Murid Yang Penasaran Soal Kriminalisasi Dan Demo Dokter

demo dokter

Seorang murid SD merasa prihatin mengetahui ada seorang dokter wanita masuk penjara, dan ia pun merasa prihatin ketika para dokter berdemo, yang menyebabkan ibunya yang akan melahirkan menjadi stres. Maka ketika ia bertemu dengan guru bahasa Indonesianya, terjadilah obrolan sebagai berikut:

Murid: Pak, bagaimana cara membedakan apakah seorang dokter bekerja profesional atau melakukan tindakan kriminal?

Guru BI: Suruh dia menulis kalimat “Saya tidak bersalah” sebanyak seratus kali.

Murid: Terus?

Guru BI: Bila tulisannya bagus, dia tak bersalah. Bila tulisannya jelek, dia bersalah!

Murid: Lho, tapi kan tulisan dokter jelek semua, Pak?

Guru BI: Nah, harap kamu tahu, Nak, bahwa tulisan yang jelek itu adalah hasil dari ketergesaan!

Murid: ???

Karena tak puas dengan jawaban guru bahasa Indonesia, si anak pun menemui guru matematika, dan menceritakan hasil dialognya dengan Guru BI. Terjadilah obrolan sebagai berikut:

Murid: Bagaimana menurut Ibu?

Guru M: Seharusnya si dokter melakukan perhitungan matematis sebelum dia bertindak.

Murid: Perhitungan matematis bagaimana, Bu?

Guru M: Dokter itu kan praktisi ilmu pasti. Ketika dia akan menangani pasien, pasti dia tahu jarak antara kehidupan dan kematian secara matematis. Nah, dia akan bekerja di tengah jarak itu, dan akan berusaha keras untuk tidak mendekati batas kematian.

Murid: Apakah batas kehidupan dan kematian itu memang bisa dilihat, Bu?

Guru M: Bukan dilihat dengan mata, tapi dihitung secara matematis!

Murid: Cara menghitungnya?

Guru M: Hanya si dokter yang tahu!

Murid: ???

Tak puas dengan jawaban Guru M, si murid menemui guru biologinya.

Murid: Bagaimana pendapat Bapak?

Guru B: Secara biologis, dokter itu kan tak ada bedanya dengan pasien!

Murid: Maksud Bapak?

Guru B: Yaa sama-sama bisa mati bila terjadi ketidak-seimbangan biologis dalam tubuhnya!

Murid: Masih belum jelas, Pak.

Guru B: Kamu kan masih SD. Kalau sudah kuliah, sudah sarjana, kamu pasti tahu dengan jelas!

Selanjutnya, si Murid menemui guru sejarahnya.

Murid: Bagaimana menurut Ibu?

Guru S: Ini akan dicatat dengan tinta emas dalam sejarah!

Murid: Apanya yang dicatat dengan tinta emas?

Guru S: Lha, ya itu, dokter dikriminalisasi, terus mereka pada demo gitu! Ini layak dicatat dengan tinta emas; karena ini merupakan preseden yang buruk dalam sejarah kedokteran Indonesia.

Murid: Terus, tinta emasnya beli di mana, Bu?

Guru S: Ga usah beli lah, Nak. Kita minta saja ke Freeport… Mosok minta sebotol kecil saja ga dikasih?

Si murid yang masih bingung, akhirnya menemui guru agama.

Murid: Bagaimana menurut Bapak?

Guru A: Hidup itu ibadah, Nak. Bekerja sebagai apa pun, bertindak apa pun, bila kita orang beriman, maka kita pada hakikatnya beribadah.

Murid: Beribadah itu sebenarnya apa, Pak?

Guru A: Beribadah itu “melakukan pengabdian terhadap Tuhan”. Tapi, masalahnya…

Murid: Masalahnya apa, Pak?

Guru A: Masalahnya, serius tidak bahwa kita percaya pada Tuhan?  Coba kamu pikit, Nak, hari ini kelompok profesi dokter mogok. Besok kelompok profesi apa lagi yang akan mogok? Wartawan? Polisi? pedagang? Petani?
Ketika satu profesi mogok, apakah mrk berhenti menggunakan jasa profesi2 lain? Semua butuh makan, minum, pakaian, dan berbagai jasa yg dihidangkan pihak-pihak lain. Apakah dokter, wartawan, polisi, jaksa, hakim, petani dll., bisa hidup tanpa menggunakan jasa2 pihak lain?

Apakah dokter lahir dari dokter juga? Wartawan lahir dari wartawan juga? Polisi lahir dari polisi juga? Apakah mereka hanya hidup dg sesama org yg seprofesi? Menikah dg org seprofesi saja? Dst. Dst.
Bukankah kehidupan manusia adalah siklus pertukaran jasa satu sama lain?
Dan bila kita beriman, bukankah semua profesi itu adalah amanah Tuhan? Bolehkan arogansi profesi ditonjolkan oleh orang2 beriman?

Murid: Saya tidak tahu, Pak.

Guru A:  Kamu masih kecil. Wajar kamu tidak tahu. Tapi mereka itu, yang sudah besar, dewasa, dan berpendikan tinggi, mosok tidak tahu?

Murid:  Mungkin mereka lupa…

Guru A:  Nah… Besar kemungkinan memang mereka lupa, atau lalai. Mungkin mereka lupa bahwa dasar negara kita adalah “Ketuhanan Yang Mahaesa”. Karena mereka lupa, ya otomatis mereka tidak melibatkan Tuhan dalam melakukan apa pun. Coba kamu pikir: Apakah pihak yang memenjarakan dokter bertanya kepada Tuhan? Apakah para dokter yang mogok dan berdemo, bertanya kepada Tuhan sebelum melakukan aksi mereka?

Murid: Tapi kan kita tidak bisa bertanya kepada Tuhan, Pak!

Guru A:  Iya, kita memang tidak bisa bertanya langsung kepada Tuhan, Nak, tapi kan Tuhan itu ada wakilNya di dunia ini…

Murid:  Lho, maksud Bapak?

Guru A: Tuhan kan punya ajaran, Nak. Ada kitab suciNya!  Itulah wakil Tuhan di bumi ini, yang bisa kita tanyai setiap saat.

Murid: Ooo, begitu ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: