Makin Taat Makin Antipoligami (?)

Promotor poligini: Salah satu sisi kontroversial dari Puspo Wardoyo adalah beliau beristri banyak atau poligami. Bahkan Puspo Wardoyo mendukung acara Poligamy Award, semacam penghargaan untuk lelaki yang beristri banyak. Istri pertama Puspo Wardoyo adalah Rini Purwanti, 48 tahun, menikah di Medan, Sumatera Utara tahun 1979.[1] Rini Purwanti adalah sarjana pendidikan lulusan Universitas Sebelas Maret, Solo, Jawa Tengah, yang mengajar di Medan.[1] Istri kedua adalah Supiyati, 46 tahun yang merupakan karyawati restoran milik Puspo Wardoyo yang dinikahi tahun 1996. Setahun kemudian, Puspo Wardoyo kembali menikah dengan Anisa Nasution usia 44 tahun.[1] Kemudian tahun 1999 Puspo Wardoyo menikah dengan Intan Ratih.[1] Istri pertama dan istri kedua menetap di Medan, istri ketiga menetap di Tangerang dan istri keempat menetap di Semarang. Kini Puspo Wardoyo sudah memiliki 15 orang anak.

Promotor poligini yang sempat menghebohkan: Puspo Wardoyo.
Salah satu sisi kontroversial dari Puspo Wardoyo adalah beliau beristri banyak atau poligami. Bahkan Puspo Wardoyo mendukung acara Poligamy Award, semacam penghargaan untuk lelaki yang beristri banyak. Istri pertama Puspo Wardoyo adalah Rini Purwanti, 48 tahun, menikah di Medan, Sumatera Utara tahun 1979.[1] Rini Purwanti adalah sarjana pendidikan lulusan Universitas Sebelas Maret, Solo, Jawa Tengah, yang mengajar di Medan.[1] Istri kedua adalah Supiyati, 46 tahun yang merupakan karyawati restoran milik Puspo Wardoyo yang dinikahi tahun 1996. Setahun kemudian, Puspo Wardoyo kembali menikah dengan Anisa Nasution usia 44 tahun.[1] Kemudian tahun 1999 Puspo Wardoyo menikah dengan Intan Ratih.[1] Istri pertama dan istri kedua menetap di Medan, istri ketiga menetap di Tangerang dan istri keempat menetap di Semarang. Kini Puspo Wardoyo sudah memiliki 15 orang anak. (Teks dari Wikipedia, gambar dari Business Opportunity).

Suatu hari Jonny Sembiring, seorang gembong perampok tahun 1960an, bertemu dengan WS Rendra, penyair dan dramawan Indonesia yang waktu itu sedang ramai jadi bahan pembicaraan karena berpindah agama dari Kristen ke Islam. Mengetahui bahwa Renda mempunyai istri lebih dari satu, Jonny yang Kristen bertanya, “Maaf, apakah anda masuk Islam bukan karena dalam Islam ada ijin beristri lebih dari seorang?”

Rendra pun menjawab, “Tentu saja bukan. Tapi, secara jujur harus saya akui bahwa hal itu menjadi salah satu alasannya!”

Buku Mengislamkan Jawa, pada halaman 52 memuat sebuah kutipan demikian:

… Sekitar tahun 1870, seorang Bupati menegaskan komitmennya untuk tetap memeluk Islam dalam pengertian yang lebih instrumentalis daripada spiritual. Dia telah menunjukkan antusiasmenya terhadap segala sesuatu yang berbau Belanda. Karenanya, seorang kenalan Belanda bertanya kepadanya bilakah ini berarti bahwa dia akan beralih menjadi Kristen. Bupati tersebut menjawab, “Ah, … sejujurnya, saya lebih senang memiliki empat istri dan satu Tuhan daripada satu istri dan  tiga Tuhan.”

Dan, cukup mengejutkan ketika uraian-uraian berikutnya dalam buku itu memberikan gambaran bahwa di kalangan orang Jawa yang beridentitas santri, poligami (yang benar poligini: beristri lebih dari seorang, sebagai kebalikan dari poliandri) justru jarang terjadi.

Gambaran itu mengajak kita untuk menyimpulkan bahwa poligini (justru!) banyak dilakukan oleh para muslim yang kurang taat!

Bagaimana menurut anda?

Comments
3 Responses to “Makin Taat Makin Antipoligami (?)”
  1. Robby says:

    Maaf mas, menurut saya justru lebih mendingan para awam pelaku poligami tsb, daripada di kalangan santri justru banyak terjadi kemunafikan: banyak ustadz/ulama yang ternyata melakukan sodomi & perkosaan, padahal mereka yang tahu banyak tentang Diin ini seharusnya menjadi teladan bagi orang-orang yang awam, bukan malah sebaliknya..oleh sebab itu, banyak dari kalangan non-muslim yang mencela Islam karena kemunafikan oknum2 yang mengaku faham tentang Islam, tapi ternyata mereka tidak berakhlak baik sebagainya yang seharusnya ditunjukkan. Sehingga mereka menodai kesucian dan citra baik agama mereka sendiri.
    Oh ya, ngomong2, saya sendiri mualaf, mantan orang Katolik. ^_^

  2. Ahmad Haes says:

    Ya, saya memang mendengar kasus2 seperti itu. Tapi bukan berarti semua begitu. Di lingkungan gereja Katolik juga kan santer berita tentang sodomi, pelecehan seksual terhadap anak, dsb. Tapi kan tidak berarti semua begitu.

  3. Robby says:

    @Ahmad Haes
    Ya, memang bung..namun menurut saya memang sangat disayangkan, bahwa walaupun tentu masih jauh lebih banyak pesantren yang benar, namun ternyata ada pula orang2 munafiq pada pesantren2 tertentu yang berkedok ‘ustadz/ulama’ namun berperilaku seperti itu, ditambah lagi dengan sikap para non-muslim yang kebanyakan selalu menilai Islam hanya sekedar dari perbuatan2 buruk para oknum muslim, maka jadilah Islam itu terkesan buruk di mata mereka😦
    Beruntung saya bukan type orang yang mudah untuk menilai agama orang lain hanya dari perbuatan oknum2. Melainkan saya mempelajari secara langsung apa yang sebenarnya diajarkan dalam Islam. Dan dari situlah saya ketahui: bahwa Islam sejati tidak mendukung adanya korupsi, percabulan (perkosaan, sodomi, dsb.), penghinaan terhadap agama2 lain, ekstrimisme terhadap minoritas, terorisme, dll.
    Dan setelah secara teliti dan jujur membandingkan antara ajaran Islam dengan ajaran agama saya waktu itu, maka saya memilih untuk masuk Islam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: