Belajar Bahasanya Dulu, Baru Baca Kitabnya!

 

Ibnu KhaldunMemang kalau dipikir-pikir aneh juga ya kita menyikapi ‘kitab suci’ kita, Al-Qurãn, dengan cara membacanya tanpa peduli mengerti atau tidak. Lucunya pula, cara itu kok diwariskan turun-temurun dari generasi ke generasi secara innocent, alias tanpa rasa bersalah. Lho, bagaimana bisa merasa bersalah, wong kita sendiri tidak merasa salah?!

Tapi, tahukah anda bahwa seorang tokoh yang lahir pada tanggal 27 Mei 1332 M/732 H, memperingatkan bahwa cara tersebut adalah sebuah kesalahan. Sayangnya, peringatan itu tak diketahui banyak orang, atau tak sanggup membendung kesalahan kita – umat Islam – yang telah dilakukan selama berabad-abad, sampai sekarang, dan bisa jadi akan terus berlangsung sampai entah kapan.

Tokoh tersebut adalah Ibn Khaldūn, yang nama lengkapnya أبو زيد عبد الرحمن بن محمد بن خلدون الحضرمي‎ (Abū Zayd ‘Abdu r-Raḥmān bin Muḥammad bin Khaldūn Al-Ḥaḍrami). Ia adalah seorang Arab Muslim yang diakui sebagai penulis dan ahli sejarah, yang disejajarkan dengan para perintis penulisan sejarah, sosiologi dan ekonomi modern.

Salah satu bukunya yang terkenal adalah Muqaddimah (Pendahuluan), yang merupakan bagian pendahuluan dari naskahnya yang berjudul Al-Ibar (Peringatan), yang dikenal di Yunani sebagai Prolegomena (Prolog). Muqaddimah Ibnu Khaldun mempengaruhi para sejarahwan abad 17 di masa Turki Utsmani seperti Hajji Khalifa dan Musthafa Naima, yang menggunakan  teori dalam buku tersebut untuk menganalisis pertumbuhan dan kemunduran Imperium Utsmani. Para sarjana Eropa abad 19 pun mengakui pentingnya buku Muqaddimah, dan menganggap Ibnu Khaldun sebagai salah satu filsuf terbesar yang lahir dari dunia Muslim.

Dan, yang kurang diketahui banyak orang, Ibnu Khaldun juga ternyata seorang ahli bahasa Arab; yang menyimpulkan kajian bahasa Arab ke dalam pokok-pokok kajian:

1.      Kosakata

2.      tata bahasa

3.      retorika

4.      sastra

IMG_20140310_004003-1Boleh jadi karena keahliannya dalam kajian bahasa Arab tersebut, dan karena ia pun sudah menghafal Al-Qurãn sejak usia remaja, maka ia pun melontarkan pandangannya tentang bagaimana sebaiknya Al-Qurãn diajarkan.

Menurut Ibnu Khaldun, cara pengajaran yang dilakukan pada masanya (dan berlanjut sampai sekarang!), yaitu mengajarkan cara membaca Al-Qurãn tanpa memahami maknanya, adalah sebuah kesalahan yang berakibat kegiatan membaca Al-Qurãn menjadi sia-sia.

Menurutnya, sebelum mengajarkan cara membaca Al-Qurãn, sebaiknya para guru lebih dulu mengajarkan bahasa Arab, sehingga otomatis ketika para murid nanti belajar membaca Al-Qurãn, mereka akan memahami apa yang dibaca!

Comments
One Response to “Belajar Bahasanya Dulu, Baru Baca Kitabnya!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: