Dalam Kegalauan, Barat Menobatkan Mandela Jadi Santa

Oleh Pepe Escobar

Nelson MandelaDecember 09, 2013 “Information Clearing House –  Hati-hatilah terhadap para orang asing yang membawa hadiah-hadiah. Pemberian hadiah yang sekarang sedang berlangsung adalah ‘penobatan galau’ Nelson Mandela sebagai santa (orang suci; wali). Para “orang asing”-nya adalah fraksi elite  global yang hanya berjumlah 0.0001 (dari warga dunia) yang benar-benar memegang kendali (otomatis termasuk media).

Yang mereka bangun adalah Menara Babel, tumpukan dari lapis demi lapis kemunafikan – mulai dari Amerika sampai Israel, dan dari Prancis hingga Inggris.

Hal yang sebenarnya mutlak harus dikubur di bawah menara tersebut adalah rejum apartheid di Afrika Selatan yang disponsori dan dipertahankan dengan penuh semangat oleh Barat, sampai menara tersebut hampir ambruk, secara harfiah, karena beban kontradiksinya sendiri. Hal satu-satunya yang menjadi masalah adalah ekonomi kapitalis Afrika Selatan dan sumber-sumber alamnya yang mahabesar, dan peran Pretoria dalam memerangi komunisme. Apartheid, paling banter, hanya gangguan.

Mandela diijinkan menjadi santa oleh 0.0001%, karena dia membentangkan tangaan kepada penindas berkulit putih, yang memanjarakannya selama 27 tahun. Dan juga karena dia menerima – atas nama “rekonsiliasi nasional” –  bahwa para pembunuh apartheid tak akan diadili, tidak seperti para Nazi.

Di tengah katarak persembahan-persembahan emosional dan pemasaran ikon yang sangat bodoh itu, secara jelas terlihat adanya intaian dari korporasi media Barat atas kukuhnya penolakan Mandela untuk menguburkan perjuangan bersenjata atas apartheid (bila ia melakukan hal itu, dia tak akan dipenjarakan selama 27 tahun); pernyataan terimakasihnya terhadap Fidel Castro – yang selalu mendukung rakyat Angola, Namibia dan Afrika Selatan dalam memerangi Apartheid; dan dukungan abadinya terhadap perjuangan kemerdekaan Palestina.

Para generasi muda, terutama, harus diberi tahu bahwa selama Perang Dingin, setiap organisasi pejuang kemerdekaan kaum tertindas di dunia berkembang selalu dicap sebagai ”teroris”. Itulah “perang melawan teroris” versi Perang Dingin. Baru sejak akhir abad 20 perlawanan terhadap apartheid diterima sebagai perjuangan moral yang mulia; dan Mandela, tentu saja, tepat sekali menjadi “wajah universal” untuk perjuangan tersebut.

Sungguh mudah untuk melupakan juru selamat konservatif seperti Ronald Reagan – yang dengan penuh semangat mengelu-elukan benih Al-Qaeda (al-qã’idah) sebagai “para pejuang kemerdekaan” – yang dengan keras menentang perjuangan anti-apartheid, dan mencap African National Congress (ANC) sebagai “organisasi teroris” (di atas cap yang diberikan Washington terhadap ANC sebagai “komunis”).

Hal serupa juga terjadi dengan Dick Cheney, anggota Kongres dari Wyoming. Dan Israel bahkan menawarkan senjata nuklirnya kepada orang-orang Afrika di Pretoria – dengan harapan akan digunakan untuk menghapus komunis Afrika dari peta dunia.

Dalam kunjungannya yang menghebohkan di tahun 1990, sebagai orang bebas, Mandela secara jitu memuji Fidel Castro, ketua PLO Yasser Arafat, dan Kolonel Qaddafi sebagai “teman seperjuangan: “Tak ada alasan apa pun bagi kita untuk meragukan komitmen mereka atas hak asasi manusia”, katanya, seperti dikutip koran Wall Street yang terbit di Washington.

Dan, pada tahun 2003, ketika AS menyerang Irak dan memperluas perang melawan terornya, Mandeka mengatakan, “Bila ada satu negara di dunia ini, yang melakukan kekejaman yang tak terlukiskan dengan kata-kata, maka itulah Amerika Serikat.”

Tak heran bila Mandela tetap terdaftar sebagai teroris sampai, selambat-lambatnya, tahun 2008.

Dari teroris menjadi santa

Pada awal 1960an – ketika AS sendiri mejalankan apartheid di Selatan – sulit diramalkan sejauh mana “Madiba” (nama klan Mandela), pengacara perlente dan pecinta tinju itu akan mengadopsi strategi tanpa kekerasan versi Gandhi untuk mengakhiri nasib buruk bangsanya melalui kemauan politik. Namun benih-benih invictus (tak tertaklukkan) sudah ada di sana.

Yang membuat Mandela rumit namun menarik adalah kenyataan bahwa ia pada waktu itu seorang demokratis yang sosialis. Tentu bukana kapitalis. Dan bikan pasifis juga. Sebaliknya, ia akan menerima kekerasan sebagai alat untuk mencapai suatu tujuan. Dalam buku-buku dan pidato-pidatonya yang tak terhitung, dia selalu mengakui kelemahan-kelemahannya. Sekarang mungkin ruhnya sedang menyeringai menanggapi semua pemujaan atas dirinya.

Tanpa Mandela, barangkali, Barack Obama akan pernah mencapai Gedung Putih. Obama mengakui dalam sebuah rekaman bahwa aksi politik pertamanya adalah melakukan demo anti-apartheid. Tapi, mari kita tegaskan: Mr. Obama, anda bukan Nelson Mandela.

Untuk meringkas proses yang sangat rumit, dalam sakitnya kelahiran apartheid, rejim ini terperosok ke kedalaman lumpur  korupsi massal, untuk pembelajaan militer yang nyaris membuat kota-kota meledak. Dicampur dengan para serdadu Kuba yang menendangi pantat para serdadu Afrika Selatan (yang didukung AS) di Angola dan Namibia, dengan ketidakmampuan membayar pinjaman-pinjamban Barat, maka terbentuklah sudah resep untuk kebangkrutan.

Perjuangan revolusi terbaik dan paling cemerlang – seperti konteks Mandela – adalah dalam penjara, dalam pengasingan, mati terbunuh (seperti Steve Biko) atau “dihilangkan”, seperti dalam gaya komplotan Amerika Latin. Perjuangan kemerdekaan sesungguhnya pada waktu itu terjadi di luar Afrika Selatan – di Angola, Namibia dan di negara-negara baru merdeka seperti Mazambik dan Zimbabwe.

Sekali lagi, jangan salah; tanpa Kuba – seperti ditekankan Mandela lewat tulisannya pada Maret 1988 – “tak akan ada kemerdekaan benua kita, dan rakyatku, dari bencana apartheid”. Sekarang, suruh salah seorang dari 0.0001% itu mengakui hal ini.

Meski rejim – yang didukung Barat – itu menjelang runtuh, mereka mencium sebuah pembukaan. Mengapa tidak bernegosiasi dengan orang yang telah diasingkan dari muka bumi sejak 1962? Tak ada lagi gelombang perjuangan kemerdekaan Dunia Ketiga. Afrika terperosok ke dalam perang, dan semua jenis revolusi sosialis telah digebuk, mulai dari Che Guevara yang dibunuh di Bolivia pada tahun 1967, sampai Allende yang dibunuh dalam kudeta di Chile pada tahun 1973.

Mandela harus menyusul ini semua dan juga harus menangkap kejatuhan Tembok Berlin dan akhir sesuatu yang dikatakan para intelektual Eropa sebagai real socialism. Dan kemudian dia harus mencoba mencegah sebuah perang saudara, dan keruntuhan total ekonomi Afrika Selatan.

Rejim apartheid cukup cerdik untuk mengamankan kendalinya atas Central Bank­ – dengan bantuan darurat dari IMF – dan kebijakan perdagangan Afrika Selatan. Mandela hanya mengamankan kemenangan politik (yang sangat penting). ANC hanya menemukan dirinya dimusuhi ketika mengambil kekuasaan. Lupakan ide sosialisnya untuk menasionalisasi industri pertambangan dan perbankan – yang dimiliki kapitalis Barat, untuk menyalirkan keuntungan-keuntungannya kepada rakyat pribumi. Barat tak akan mengijinkan. Dan, yang semakin memperparah, ANC akhirnya dibajak oleh gerombolan yang rakus.

Ikuti skenarionya

John Polger menunjuk economic apartheid di Afrika Selatan sekarang muncul dengan wajah baru.

Patrick Bond telah menulis expose (pengungkapan) terbaik tentang di mana saja tahun-tahun Mandela – dan warisan-warisannya.

Dan Ronnie Kasrils adalah orang yang berani membedah kesalahan Mandela dan ANC menerima perjanjian setan dengan pihak-pihak yang layak dicurigai.

Intinya: Mandela mengalahkan apartheid tapi dikalahkan oleh neoliberalisme. Dan itulah rahasia busuk yang membuatnya boleh dinobatkan sebagai santa.

Sekarang tentang masa depan. Achille Mbembe, sejarahwan dan guru besar ilmu politik yang “Cameroonian”, sekarang merupakan salah satu intelektual Afrika yang termashur. Dalam bukunya, Critique of Black Reason, yang baru terbit di Pancis (belum di Inggris), ia memuji Mandela, dan menekankan agar orang Afrika menemukan bentuk-bentuk kepemimpinan baru, yang merupakan prasyarat bagi mereka untuk mengangkat martabat mereka sendiri di dunia. Dengan sangat manusiawi, Mandela telah menyediakan peta-jalannya. Semoga Afrika bisa melahirkan satu, dua, seribu Mandela baru.

*Pepe Escobar is the roving correspondent for Asia Times/Hong Kong, an analyst for RT and TomDispatch, and a frequent contributor to websites and radio shows ranging from the US to East Asia.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: