Koreksi Yang Harus Dikoreksi (Tanggapan Untuk Maklumat Yang Mengatasnamakan Zakir Naik)

Zakir Naik - in shaa Allah1

SEHUBUNGAN DENGAN ADANYA MASUKAN BAHWA “MAKLUMAT” YANG SAYA KOREKSI BUKAN BERASAL DARI ZAKIR NAIK (BUKAN TULISAN ZAKIR NAIK), MAKA SAYA PUN MELAKUKAN REVISI ATAS TULISAN SAYA DI BAWAH INI.

SAYA SENDIRI TELAH MENGIRIM (Tgl. 6 Januari) TULISAN PENDEK SEBAGAI SARANA UNTUK MEMOHON KONFIRMASI DR. ZAKIR NAIK, NAMUN BELUM MENDAPAT TANGGAPAN.

HASIL REVISI ADALAH PENAMBAHAN TULISAN BERWARNA MERAH.

HARAP PEMBACA MEMAKLUMI BAHWA KRITIK SAYA SEJAK DILAKUKAN REVISI INI, KINI HANYA TERTUJU PADA ISI MAKLUMAT ATAU SELEBARAN YANG BEREDAR DI INTERNET TERSEBUT, BUKAN TERTUJU KEPADA PRIBADI DR. ZAKIR NAIK YANG SAYA HORMATI.

Adapun gambar beliau tidak dihapus dari tulisan ini, supaya pembaca yang belum tahu bisa mengetahui foto beliau.

TERIMAKASIH ATAS PERHATIAN ANDA.

Tanggal 29 November 2013, atas permintaan seorang teman Facebook, saya menulis koreksian untuk maklumat YANG MENGATASNAMAKAN DR. Zakir Naik, yang agaknya disebarkan saudara-saudara kita di Malaysia, tampak dari bahasanya yang berbunyi demikian:

Kita tidak seharusnya menulis

“Insya Allah”

karena ini bermaksud menciptakan Allah

(Naudzubillah)

tapi pastikan kita menulis

“In Shaa Allah”

karena ini bermaksud dengan izin Allah

Selebaran ini tak diragukan lagi merupakan terjemahan dari maklumat YANG MENGATASNAMAKAN ZN yang ditulis dalam bahasa Inggris, demikian:

Zakir Naik - in shaa AllahWe should not write it as

“InshaAllah” or “Inshallah”

Because it means “Create

Allah” (Naozobil lah). Wether

Arabic or English.. please sure

You write it properly as

“In shaa Allah” (in 3 separate

words). This means “If Allah

wills). So make sure you

forward this to everyone and

help them correct their

mistake.  JazakAllah Khair.

 

Tanggapan saya adalah seperti di bawah ini:

Ini contoh aslinya dari surat 37:102: (… إِنْ شَاءَ اللهُ). Perhatikan bahwa ini adalah kalimat syarat (conditional) yang terdiri dari tiga unsur. Yang pertama, in, adalah harfu syarthin (conditional particle), yang berarti: jika, seandainya dsb. Yang kedua, syã’a, adalah kata kerja lampau yang berarti hendak atau menghendaki. Yang ketiga, jelas itu “lafzhul-jalalah” (istilah untuk nama Allah).

Yang sulit di sini adalah penulisan dua kata yang terakhir (شَاءَ اللهُ) ke dalam huruf Latin. Masalahnya, pada kata Allah terdapat hamzah washl, yaitu huruf alif yang lebur ketika terletak di antara dua kata. Karena itu, saya memilih untuk menyambung kedua kata tsb., sehingga menghasilkan tulisan seperti ini:  “in syaAllah”; atau ketiga-tiganya saya sambung: insyaAllah, yang akan dibaca orang Indonesia secara relatif sama dengan tulisan dalam huruf aslinya dan atau ucapan asli dari pembicara aslinya.

Kadang saya juga menulis seperti ini: in syaAllah(u), untuk menegaskan bahwa yg menjadi subjek di situ adalah Allah (ditandai huruf u dalam kurung, sebagai tanda i’rab marfu, yang memastikan Allah sebagai subjek).

Perhatikanlah ini! Bila saya menulis “insyAllah(a)” atau in syaAllah(a), misalnya, maka Allah menjadi objek!

Sedangkan untuk contoh yang diajukan MAKLUMAT YANG MENGATASNAMAKAN ZN di atas (lihat gambar), tulisan aslinya yang benar, dalam arti akan membuat pembaca awam membaca secara relatif benar, seharusnya: “inyã’ullah(i)”. Dalam ilmu nahwu, ini namanya tarkîb idhãfi (= kata majemuk). Artinya adalah “peciptaan Allah”, dan ini belum tentu menempatkan Allah sebagai objek! Dalam kalimat “ini adalah konsep penciptaan Allah”, misalnya, yang dibicarakan adalah “konsep penciptaan” menurut Allah, bukan penciptaan Allah.

Dalam hal ini, ORANG YANG MENGATASNAMAKAN Zakir Naik melakukan kekeliruan secara bahasa (sharaf) ketika ia memberi contoh frasa insyaAllah atau inshallah sebagai berati menciptakan Allah (create Allah), karena bila bermakna demikian, maka jelas bahwa kata insya (اِنْشَاءٌ) bukanlah kata kerja, tapi mashdar, yang jelas masuk ke dalam kelompok kata benda. Dan bila memang yang dimaksud adalah mashdar, maka tulisan aslinya adalah insyã’an (ingat bahwa mashdar adalah isim manshub), dan ketika digabung dengan kata Allah, dalam susunan idhãfah, maka insyã’an ini berubah menjadi insyã’u (tanwinnya hilang karena menjadi mudhaf ilaih); sehingga hasil gabungannya adalah insyã’ullahi, dan arti harfiahnya adalah penciptaan Allah (Allah’s creation) bukan menciptakan (to create) Allah.

Sedangkan contoh yang diberikan ORANG  YANG MENGATASNAMAKAN ZN di bawahnya (lihat gambar), jelas itu adalah ejaan versi bahasa Inggris. Di sana gabungan huruf s dan h (sh) adalah ‘padanan’ untuk s dan y (sy) dalam ejaan kita (Indonesia).

Perlu diperhatikan pula cara ORANG YANG MENGATASNAMAKAN ZN menulis “Naozobil lah” dan “JazakAllah”, yang jelas merupakan kekeliruan. Yang pertama, bila sengaja, kata yang ditulis ZN sebagai Naozobil lah seharusnya (bagi kita) adalah: na’udzu billah. Ini juga frasa yang terdiri dari 3 unsur, yaitu kata kerja (na’udzu), partikel (bi), dan lafzhul-jalalah (Allah). Begitu pula penulisan JazakAllah, yang benar adalah JazãkAllah(u) atau jazaakAllah(u).  Atau bisa juga ditulis Jazãkallah(u) atau jazaakallah(u), tanpa menggunakan huruf besar, mengingat dalam bahasa Arab tidak ada huruf kapital (tidak ada huruf besar/kecil).

ORANG YANG MENGATASNAMAKAN  ZN juga kurang atau tidak memperhatikan bunyi huruf akhir dari setiap ucapan, yang dalam bahasa Arab justru sangat menentukan makna. Hal ini bisa dimaklumi bila orientasinya adalah “pengucapan”, dan bukan “penulisan”. Tapi jelas, melalui maklumatnya itu, dia justru mengorekasi cara penulisan (ke dalam ejaan Inggris).  Lucunya, kita (orang Indonesia, dan juga Malaysia) menyebarkan maklumat itu kepada orang Indonesia (dan Malaysia), yang jelas mempunyai cara yang berbeda dalam melakukan transliterasi (penyalinan huruf) bahasa Arab!

Zakir Naik adalah “da’i internasional” yang rupanya telah menjadi panutan banyak orang. Tapi, justru di situ pula letak masalahnya! Bila tokoh panutan melakukan kesalahan atau kekeliruan, maka banyak orang pun menjadi ‘korban’ karena terbawa salah/keliru, dan tetap menganggapnya benar karena sang tokoh dianggap sebagai pemilik otoritas. Tapi bila maklumat tersebut bukan berasal dari Zakir Naik, maka patut diduga bahwa telah ada seseorang atau sekelompok orang yang, mungkin, mempunyai maksud tidak baik terhadap ZN.

Sekali lagi, mohon diperhatikan! Cara penulisan yang pasti benar adalah seperti dalam huruf aslinya, dan cara pengucapan  yang benar adalah seperti pengucapan penutur aslinya. Dengan demikian, tanggung jawab para da’i adalah mengajak umat untuk mengenal huruf dan bahasa asli Al-Qurãn…

Zakir NaikJadi, yang perlu diperhatikan secara khusus di sini adalah bahwa penyalinan huruf (transliterasi) dari bahasa apa pun ke dalam bhs Indonesia, tujuannya adalah menjaga sedemikian rupa agar kita mengucapkannya secara relatif sama dengan pembicara aslinya. Dan harap dicatat bahwa prinsip inilah yang menjadi penyebab lahirnya ilmu tajwid. Yaitu ilmu yang dibuat untuk memelihara pelafalan kata dan pengucapan kalimat yang ‘benar’, seperti yang dilakukan para penutur bahasa (native speeker) aslinya. (Ilmu tajwid dikembangkan pada saat Islam sudah masuk ke berbagai tempat dan dianut oleh bangsa-bangsa selain Arab). Karena itu, saya tak setuju dengan pihak yang cenderung menyalin kata-kata Arab dengan mengacu pada huruf-huruf aslinya, karena bisa menghasilkan kesalahan ketika dibaca (diucapkan) oleh orang awam (tak mengerti bahasa Arab, bahkan tak tahu huruf Arab). Contoh: tulisan “bayt(u) al-Laah(i)” tentulah membingungkan orang awam, dibandingkan “baitullah”.

Akhir kalam, saya menganjurkan dengan sangat agar para muslim/muslimah mengalokasikan waktu mereka untuk mempelajari bahasa kitab suci mereka, supaya tidak tetap dalam kebutaan, yang otomatis selalu rawan untuk digiring ke arah yang salah.

Tanggapan teman-teman Facebook:

  • Mang Deden Sy terlalu awam dengan penjelasannya yg sangat gramatikal, jadi menurut penulis cara penulisan yg benar adalah ” in syaAllah” ? Apakah Zakir Naik memberikan tanggapan atas “koreksi” yg disampaikan?
  • Ahmad Husein Koreksian ini baru dibuat hari ini. Utk menanggapinya, ZN hrs mengerti bahasa Indonesia, atau dibantu penerjemah. Tulisan saya berbau grammar krn ZN juga mengajukan permasalahan yg berkaitan dg grammar. Untuk orang awam, silakan mengacu pada ayat yg saya sebutkan (37: 102) , kecuali bila tidak bisa pula membaca huruf Arab…
  • Ian Csa mantap!
  • War Gito Makasih pak Ustadz Ahmad , ini adalah pertanyaan saya ketika lihat teks disebuah lagunya(MZ) , dimana Syin ditulis Shad dlm bahasa Indo . Disini terjawab dan memberi Pencerahan kpd saya !
  • Acro Il Biscione Braling Alhamdulillahirrabbil ‘aalamiin……input yg bagus, mudah”an bs lbih mnambah motivasi utk trus belajar rattil.
  • Mang Deden Pak Ahmad Husein: buat sy yg awam tatabahasa Arab, tulisan إِنْ شَاءَ اللهُ ya sy baca ” in syaa Allah”…, barusan sy googling, ..yg perlu ditekankan di sini adalah ternyata yg dikoreksi ZN bukan penulisan “Insya Allah” (spt tertulis di alinea 2 tulisan di atas), tetapi tulisan “inshAllah” or “inshallah”. Sptnya memang cara penulisannya debatable ya pak? karena ada juga yg berpendapat penulisan yg benar (mrk menyampaikan penjelasan gramtikal juga): Inshaa-allaah (with a small ‘a’ and not a Capital ‘A’)., In-shaa-allaah , Insha’allaah ,Inshaa allaah …waduh..pilih yg mana ya?? (astaghfirullah..,kebenaran hanya milik Allah)
  • Ahmad Husein 1. ZN mengoreksi ejaan dlm penulisan bhs Inggris
    2. Dlm huruf Arab tak ada huruf besar-kecil
    3. Untuk menyalin huruf panjang, dulu kita menggunakan dobel huruf spt “aa”, “uu” dst. Tapi dg ditemukannya simbol2, kta bisa menggunakan simbol2 tsb sbg pengganti.
    4. Kebenaran memang milik Allah, tapi Allah tidak memonopoli kebenaranNya itu. Karena itulah kita disuruh utk mengetahuinya dg cara belajar. Kebenaran bhs Al-Quran, misalnya, bisa kita ketahui dg mempelajarinya.
  • Andi Purwanto Allah yg menjadi “Subyek”
  • Ahmad Husein Tidak selalu. Dalam kalimat, bisa saja Allah menjadi objek. Bahkan ketika anda menyebut Allah, otomatis Allah jadi objek sebutan, hehe
  • Nuhun Gusti Kirain mau sekalian ngebahas pelarangan penggunaan kata ALLAH oleh org kristen,di malaysia jg tuh.
  • Ahmad Husein Itu mah soal lain lagi atuh. Bilang aja kl anda minta soal itu dibahas, hehe
  • Aba Mardjani Ribet juga kayaknya ya, Sen. Kalau saya pikir, penulisan Insya Allah itu cuma mengacu pada cara baca in syaa’a Allah(u), bukan cara menulis….
  • Mang Deden Dr. Zakir Naik adalah sosok da’i yg penuh dgn keistimewaan, intelektualitasnya tinggi, bahkan alm. Ahmed Deedat pernah menjulukinya “Deedat Plus”. ZN telah mengislamkan ribuan non muslim. ZN menguasai banyak disiplin ilmu. Kalau ZN sangat hafal Quran mungkin orang akan menganggapnya wajar krn kapasitasnya sbg seorang da’i, tp beliau juga tinggi ilmu sainsnya (kedokteran, fisika, geologi, biologi, dll). Berkat penjelasan ZN lah Prof. Keith Moore masuk Islam (Moore adl seorang ahli embryologi kls dunia, ZN menjelaskan embryologi menurut Quran, diantaranya surat Al-Alaq). ZN saat ini termasuk orang yg paling dibenci pemerintah Inggris dan Amerika karena “logika Islamnya” banyak diterima orang. Sekecil apapun kesalahan ZN pasti akan di-blow up dengan satu tujuan: “agar orang membenci Zakir Naik”. .Saya sependapat dgn pak Ahmad Husein, bahwa “Bila tokoh panutan melakukan kesalahan atau kekeliruan, maka banyak orang pun menjadi ‘korban’ karena terbawa salah/keliru.”. Ada baiknya koreksi yg bapak sampaikan ke ZN disampaikan dlm bahasa Inggris agar beliau bisa segera merespon, demi kebaikan umat….Tmks.
  • Mang Deden oh ya pak Ahmad Husein…sy baru ingat , kalau bapak kesulitan menggunakan bhs Inggris pakai saja bahasa Arab pak, krn Dr. Zakir Naik pasti bisa berbahasa Arab juga.
  • Ahmad Husein Terimakasih utk saran anda. Tapi saya tidak punya kepentingan langsung dg ZN. Sbg sesama da’i, kami punya hubungan batin saling hormat dan saling dukung. Yg saya perhatikan adalah maklumatnya, yg sudah disebarkan oleh orang2 Indonesia dan Malaysia, yg jelas bukan pengguna bahasa Inggris dlm keseharian mereka. (Bila diperlukan, saya akan terjemahkan koreksian saya ke dalam bahasa Inggris. InsyaAllah!).
  • Ahmad Husein Aba Mardjani: Setuju 100 persen!
  • Ahmad Husein Saya sudah kirimkan ini ke Zakir Naik:

Assalãmu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakãtuh(u).

Dear Akhi Zakir Naik, your “ma’lumah” (معلومة) about transliteration (in writing) and/or spelling of the phrase of ان شاء الله has draw attention of much Muslim/Muslimah, particularly in Indonesia and Malaysia, as far as I am concerned.

I appreciated your intension highly. But there is something that made me a little unhappy.

Your ma’lumah is now spreading in the internet and was read by many Muslim and Muslimah, especially in Indonesia who – as a matter of fact – most of them do not understand Arabic and, even, they don’t know Arabic letter too. Besides of this, the transliteration of Arabic into Bahasa Indonesia and Arabic into English is not the same.

So, for example, when you transliterate the phrase of ان شاء الله into English as in shaa Allah, we in Indonesia learned that the two united letter of s and h (sh) is the same with (match of) the letter of ص (shad) in Arabic, not the ش which we transliterated it as syin.

Besides of it, your correction was focused to the matter of how to write the phrase (ان شاء الله). While, on the other hand, ummah – especially the awwam – were need to know how to spell it correctly the way as native speeker do. So here is the problem! While you advise ummah to spell the phrase (ان شاء الله) correctly with their tongue, the ummah in Indonesia particularly, read the word of shaa as elongated صا) ص).

Well, as a matter a fact, it’s not you the one who is to be blamed! But your ma’lumah was misunderstood by much of the awwam in Indonesia…

  • Mang Deden Pak Ahmad Husein, menurut saya yg versi bhs Inggris kok menjadi simpel sekali permasalahannya ya, :hanya seputar transliterasi “sh” ke “sy” ,tidak menyinggung soal gramatikal spt yg bapak uraikan dalam versi bhs Indonesia. Kalau begitu koreksi utk ZN pun mjd simple:” In Shaa Allah” dlm bhs Indonesia salah, yg betul “In Syaa Allah”. Bukankah menurut pak Husein seharusnya in syaAllah atau insyaAllah ? . Lalu bgmn dg statement bapak: “, Zakir Naik melakukan kekeliruan secara bahasa (sharaf) ketika ia memberi contoh frasa insyaAllah atau inshallah sebagai berati menciptakan Allah (create Allah),” ? menurut saya justru itu bagian yg paling menarik utk disampaikan ke ZN..krn jika bapak benar maka maklumat ZN ini tidak hanya konyol utk orang Indonesia saja (krn masalah transliterasi) tapi juga utk umat Islam sedunia karena dia – menurut Bapak- salah mengartikan frasa “insyaAllah”.
  • Aba Mardjani Menurut sy yg alhamdulillah awam ini, justru penulisan Allah untuk pelafalan lisan Alloh/Olloh yang mungkin perlu dikoreksi. Setidaknya Alloh kalau bukan Olloh sesuai penyebutannya, karena Allah jika bisa dibaca seperti tertulis ya al-lah gitulah. Mohon maaf jk ada salah-salah, Sein….
  • Ahmad Husein Mang Deden: Saya menunggu jawaban dri ZN. Bila dia sudah menjawab, kritik secara keseluruhan akan saya ajukan. Jadi, jelas tulisan di atas itu bukan terjemahan dri kritik saya selengkapnya, yg saya katakan akan saya terjemahkan bila perlu. Tanda titik tiga (…) di akhir kalimat adalah isyarat bhwa tulisan itu blm selesai. Ini akan dimengerti oleh org seperti ZN.
  • Ahmad Husein Aba Mardjani: Para ahli bahasa Arab seluruh dunia mengakui bahwa dlm bhs Arab tidak ada huruf “o”. Hanya orang Indonesia yang menulis (dan mengucapkan) “Alloh”. Kl ga salah sih…
  • Benar Al-Qur’an BerbobotIlmiah TiadaTanding Mulai bergerak taraf antar Bangsa yac Bang Ahmad Husein^_^
  • Ahmad Husein Tergantung keperluan. Dan, yg pasti, tergantung sangat pd kepastian Allah.
  • Benar Al-Qur’an BerbobotIlmiah TiadaTanding InsyaAllah saya dukung dengan do’a^_^
Benar Al-Qur'an BerbobotIlmiah TiadaTanding's photo.

twitter.com

Instantly connect to what’s most important to you. Follow your friends, experts, favorite celebrities, and breaking news.
  • Mang Deden yg menarik lagi, akun twitter zakirnaikfans ini tegas tegas melarang utk menyebarkan informasi salah tsb: “Please don’t spread wrong information without any official confirmation”
  • Ahmad Husein Itulah pula sebabnya saya tidak serta merta menerjemahkan kritik saya. Saya ingin mendapat korfimasi dulu dr ybs. Bila ternyata beliau tak pernah mengeluarkan maklumat tsb, cukuplah krtikan saya ditujukan utk isi maklumat, dg menghapus nama ZN.

Comments
3 Responses to “Koreksi Yang Harus Dikoreksi (Tanggapan Untuk Maklumat Yang Mengatasnamakan Zakir Naik)”
  1. MDW says:

    Alhamdulillah,, akhirnya ada yang mengupas habis….
    Orang (yang empunya blog) seperti ini harus dan wajib dilestarikan.. Karena,, sadar atau tidak sadar,, umat islam sedang diserang dari “berbagai arah” oleh kaum zionis & iluminati…. Mereka ahli “menyelipkan” kesalahan diserentetan kebenaran….

  2. Rusmin nurydin says:

    Assalmualaikum wr wb
    Saya kira. Kita koreksi pemisahan hurufnya ajja ,insya Allah

    Jadi “in syaa Allah” ,silahkan artikan sendiri,
    Kalo in shoo Allah “asing tapi cukup menarik ,buat bangsa. INDONESIA

  3. Zunnur 'Ayn says:

    Alhamdulillaah… kalau begini kan enak, jadi jelas semua. belajar tentang ilmu agama memang gak boleh sembarangan comot sana comot sini tanpa mengkajinya terlebih dahulu.. kalau begitu kan jadi jatuhnya taqlid. kayak makan nasi langsung ditelan tanpa dikunyah dahulu. padahal sekarang ini bahkan ajaran Islam yang serong telah banyak masuk di internet maupun buku” islam. kalau gak teliti itu bisa meracuni otak orang muslim.. syetan kan cerdas banget bikin muslim goyah keyakinannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: