Bagaimana Bisa Jadi Al-Quran Berjalan?

Seorang teman mengeluh:
Bukankah setelah kita ngaji
Wawasan kita harus seperti yang kita kaji
Sama seperti halnya wawasan Nabi?

Bukankah setelah kita membaca

Pandangan kita harus seperti yang dibaca?

Bukankah harapan kita
cita-cita kita
impian kita
ambisi kita
obsesi kita
Seharusnya sama seperti Nabi kita?

Mengapa kita, atau setidaknya saya
Masih merasa serba salah?
Berpikir salah
Bertingkah salah
Mondar-mandir
Pontang-panting
Tak keruan arah!

Kata guru wawasan tak terpisahkan dari bahasa
Tapi mengapa saya selalu merasa tersiksa
Setiap memulai belajar bahasa?
Guru bilang jadikan bahasa Al-Quran seperti bahasa ibu!
Tapi setiap ada pelajaran bahasa, saya ambil langkah seribu
Ilmu sharaf bikin saya sakit saraf
Ilmu nahwu sampai sekarang saya tidak tahu
Sama ilmu balaghah saya masih ogah

Duh, wawasan dan bahasa Al-Quran!
Begitu sering saya dengar dan diucapkan
Tapi masih jauh dari jangkauan

Bagaimana saya bisa mimpi seperti Nabi?
Bagaimana bisa jadi Al-Quran berjalan?
Yang ada, Al-Quran perlahan saya tinggalkan
Dan saya menyelimuti diri
dengan segala kegalauan… !

*Bekasi, 17-12-2013

Sedih

Comments
One Response to “Bagaimana Bisa Jadi Al-Quran Berjalan?”
  1. soreang bansel says:

    sammaa…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: