Aku Ingin Melahirkan Anak Sebanyak-banyaknya

Pemuda itu berusia tak lebih dari 20 tahun. Dengan tinggi 165 cm dan berat yang tak jauh dari tingginya, ia tampak cukup tinggi dan langsing.

Di pundaknya terselempang sebuah tas kulit kecil, berbentuk kotak, padat berisi entah apa, tapi kelihatan cukup berat. Terbukti ia beberapa kali tampak menahan tali tas yang menempel di pundak kirinya dengan jemari tangannya. Sementara di tangannya tergenggam bungkusan plastik hitam sepanjang 50 cm, dan tampak cukup berat pula.

Ia berjalan cepat menyusuri gang di sebuah perkampungan. Sesekali ia menarik perhatian beberapa warga yang dilewati dan dilontari senyum dan salamnya. Beberapa kali ia pun tersandung kerikil dan agak terhuyung karena harus memutar badan hanya untuk menyahuti panggilan beberapa anak kecil yang dilewatinya.

Beberapa menit kemudian, seorang ibu berlari kecil di depannya. Ketika sampai di hadapannya, wanita setengah baya itu berhenti dan bertanya, “Mau ke mana, anak muda?”

“Ke rumah teman. Di ujung gang sana.”

“Siapa nama temanmu?”

“Ilham!”

“O, Ilham si gadis ahli komputer itu?”

“Iya…”

“Sebaiknya urungkan niatmu pergi ke sana!”

“Kenapa?”

“Di pertigaan sana ada serdadu Israel bersenjata. Dia mungkin kesasar masuk kampung ini, dan menembaki beberapa orang yang ditemuinya!”

“Oh! Apakah dia menembaki setiap orang?”

“Tidak. Dia hanya menembak orang yang berani menatap wajahnya.”

“Kalau begitu, aku akan terus ke sana, dan berusaha tidak menatap wajahnya, haha!”

“Tapi serdadu itu, seperti semua orang Israel, tampaknya gila!”

“Akh, ibu, aku harus bertemu temanku hari ini juga. Doakan saja supaya orang gila itu tidak mengganggu atau menembakku.”

“Kamu tidak takut mati?”

“Ibu! Kita orang Palestina, bukankah selalu rindu untuk mati? Mati syahid karena kita melawan Yahudi penjajah itu?”

“Subhanallah! Kalau begitu, lanjutkan perjalananmu. Semoga kau bisa membunuh serdadu itu bila dia mengganggumu!”

“InsyaAllah…”

Si pemuda melanjutkan perjalanan, diiringi sesaat pandangan ibu muda itu. Tak lama kemudian, ibu muda itu pun bergegas melanjutkan langkahnya. Entah hendak pergi ke mana.

Pemuda itu memukul-mukulkan bungkusan plastik di tangan kanannya ke telapak tangan kirinya, sambil terus melangkah ringan.

Sekitar sepuluh menit kemudian, serdadu Israel itu pun tampak beberapa puluh meter di depannya. Badannya tinggi-besar. Di tangannya terpegang sebuah senapan.

Si pemuda agak bergetar. Bungkusan plastik di tangan digenggamnya semakin erat.

Serdadu itu kini tampak berdiri di tengah jalan, seperti akan menghadangnya. Dan memang ia menghadangnya sambil menodongkan senapan. “Mau ke mana kau, babi?” semburnya seraya menggoyang-goyang senjatanya.

“Ke depan!” jawab si pemuda.

“Benda apa yang ada di tanganmu?” bentak si serdadu.

“Sesuatu…”

“Sesuatu apa?”

“Sesuatu yang bisa membocorkan kepalamu!”

“Setan! Untung aku sudah kehabisan peluru. Kalau tidak, kupecahkan kepalamu!”

“Al-hamdu lillah. Kalau begitu, sekarang giliran kepalamu yang harus pecah!”

“Cuah! Bangkai babi, kumakan kau!” geram si serdadu seraya meludah dan bersikap seperti macan yang akan menerkam. Si pemuda berkelit menghindari semburan ludahnya. Sedetik kemudian ia pun mengayunkan bungkusan plastiknya, dan… bletak! Terdengar bunyi logam beradu dengan kepala.

Si serdadu mengaduh. Darah tersembur dari ubun-ubunnya. Si pemuda lari melewatinya. Si serdadu mengumpat dan kemudian mengejarnya.

Kejar-kejaran berlangsung beberapa menit. Si serdadu mengira pemuda itu benar-benar ingin kabur darinya. Tahu-tahu ia mendadak berhenti dan berteriak, “Sekarang benda ini akan mematuk burungmu!”

Buk! Suara benda keras menghantam kemaluan serdadu itu, yang mengaduh dan langsung jatuh.

Si pemuda agak kaget melihat serdadu itu pingsan. Sesaat ia terengah-engah tanpa tahu apa yang sedang dirasakannya.

Tak lama kemudian, sejumlah orang, tua, muda, lelaki, perempuan, dan anak-anak berhamburan keluar dari rumah-rumah ke jalan kecil di kampung itu. Mereka bersorak-sorai mengerumuni tubuh serdadu itu.

“Matikah dia?”

“Tidak.  Dia hanya pingsan!”

“Bunuh! Bunuh! Timpuki dengan batu!”

“Tidak!” kata lelaki yang tertua di situ. “Kita ikat saja. Lalu kita serahkan kepada Hamas!”

“Setuju! Ikat dan seret ke tempat Hamas!”

“Tidak. Jangan seret! Nanti tubuhnya rusak. Kita tak boleh menganiaya orang yang tak berdaya. Ayo, ikat saja. Kita bawa dia dengan gerobak.”

Mereka mengikat kaki dan tangan serdadu itu dengan sembarang tali yang mereka temui. Sebuah gerobak kayu pun didorong dari samping sebuah rumah, langsung digunakan untuk mengangkut tubuh serdadu pingsan itu.

Sementara itu, ibu muda yang tadi berpapasan dengan pemuda itu, menepuk bahu si pemuda, dan bertanya, “Kamu apakan dajal itu?”

“Kugetok kepala dan burungnya dengan ini!” sahut si pemuda sambil mengacungkan bungkusan plastik yang di pegangnya.

“Apa itu?” tanya si ibu.

“Tripod.”

“Hah? Tripod untuk penyangga kamera itu?”

“Iya.”

“Kok bisa… ?”

“Ini terbuat dari baja anti karat. Beratnya hampir sekilo. Cukup berat untuk membocori kepala anjing penjajah itu, apalagi ketika dihantamkan ke burungnya!”

Si ibu muda tertawa. “Kita memang harus menggunakan apa saja untuk melawan mereka.”

“Ya. Termasuk video,” kata si pemuda.

“Video?”

“Ya. Saya dengan teman saya membuat beberapa video berisi rekaman kekejian Israel, untuk kami unggah ke youtube, biar warga dunia banyak yang melihatnya.”

Ibu muda itu tampak tersedak. Lalu meneteskan air mata. “Kita memang harus menggunakan segala cara, untuk melawan mereka. Sayangnya, cara kita terlalu lemah dan rapuh. Tapi, biarlah. Pokoknya kita terus melawan dan melawan. Bersama Hamas, bersama malaikat Allah. Dan kau, anak muda, keberanianmu harus terus membara.”

“InsyaAllah!  Permisi, Ibu. Saya mau ke rumah teman. Masih ratusan langkah di depan sana.”

“Baiklah. Selamat jalan, dan selamat berjuang.”

Iring-iringan warga yang membawa serdadu itu sudah semakin jauh. Si pemuda pun segera berbalik untuk melanjutkan perjalanan. Beberapa saat ibu muda itu memandangnya. “Aku ingin melahirkan anak sebanyak-banyaknya, yang sepintar dan seberani pemuda itu,” gumamnya.∆

 

*Bekasi, siang 24 Juli 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: