Gugurnya Mitos Kekuasaan Keempat

Alangkah hebatnya Montesquieu (baca: monteskwi) yang menyadari bahwa kekuasaan itu cenderung menyeleweng. (Power tends to corrupt). Karena itu, setelah mempelajari sejarah peolitik Yunani dan Inggris, terpikirlah olehnya bahwa untuk mencegah penyelewengan, maka kekuasaan harus dipecah menjadi tiga. Lahirlah bukunya yang berjudul l’ Esprit des Lois (The Spirite of the Law: Ruh Hukum) yang di dalamnya terkandung teori trias politica yang mashur itu!

Dalam trias politica, kekuasaan dibagi menjadi tiga estate (domain; lembaga/wilayah kekuasaan), yaitu: (1) kekuasaan pembuat undang-undang (legislatif), (2) kekuasaan pelaksana (eksekutif), dan (3) kekuasaan pengesahan (legislatif). Pembagian wilayah kekuasaan menjadi tiga lembaga yang masing-masing harus mandiri tersebut dilakukan agar terjadi “keseimbangan” kekuasaan.

Tapi, pendek cerita, mungkin karena pembagian kekuasaan menjadi tiga wilayah tersebut ternyata tidak atau kurang sesuai dengan harapan, maka kemudian dimunculkanlah estate keempat (the fourth estate), yaitu pers; sebagai lembaga pengontrol bagi ketiga kekuatan tersebut.

Dengan demikian, tampaknya pers tampil sebagai lembaga yang paling sakti, yang ditakuti oleh pihak mana pun. Kendati senjatanya hanya kata dan alat tulis (pena), dan tentaranya (wartawan) disebut “kuli tinta”, pers dianggap sebagai lembaga yang sakti karena mewakili kebenaran! Di sisi lain, karena selalu bergentayangan ‘melaksanakan fungsi kontrol’, wartawan pun diolok-olok sebagai “nyamuk pers” oleh pihak-pihak yang terancam. Tapi ejekan ini juga malah semakin menguatkan kesan bahwa orang-orang pers adalah ‘pengganggu’ bagi siapa pun yang melanggar kebenaran.

‘Ge’ersime’ sebagai “wakil kebenaran” bisa jadi sekian lama pernah bercokol dalam diri setiap wartawan. Para mahasiswa ‘akademi jurnalistik’ dan publisistik pun bisa jadi ketularan ge’erisme tersebut, sehingga mereka bersemangat tinggi untuk berkarir di dunia pers.

Tapi, sampai kapankan masa-masa heroisme pers itu bertahan?

Seiring dengan tumbuhnya berita menjadi barang dagangan, dan lembaga pers menjadi lembaga bisnis, yang satu sama lain saling bersaing ketat, posisi kuli tinta pun semakin terdesak menjadi kuli dari perusahaan pers tempat mereka bekerja.

Perburuan berita, yang semula dilakukan demi “melayani rakyat”, berubah menjadi perburuan komoditas barang-barang yang laku dijual. Berita pun dibagi menjadi dua jenis, yaitu (1) berita yang menjual, dan (2) berita yang tidak menjual. Istilah menjual dimaksudkan sebagai “mempunyai daya jual” dan atau “bisa membuat koran, majalah, tabloid dan sebagainya terjual habis”.  Selainnya, berita yang tidak menjual adalah berita-berita yang bernilai sebaliknya, yang bila dimuat juga bisa-bisa malah membangkrutkan perusahaan.

Ini adalah cerita tentang Sang Kekuatan Keempat yang sudah mulai dikuasai para pemilik modal.

Maka mulailah wartawan pun disuruh pemimpin redaksinya untuk memburu berita-berita heboh, sensasional, sampai berbau seksual bahkan bikin mual orang normal.

Lembaga pers mulai berubah menjadi lembaga bisnis.

Bahkan, ada juga orang-orang, pihak-pihak, yang menjadikan pers sebagai alat bagi kepentingan lain, termasuk politik dan pencitraan.

Tak aneh bila ada sebuah koran, misalnya, yang tidak laku di pasaran tapi terus juga diterbitkan. Ini terjadi, antara lain, karena si bos bisa memanfaatkan korannya untuk propaganda, pencitraan diri dan sebagainya, yang sebenarnya merupakan pemanfaatan fungsi dasar pers sebagai pembentuk opini masyarakat.

Mitos pers dan atau wartawan sebagai pembela kebenaran pun mulai bisa dipertanyakan.

Mitos itu, boleh jadi, sekarang memang sudah gugur, sehingga tidak lagi menghilhami siapa pun yang masih cinta kebenaran.D

 

Bekasi, 26/6/2014.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: