-tiba teringat istri yang sedang berbelanja. Jangan-jangan dia sudah selesai dan mengira aku pulang duluan (seperti yang dia pesankan sebelumnya).

Aku mencari handphone di tas kecil yang tadi kugantungkan di pegangan pintu. Wow, baru ingat bahwa hp tadi kumatikan karena baterenya habis. Aku berharap hp masih bisa dihidupkan. Agak lama menunggu, ternyata hp masih bisa hidup, dan segera pula istriku menelepon. “Abang di toilet, muntah-muntah…” seruku.

“Bisa turun ga?” tanya istriku.

“Ga bisa! Kepala pening sekali…”

Tak lama kemudian, istriku menyusul. Dari kamar kecil aku langsung lemparkan celana panjang dan tas.

“Kaca mata di mana?” tanya istriku.

Aku tak menjawab. Dia akan menemukan kacamataku di saku celana. Aku duduk melumbruk di lantai, di depan kamar kecil, dengan mata terpejam. Kepala masih pening. Perut masih melilit-lilit. Aku muntah lagi. Istriku menawarkan minyak angin. “Ga mau! Baunya menambah pusing.”

Ketika istriku mencoba mengoleskan minyak angin ke leher, aku menolaknya. “Jangan! Masih keringatan! Perih!” teriakku.

“Mau minum teh hangat?” tanya istriku.

“Iya.”

“Manis?”

“Pait aja.”

Tak lama, terdengar istriku bicara dengan seorang pria. Dia minta tolong mencarikan teh panas. Setelah teh hangat (tidak panas) datang, aku langsung meminumnya. Dan itu rupanya merangsang muntah lagi! Selanjutnya, aku minta air teh panas, bukan hangat. Teh panas itulah yang kemudian meredakan amukan di perut, sehingga aku bisa mengubah posisi dari duduk ke berbaring, lalu berusaha mengenakan celana panjang, dibantu istri. Kemudian meneguk obat masuk angin.

Setelah merasa diri cukup rapi, aku berusaha untuk duduk, tapi belum sanggup. Entah berapa lama aku terus terbaring.

Istriku menelepon seorang kawan untuk minta bantuan membawaku pulang. O, rupanya sang kawan yang dikira tidak mudik itu justru sedang di Yogya. Istriku mengeluh bingung. Akhirnya dia menghubungi Reza Prawiranagara, teman ngaji dan teman sekantornya yang paling muda. Untung hari itu dia ada di kantor, sehingga istriku bisa memintanya untuk secepatnya datang.

Dengan bantuan Reza dan seorang pria, aku dibimbing ke luar. Ketika kulihat lagi bangku kayu putih tadi, aku segera melempar diri ke atasnya, berusaha meluruskan badan selurus-lurusnya, berharap mengurangi pusing.

“Kita ke rumahsakit ya, Bang?” tanya Reza.

“Ga usah. Pulang aja. Saya mau tidur,” sahutku.

Istriku dan Reza terus mencari bantuan untuk mengangkatku. Seseorang disuruh istriku mencari taksi. Tak lama kemudian aku merasa tubuhku digotong beberapa orang; mungkin empat atau lebih. Terdengar di antara mereka suara seorang wanita, yang terdengar simpatik, peduli dan penuh perhatian.

Akhirnya tubuhku didaratkan di taksi.

Sopir taksi menanyakan tujuan.

Istriku yang bingung hanya menjawab “terus aja, terus aja, ke sana, ke sana!”

Sopir taksi membentaknya, “Iya ke sana, tapi ke mana?” katanya dengan nada marah.

Aku merasa  jengkel pada si sopir taksi, tapi tak bisa bicara apa-apa.

Istriku memelas, “Maaf, Pak, saya sedang bingung…” katanya.

“Makanya jadi orang tuh kalau dalam keadaan begini harus sabar!” kata si sopir taksi sok bijak tapi masih terdengar nada jengkelnya. Kalau aku sehat, bisa jadi aku akan menjambak rambutnya, karena aku tak terima istriku dibentak-bentaknya.

Kira-kira sepuluh menit kemudian, sampailah di alamat kami. Aku berusaha bangun dan langsung setengah lari ke rumah. Reza menyusul, berusaha memapahku. Istriku bergegas membuka pintu, dan aku segera masuk, mencari tempat duduk, buka baju, celana, dan terus lari ke WC. Tapi belum sampai di WC aku sudah tak tahan mau muntah lagi. Aku jatuhkan diri di lantai, dan oek, oek, muntah lagi…

Akhirnya, istriku menggelar kasur kecil di lantai, mendandaniku dengan kaus dan sarung.

Aku mengelepar di kasur.

Masih pening…

safina-irchami

Istriku, 3 tahun lalu.

Entah berapa lama kemudian, wajah istriku menempel di wajahku. “Abang, udah baikan?”

“Iya…”

“Jangan sakit ya?”

“Ga…”

“Jangan begitu lagi ya?”

“Begitu gimana?”

“Kayak tadi itu… Aku takutttt!  Tadi perutku langsung kaku!”

Aku terhenyak.

Aku teringat istriku sedang hamil tiga bulan!

Aku ingat tiga tahun lalu hamilnya gagal, karena bayinya meninggal dalam kandungan, hanya beberapa hari lagi menjelang tanggal kelahiran…

Ya Allah selamatkan bayi kami.

Berilah istriku kekuatan.

Jangan sampai peristiwa traumatis itu terulang!

Terbayang ketika menyaksikan dokter memeriksa kandungannya. Masih terngiang sebagian kata si dokter, “Kistanya masih ada, tapi biarkan dia bersaing dengan si janin. Semoga si janin menang. Saya bantu dengan obat, ya?”

“Nanti, lahiranya dioperasi saja ya? Supaya bisa kita bersihkan sekalian kistanya!” kata sang dokter pula.

Ya, Allah, tolonglah, tolonglah, tolonglah…!

Tolong istriku, dan sehatkan aku, ya Allah.

Entah mengapa, beberapa minggu sebelum Ramadhan, aku sering merasa pening. Dari berdiri ke duduk, pening. Dari duduk ke berdiri, pening. Bangun dari berbaring, pening.

Ada apa dengan diriku?

Beberapa kali istriku mengajak ke dokter, aku menolak.

Seingatku, sudah setua ini, mungkin aku baru ditangani dokter dua atau tiga kali.

Penyakitku hanya masuk angin dan diare.

Karena itu, aku tak lagi mau ke dokter.

Tapi sekarang, aku sakit apa ya?

Semua orang pasti bilang, aku harus memastikannya ke dokter.

Tadi pagi, sobatku dari Jombang menelepon. “Mas punya unek-unek tentang ‘deradikalisasi teroris’ ga? Kalau punya, mbok cepat dibikin tulisan. Saya lagi diminta seorang pemilik pesantren untuk menerapkan konsep saya, dimulai dari pesantrennya. Saya harap gagasan anda bisa menguatkan.”

“Kok tiba-tiba ngomong deradikalisasi teroris…?”

“Ini ada kaitannya dengan ramainya berita tentang ISIS,” katanya.

“Wah, saya tak mengikuti beritanya. Saya sedang sakit kepala nih,” jawabku.

“Waah, kenapa? Hati-hati lho, kepala itu vital!” katanya.

“Haha, kepala vital, jari kelingking juga vital…” selorohku.

“Maksud saya, jangan sampai seperti Olga gitu lohh!”

Aku tertawa. Sobatku terus cerita macam-macam, sampai suaranya hilang. Mungkin kehabisan pulsa.

Aku tertawa. Jangan seperti Olga! Haha.

Adakah persamaanku dengan Olga? *

 

Comments
2 Responses to “Sakitku, Olga, dan ISIS”
  1. desrizal says:

    Cepat sembuh ya Bang! Perjuangan masih panjang!.

    Wassalam.

  2. Ahmad Haes says:

    Iya, bro, insyaAllah.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: