Bagaimana Menulis (إن شآء الله)?

Ini contoh aslinya dari surat 37:102: (… إِنْ شَاءَ اللهُ). Perhatikan bahwa ini kalimat syarat (conditional) yg terdiri dari tiga unsur. Yang pertama, in, adalah harfu syarthin (conditional particle), yang berarti: jika, seandainya dsb. Yang kedua, syã’a, adalah kata kerja lampau yang berarti hendak atau menghendaki. Yang ketiga, jelas itu “lafzhul-jalalah” (istilah untuk nama Allah).

Yang sulit di sini adalah penulisan dua kata yang terakhir (شَاءَ اللهُ) ke dalam huruf Latin. Masalahnya, pada kata Allah terdapat hamzah washl, yaitu huruf alif yg lebur ketika terletak di antara dua kata. Karena itu, saya memilih untuk menyambung kedua kata tsb., sehingga menghasilkan tulisan seperti ini:  “in syaAllah”; atau ketiga-tiganya saya sambung: insyaAllah, yang akan dibaca orang Indonesia secara relatif sama dengan tulisan dalam huruf aslinya dan atau ucapan asli dari pembicara aslinya.

Kadang saya juga menulis seperti ini: in syaAllah(u), untuk menegaskan bahwa yg menjadi subjek di situ adalah Allah (ditandai huruf u dlm kurung, sdbagai tanda i’rab marfu, yang memastikan Allah sebagai subjek).

Perhatikanlah ini! Bila saya menulis “insyAllah(a)” atau in syaAllah(a), misalnya, maka Allah menjadi objek!

Dalam contoh yang diajukan di atas (lihat gambar), tulisannya yang benar, dlm arti akan membuat pembaca awam membaca secara relatif benar, seharusnya: “inyã’ullah(i)”. Dalam ilmu nahwu, ini namanya tarkîb idhãfi (= kata majemuk). Artinya adalah “peciptaan Allah”, dan ini belum tentu menempatkan Allah sebagai objek! Dalam kalimat “ini adalah konsep penciptaan Allah”, misalnya, yang dibicarakan adalah “konsep penciptaan” menurut Allah.

Sedangkan contoh di bawahnya, jelas itu adalah ejaan versi bahasa Inggris. Di sana gabungan huruf s dan h (sh) adalah ‘padanan’ untuk s dan y (sy) dalam ejaan kita (Indonesia).

Jadi, yang perlu diperhatikan di sini adalah bahwa penyalinan huruf (transliterasi) dari bahasa apa pun ke dalam bhs Indonesia, tujuannya adalah menjaga sedemikian rupa agar kita mengucapkannya secara relatif sama dengan pembicara aslinya. Karena itu, saya tak setuju dengan pihak yang cenderung menyalin kata-kata Arab dengan mengacu pada huruf-huruf aslinya, karena bisa menghasilkan kesalahan ketika dibaca (diucapkan) oleh orang awam (tak mengerti bahasa Arab, bahkan tak tahu huruf Arab). Contoh: tulisan “bayt(u) al-Laah(i)” tentulah membingungkan orang awam, dibandingkan “baitullah”.

Akhir kalam, saya menganjurkan dengan sangat agar para muslim/muslimah mengalokasikan waktu mereka untuk mempelajari bahasa kitab suci mereka, supaya tidak tetap dalam kebutaan, yang otomatis selalu rawan untuk digiring ke arah yang salah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: