Bahasa Dan Teori Ilmu

Bagan isim

Kamus Al-Munawwir4Seorang teman ngaji yang sudah lama tak bertemu datang menemui saya. Terjadilah percakapan yang cukup seru.

Ana denger ente sekarang lagi sibuk ngajar bahasa?

Ya. Mengajar untuk belajar!

Maksud ente?

Memang Abang lupa ajaran guru kita? Kan beliau bilang cara belajar terbaik adalah mengajar. Dan lebih baik lagi bila waktu mengajar itu kita menempatkan diri kita sebagai murid pertama! Begitu kan?

Iya, sih. Tapi yang ana denger ente ngajarin bahasa Arab!

Yang benar, saya ngajar tata bahasa… Ilmu sharaf dan nahwu!

Nah, itu kan bagian dari ilmu bahasa Arab. Kan guru kita juga bilang bahwa tata bahasa Arab itu jiplakan dari Yunani!

Saya kurang mengerti soal itu. Tapi, menurut hasil bacaan saya, ilmu tata bahasa yang sekarang kita sebut ilmu sharaf dan nahwu itu, pertama kali disusun atas perintah Ali Bin Abu Thalib kepada muridnya!

Hah? Apa iya?

Iya, itu yang saya baca! Dan itu kan membuktikan bahwa Ali adalah sahabat Rasulullah yang menonjol di bidang keilmuan. Dia seorang cendekiawan. Intelek! Khususnya dalam bidang bahasa.

Hmh, baru denger!

Itu asumsi saya sih!

Baru asumsi? Dan ente sudah pegang?

Lah, terus kita mau pegang apa? Mau ngotot mengatakan bahwa ilmu sharaf-nahu adalah jiplakan dari tata bahasa Yunani? Atau mau pegang bahwa ilmu-ilmu itu dirintis oleh Ali bin Abu Thalib dan murid-muridnya? Lagi pula, terlepas dari asumsi apa pun, kenyataannya kita butuh ilmu tata bahasa kan?

Paramasastra ArabIya, tapi tata bahasa Al-Qurãn, bukan tata bahasa Arab?

Apa bedanya? Di mana bedanya?

Teori maknanya! Itu kan yang diajarkan guru kita?

Nah, tepat sekali. Perbedaannya terletak pada teori maknanya. Lebih jauh lagi, ini berkaitan dengan teori ilmu, alias ilmu tafsir!

Nah, berdasar itu, bahasa bukan penentu makna kan?

Benar. Bahasa tidak menentukan makna. Tapi itu baru koma, Bang, belum titik.

Maksud ente?

Maksud saya, pernyataan itu belum jelas. Kalau dikatakan bahasa tidak menentukan makna, bukan berarti bahasa tidak punya peran kan?

Ya, tentu…

Tentunya bahasa punya peran juga dalam membentuk makna kan?

Iya lahh!

Nah, jelasnya, di mana peran bahasa, misalnya setelah teori makna?

Yaa… sebagai bola permainan makna kan?

O, jadi… peran bahasa adalah “sebagai bola”? Dan makna memainkan bola itu?

Iya. Begitu kata guru kita kan?

Terus, bagaimana cara makna memainkan bola?

Wahh, ente malah ngeledek sih?

Bukan ngeledek, Bang. Tapi kita ngomong itu kan harus jelas. Harus analitis. Harus bisa dilacak pembuktiannya. Iya kan?

Iya juga sih. Terus menurut ente gimana?

Saya sih lebih suka bikin perumpamaan bahwa teori ilmu, atau ilmu tafsir, adalah ilmu untuk menyetir kendaraan. Dan bahasa adalah kendaraannya. Dengan begitu, kalau kita mau bepergian dengan menggunakan kendaraan, otomatis kita harus bisa nyetir dan mengenal kendaraannya kan?

Ya iya lah!

Nah, makanya saya jadi bingung sama teman-teman yang sering bilang bahasa tidak menentukan makna… Terus mereka jadi pada malas belajar bahasa dech! Padahal, guru kita kan mangajarkan bahasa, malah nulis diktat pelajaran bahasa juga!

Hmhhh, itu mah termasuk ana dong! Ga tau kenapa ya… Rasanya berat banget mau belajar bahasa… Apalagi yang namanya ilmu sharaf sama nahwu itu tuh… puyeng aja bawaannya!

Tapi teori ilmu Abang pelajari kan?

Bukan dipelajari lagi, ngajarin orang malah…

Berarti Abang belajar dan mengajar nyetir… Tapi ga mau tahu kendaraan yang mau disetirnya… Haha!

Hiyyyaaa, bener juga ente…!

Haha!  ∆

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: