Buku Pelajaran Bahasa Arab Di Perpustakaan Saya (3)

Kurang serius

 Sebenarnya saya tak pernah belajar bahasa apa pun secara serius dan tekun.

Saya belajar bahasa Inggris secara selewatan ketika kakak sulung saya membeli sebuah buku pelajaran bahasa Inggris yang lumayan mudah. Dengan mempelajari buku ini, saya bisa membaca tulisan-tulisan berbahasa sederhana, seperti cerita anak-anak dan lain-lain. Suatu hari, ketika saya melamar untuk jadi wartawan di sebuah majalah, ternyata lowongan yang tersedia adalah penerjemah bahasa Inggris. Sang Pemimpin Rerdaksi majalah tersebut bertanya, “Kamu bisa menerjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia?”

“Mungkin bisa… Tapi harus banyak buka kamus!” jawab saya.

Dia tertawa. “Semua penerjemah yaa buka kamus!” katanya.

Saya disodori sebuah naskah berbahasa Inggris (8 halaman majalah) untuk dibawa pulang, dan besoknya terjemahan naskah itu harus sudah diserahkan.

Semalaman saya begadang menerjemahkan naskah itu, dan… anehnya, kok bisa selesai?

Esoknya, setelah menyerahkan terjemahan naskah itu, saya tidak boleh pulang. “Kamu langsung kerja saja, mulai hari ini!” kata Sang Pemred. Dia tidak tahu bahwa tadi malam saya tidak tidur!

Selanjutnya, ternyata tugas saya bukan hanya menerjemahkan tulisan-tulisan berbahasa Inggris, tapi juga mengedit dan menulis ulang (rewriting) tulisan-tulisan orang lain. Pekerjaan yang belakangan ini, mengedit dan menulis ulang tulisan orang lain, cukup mudah saya lakukan, karena itulah memang yang saya lakukan di tempat kerja sebelumnya. Di tempat sebelumnya, tugas saya malah serabutan sekali. Saya harus jadi reporter, menulis editorial, menulis ulang naskah-naskah orang lain (yang penulisannya jelek), menulis artikel, cerpen, bahkan harus pula menulis cerita anak-anak! Sayangnya, gaji yang saya terima tetap saja gaji kuli tinta (reporter). Tapi ‘kerja rodi’ ini membuat saya semakin trampil menulis, dan cukup disiplin dalam berbahasa. Mungkin karena itulah saya pun pernah dipercaya menjadi editor bahasa di sebuah majalah yang lain.

Dan, ketika saya bergabung dengan sebuah kelompok pengajian yang, menurut saya, jauh lebih serius dibandingkan kelompok-kelompok lain, mulailah saya berhadapan dengan bahasa Arab, yang bagi saya waktu itu jauh lebih asing daripada bahasa Inggris!

Saya mulai belajar, tapi tidak cukup serius dan tekun. Mungkin karena saya masih sibuk sebagai wartawan dan penerjemah, dan merasakan bahwa bahasa Arab bukan kebutuhan mendesak.

Anehnya, sejak saat itu, saya selalu suka membeli buku-buku pelajaran bahasa Arab! Setiap masuk toko buku, saya selalu mencari sudut-sudut yang ditempati rak berisi buku-buku pelajaran bahasa Arab, yang jumlahnya selalu sedikit dan sering hanya itu-itu saja. Buku-buku itu saya baca seperti membaca berita atau membaca novel; begitu selesai dibaca lantas ditinggal, dan saya meninggalkan buku-buku itu dengan perasaan tidak puas.

Buku pelajaran madrasah

 Tanggal 5 September 1989 saya menemukan buku Nahwu & Shorof karya Irbabullubab B.A. dan Ustadz Dja’far Amir. Buku ini diterbitkan C.V. Tohaputra, Semarang, tahun 1970, sebanyak enam jilid, yang rata-rata setebal 60 halaman.

Bila saya lihat-lihat lagi buku ini sekarang, salah satu yang membuat saya takjub adalah harganya. Mulai jilid 1 dampai 5, buku ini masing-masing berharga 750 rupiah. Sedangkan jilid terakhir harganya 850 rupiah, karena memang lebih tebal sendiri, yaitu 107 halaman. Tapi, bila saya membelinya pada masa sekarang, harganya bisa jadi di atas 20.000 rupiah. Melalui buku-buku yang saya miliki dari dulu sampai sekarang, saya tahu bukan harga buku yang semakin mahal, tapi nilai rupiahlah (agaknya) yang semakin turun!

Ketika saya bercerita kepada teman-teman pengajian tentang buku itu, ternyata beberapa di antara mereka ada yang memiliki, walau tidak lengkap (6 jilid). Seorang teman malah mengaku pernah mempelajari buku itu di madrasah.

Menurut teman saya itu, buku tersebut pada zamannya merupakan buku pelajaran wajib di madrasahnya. Tapi, belakangan, buku itu menghilang karena digantikan buku lain atau karena pelajaran bahasa Arab tidak lagi dianggap pelajaran nomor satu di madrasah. Ingat bahwa pelajaran di madrasah pada akhirnya harus disesuaikan dengan sekolah-sekolah umum! Salah satu hasilnya, pelajaran bahasa Inggris masuk, pelajaran bahasa Arab tersingkir.

Dari segi teknis, buku ini sebenarnya mengikuti cara penulisan seperti buku An-Nahwul-Wãdhih karya Ali Al-Jãrim dan Musthafa Amîn, yang juga beredar di dunia pesantren. Bahkan tidak diragukan lagi, buku ini adalah saduran atau adaptasi dari buku An-Nahwul-Wãdhih. Tapi, inilah buku pelajaran bahasa Arab ‘terlengkap’ yang baru saya temui pada waktu itu.

Hal lain yang menarik dari buku ini adalah huruf Arabnya yang ditulis tangan. Cukup bagus tapi ukuran hurufnya tidak seimbang dengan huruf Latin, sehingga menjadi kurang sedap dipandang.

Setiap bab dimulai dengan 10 contoh kalimat bahasa Arab. Di bawahnya ada terjemahan kosakata. Selanjutnya, setiap kata dikelompokkan sesuai jenisnya. Ada yang masuk kelompok (1) kata kerja, (2) kata benda, dan (3) partikel. Setelah itu, di bawahnya lagi, ada subjudul Qoidah (القاعدة  ), yang menyebutkan definisi setiap jenis kata, yang diambil dari kitab An-Nahwul-Wãdhih. Kemudian, bagian akhir dari setiap bab adalah Latihan (تمرين  ). Murid diharuskan melengkapi kalimat-kalimat yang dihilangkan kadang subjeknya, predikatnya, dan partikelnya. Saya kira, metodenya cukup bagus, dan cukup mudah diikuti anak-anak mulai kelas 3 (usia 9 tahun).

Isi buku

 Jilid pertama buku ini mencakup pelajaran sebagai berikut:

1.        Pembahasan tentang jenis kata

2.        Kata benda lelaki dan wanita

3.        Bilangan kata benda (tunggal, ganda, jamak)

4.        Cara membentuk kata benda ganda

5.        Pembagian jamak

6.        Pembagian kata kerja

7.        Kalimat lengkap

8.        Kalimat kata benda dan kalimat kata kerja

9.        Objek langsung

10.    Kata sifat

11.    Partikel kãna

12.    Partikel inna

Jilid kedua:

1.        Kata yang tetap dan yang berubah

2.        Tanda baca (harakat) yang sesuai posisi kata dalam kalimat

3.        Kata kerja lampau

4.        Kata kerja sekarang dan akan datang

5.        Kata perintah

6.        Kata kerja yang ditambah huruf nûn penegas

7.        Analisis kalimat berdasar empat harakat akhir kata

8.        Latihan cara menganalisis kalimat

9.        Ciri khas kata benda ganda

10.    Ciri khas jamak lelaki

11.    Ciri khas jamak tak beraturan

12.    Ciri khas jamak perempuan

13.    Latihan analisis kalimat

14.    Kata kerja yang normal dan yang dimasuki ‘huruf penyakit’

15.    Kata kerja normal

Daftar isi di atas, dan seterusnya sampai jilid 3, semua membahas ilmu nahwu (tata kalimat). Selanjutnya, mulai jilid 4 sampai 6, dimulailah pelajaran ilmu sharaf (kajian bentuk kata). Tampilan halaman-halaman buku mulai kurang menarik, karena banyak berisi tabel-tabel yang isinya huruf Arab melulu. Waktu itu, saya sama sekali belum tahu apakah gerangan kegunaan ilmu sharaf!

Buku ini saya anggap sebagai novel yang tidak happy ending!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: