Duit Itu Seperti Air (Maka Alirkanlah)

Duit3

Ada seorang teman mengeluh di facebook. Dia menulis status begini: Pengeluaran remnya blong…….nylonooong aje….kayak babi ketika berlari….. Pemasukan merambat kayak jalannya keong. (jidat panaaas).

Bagaimana pendapat anda?

Di balik keluhan itu sebenarnya ada pelajaran sangat penting yang harus direnungkan dan kemudian diangkat ke permukaan.

O, ya? Pelajaran tentang apakah itu?

Tentang sifat rejeki (rizqi).

Hm, bagaimanakah gerangan sifat rejeki itu?

Mengalir! Dari hulu ke hilir!

Seperti air?

Iya.

Jadi ingat banyak orang yang mengatakan bahwa duit itu seperti air…

Memang. Dan bukan hanya duit. Semua rejeki, apa pun bentuknya, sifatnya mengalir, dan harus dibiarkan mengalir. Bila tidak, bencana pembusukan dan kekeringan terjadi.

Wow! Ini menarik. Bagaimana penjelasannya?

Harap diperhatikan bahwa Allah memberi kita dua bentuk rejeki. Rejeki pertama adalah bumi dan segala isinya yang dihidangkanNya sebagai ma’isyah (sarana hidup fisik). Silakan anda periksa, misalnya surat Al-A’raf ayat 10. …

Terus… yang kedua?

Wahyu, atau ilmu… Atau konkretnya untuk zaman kita adalah Al-Qurãn!

Wow! Baru dengar ada yang menyebut Al-Qurãn sebagai rejeki!

Haha! Memangnya anda tak pernah mendengar istilah “rejeki dari langit” (رزقا من السماء)?

Lho, bukankah rejeki dari langit itu adalah hujan?

Hujan pada dasarnya adalah  air yang berasal dari bumi juga kan?. Dan hujan adalah rejeki yang menguntungkan sebagian penerimanya, tapi bisa merugikan yang lain; misalnya karena menimbulkan banjir. Sedangkan Al-Qurãn, siapa pun yang mau menerimanya, pasti beruntung!

Ooo, begitu ya? Terus, tadi anda katakan bahwa kedua rejeki tersebut mempunyai sipat “mengalir seperti air”?

Iya.

Bagaimana jelasnya?

Tadi anda menyebut duit kan? Nah, bukankah duit itu berasal dari satu sumber yang ada di atas?

Maksud anda?

Bukankah duit itu berasal dari atasan kita, pemerintah?

Ow, ya, ya! Terus?

Dari atas, dari pemerintah, mengalir ke bawah, ke rakyat kan?

Iya…

Sayangnya, alirannya terhambat, terseok-seok, tersendat… sehingga tidak semua rakyat mendapatkannya.

Nah, itu dia! Mengapa bisa begitu?

Karena, ibarat air, sistem irigasinya jelek, atau terganggu, atau rusak!

Jelasnya?

Duit itu alat ekonomi kan?

Iya!

Tapi, sekarang duit sudah berubah menjadi alat dagang saja…

Lho, bukankah ekonomi itu identik dengan dagang?

Tidak. Pada mulanya, ekonomi berarti “penyelenggaraan kebutuhan hidup”. Entah sejak kapan ekonomi menjadi (hanya) berarti dagang…

Wah, wah, kok saya tidak tahu soal itu sih… ?

Kebanyakan orang memang tidak tahu soal itu. Karena itulah, dunia diramaikan dengan perdagangan, tapi ekonomi (penyelenggaraan kebutuhan hidup) rakyat di mana-mana terbengkalai.

Waduh… Jadi, pokok masalahnya di mana tuh?

Yaa itu tadi. Perubahan, atau penyimpangan cara pandang (paradigma). Bila semula, entah kapan, mungkin sejak Tuhan menciptakan manusia, ekonomi diajarkan sebagai konsep penyelenggaraan kebutuhan hidup bersama, belakangan berubah menjadi konsep perdagangan.

Kalau bicara kebutuhan hidup, bukankan Tuhan sudah menyediakan segalanya?

Iya. Tadi kan sudah saya sebutkan bahwa Allah menyediakan bumi dengan segala isinya sebagai sarana hidup manusia.

Terus…?

Terus, masalahnya, sarana itu harus diolah sedemikian rupa, dengan berbagai cara. Selain itu, ternyata manusia itu cenderung berlomba, bahkan berebutan, serakah, dan lain sebagainya; sehingga akhirnya harus dibentuk sebuah cara untuk mengatur agar rejeki bisa dinikmati secara bersama-sama. Ringkas cerita, peraturan pun lahir; dalam bentuk sistem ekonomi seperti yang kita kenal sekarang.

Maksud anda sistem ekonomi kapitalis?

Begitulah singkatnya.

Di mana letak kesalahan sistem ekonomi kapitalis?

Rejeki tidak lagi mengalir lancar ke pihak-pihak yang membutuhkan, karena ada pihak-pihak yang membelokkan alirannya, ada yang membuat bendungan, dan sebagainya. Al-hasil, ada timbunan-timbunan rejeki yang menggunung, ada danau-danau yang airnya meluap… Sementara di lain pihak, ada yang menderita kekeringan.

Waduh… Terus, bagaimana mengatasi hal ini?

Gampangnya, tinggalkan sistem ekonomi kapitalis!

Tapi, itu kan tidak gampang!

Memang. Tapi, bisa gampang juga bila kita sadar bahwa inti masalahnya ada di dalam jiwa kita, di dalam pikiran dan perasaan kita.

Jelasnya?

Kita telah disesatkan oleh pikiran dan perasaan kita. Kita cenderung berpikir bahwa dunia ini adalah tempat yang kekal, dan kita harus menguasainya untuk kita sendiri, bukan untuk dinikmati bersama semua orang. Bila kita berpikir sebaliknya, tentu yang akan terjadi adalah keadaan sebaliknya dari keadaan sekarang.

Hmh, itu kan hanya impian!

Iya. Tapi, bukankah segala sesuatu yang terjadi di dunia ini hakikatnya bersumber pada impian? Dan tahukan anda, bahwa impian itu bisa ditulis menjadi sebuah konsep, sebuah undang-undang, sebuah sistem?

Wahhh, saya tak tahu! Pikiran saya tak sampai ke situ!

*Bekasi, 2-12-2013.

 

Comments
2 Responses to “Duit Itu Seperti Air (Maka Alirkanlah)”
  1. ali says:

    Mohon petunjuk darimana teori ekonomi adalah “penyelenggaraan kebutuhan hidup”….
    terima kasih pak

  2. Ahmad Haes says:

    Bacalah buku2 dan atau tulisan2 tentang definisi ekonomi. Perhatikan pengertian istilah ekonomi yg berasal dari oikos nomos.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: