Rekaman Ringkas Perjalanan ke Yogya

Yogya - becak

Yogya - Topo

Topo yang ‘eksentrik’ dan mudah terharu. Di belakangnya adalah sungai berair kecil yang biasa dilalui aliran lahar panas setiap Merapi meletus. “Saya membangun rumah dengan mengambil batu dan pasir dari sungai ini,” katanya menuturkan salah satu manfaat letusan Merapi.

Saya sudah beberapa kali ke Yogya, tapi belum tahu apa-apa tentang Yogya. Maklum, saya selalu langsung datang ke tempat acara yang biasanya berlangsung malam hari, dan besoknya segera pulang.

Kali ini, bersama istri, saya tiba di Yogya dini hari dan langsung pergi ke rumah teman yang berjarak sekitar 10 km dari stasiun kereta api Tugu. Membayangkan bentangan jarak 10 km, saya bertanya kepada sopir taksi, “Berapa lama bisa sampai ke sana? Satu jam?”

Pak sopir menjawab, “Oh, tidak! Paling lama 20 menit. Kebetulan ini hari Minggu, mudah-mudahan tak ada kemacetan.”

“Ya, ya, syukurlah. Saya bertanya demikian karena membayangkan lalu-lintas di Jakarta!” kata saya sambil tertawa.

Temanku Topo

Memang hanya sekitar 20 menit. Di depan pasar Rejodani (dibaca orang setempat sebagai Rejo Ndani), Topo (Sutopo Dwijianto) sobat saya yang agak eksentrik sudah menunggu bersama sepeda motornya. Dia kemudian membimbing taksi memasuki sebuah gang menuju rumahnya yang tak jauh dari pasar tersebut.

Rumah Topo rupanya ada di lingkungan perumahan dosen UGM. Cukup besar untuk ukuran orang Jakarta yang biasa tinggal di rumah minimalis. Rumahnya berdiri di atas tanah seluas 150 meter. Semua dihabiskan untuk rumah, kata istrinya yang manis dan ramah. Tapi tak lama kemudian, Topo bercerita bahwa hari ini (Ahad, 17 Novembar), pukul sepuluh pagi, ia akan mengikuti rapat pengurusan sertifikat tanahnya bersama sejumlah orang. Dari rapat itulah kemudian diketahui bahwa ia telah kehilangan tanahnya seluas 5 meter persegi, entah karena apa. Dan ia tak mau menuntut siapa-siapa, karena takut akhirnya malah jadi sulit mendapatkan sertifikat.

Saat itu juga saya baru tahu bahwa Topo adalah pendatang di kampung ini. Suatu ketika ia pernah mendapat kesulitan karena ia merupakan kader Partai Kami yang di Yogya dianggap sebagai penggembos Partai Amanat Nasional. Maklum, lambang Partai Kami dianggap mirip lambang PAN, dan warga kampung tersebut adalah pendukung PAN. Warga sekitar pernah menumpahkan amarah mereka dengan cara membabat kebun jambu milik Topo, dan Topo hanya diam terduduk di tepi kebunnya.

Urusan partai sudah berlalu. Topo akhirnya bisa diterima sebagai warga baru. Dan sebenarnya dia memang bukan orang asing di sini, karena dia pernah cukup lama aktif di sebuah pesantren terkenal di kampung ini, yang kemudian ditinggalkannya setelah kiainya wafat dan manajemennya menjadi amburadul.

Topo pun sempat menjadi ‘guru ngaji’ di sebuah masjid di situ, tapi kemudian berhenti gara-gara setiap bulan ia mendapat kiriman sekarung beras. Topo tak biasa mengajar dengan mendapat imbalan. Ia juga cukup rajin memperkenalkan kajian Al-Qurãn Menurut Sunnah Rasul kepada para dosen di situ, namun mereka menolak ketika ia mengajak mereka membuat jadual untuk mengaji secara rutin. Alasannya, mereka tak bisa mengatur waktu untuk pertemuan bersama.

Kedatangan saya dan istri ke rumah Topo memang telah membuka mata saya cukup lebar untuk mengetahui Topo agak lebih jauh. Selama ini saya hanya mengenalnya sebagai orang yang agak eksentrik, suka menulis puisi, dan gampang menangis (dia sangat mudah terharu!). Dia juga pernah bercerita bahwa kesukaannya adalah main teater, dan dia memang pernah bergabung dengan Rendra. Di Yogya sendiri, katanya, ia pernah merebut gelar prestasi tertinggi untuk bidang teater.

Yogya - pustaka TopoSelama ini saya mengenalnya sebagai orang yang cara berpikirnya ‘melompat-lompat’, sehingga sulit diikuti oleh kebanyakan orang. Tapi ketika saya lihat perpustakaan pribadinya di kamarnya yang dia sebut sebagai “Goa Hora”, saya jadi terhenyak dan agak malu. Di sebuah kamar berukuran sekitar 3×4 meter, Topo menyimpan dua buah komputer dan sebuah rak kecil buatan sendiri, dari papan murahan yang kasar. Tapi isi rak buku itu adalah kebanyakan buku-buku tebal berupa kamus bahasa Arab, beberapa tafsir klasik terkenal, buku-buku hadis Shahih Bukhari-Muslim, Musnad Syafi’i, dan lain-lain. Selebihnya adalah buku-buku sejarah, kebudayaan, sains, dan lain-lain. Pokoknya, dengan memperhatikan perpustakaannya, tahulah saya bahwa Topo sebenarnya seorang pemikir yang tertib, dan terutama terkesan bahwa ia adalah ‘orang pengajian’ yang tahu betul buku-buku apa saja yang harus dibaca untuk melengkapi dan atau memantapkan bahan-bahan yang pernah diterimanya dari guru.

 Para profesor di Batan

Malam itu, sesuai pesan Mas Fanani sebagai koordinator pengajar di Yogya, saya menyampaikan bahan Sistematika Al-Qurãn di hadapan  belasan bapak-bapak, ibu-ibu dan pria-wanita muda, yang secara keseluruhan belum saya kenal. Baru belakangan saya diberi tahu bahwa sebagian dari mereka adalah para dosen UGM, ahli atom, yang bergelar profesor/doktor.

Saya tertawa dalam hati, mengingat saya bukanlah orang terpelajar. Tapi, apalah artinya gelar-gelar itu, bila mereka (yang merasa muslim/mu’min) tidak mengenal Al-Qurãn? Gelar-gelar itu bisa membuat mereka berhati batu, membeku dalam arogansi dan kesombongan, atau  melambung tinggi dalam kebanggaan dan pemujaan orang, tapi bisa jadi juga suatu saat membuat mereka jatuh tersungkur, menangis tersedu-sedu, karena keterasingan mereka selama ini dari ilmu yang sebenarnya paling dibutuhkan: Al-Qurãn.

Usai menyampaikan materi, seorang bapak yang agaknya baru terkena stroke – terkihat dari keadaan tangan dan caranya berjalan – menghampiri saya dengan mengatakan, “Hebat! Hebat! Kapan ya saya bisa seperti anda?”

Saya menyambut tangannya sambil tertawa. Mengetahui bahwa ia – juga ternyata seorang profesor ahli atom – yang tentu saya tahu kualitas otaknya, saya pun mengatakan, “Bapak, in sya-Allah, dalam waktu singkat anda akan bisa seperti saya (atau bahkan lebih!)”.

Yogya - spd motorDi Yogya angkot tak laku

Malam itu kami menginap di rumah Mas Gatot, adik ipar Mas Fanani. Paginya Sdr. Iwan Muslim datang, membawa sekantung salak. Wow! Oleh-oleh salak jadi banyak sekali, karena sebelumnya istri Topo juga membelikan salak dua kali lipat dari yang dibawa Sdr. Iwan.

“Tadi malam saya tak bisa hadir, karena di rumah harus menerima banyak tamu,” kata Iwan. Setelah itu, ia pun bercerita bahwa ia baru saja menerima telepon dari Mas Fanani yang ada di Madiun, menanyakan tentang acara semalam. “Saya tak menjawab, karena saya belum bertemu Mas Husein!” katanya sambil tertawa.

Tak lama kemudian, Mas Gatot mengantar saya dan istri ke Stasiun Tugu. Sepanjang jalan kami menyaksikan gunung Merapi yang biru berselendang awan putih. Di internet ada berita sang mbaurekso Yogya ini sedang memuntahkan hujan abu, tapi abunya jatuh di arah timur, di Solo dan sekitarnya. Yogya sendiri aman.

Saya terus memperhatikan  keadaan jalan-jalan Yogya. Tiba-tiba istri saya bertanya, “Di sini ga ada angkot ya?”

“Wahh, di sini angkot ga laku!” sahut Mas Gatot. “Orang di sini kebanyakan menggunakan sepeda motor!”

Betul juga. Tak ada angkot. Mobil pun hanya sedikit. Jalan-jalan di Yogya lebih didominasi sepeda motor. Yang menarik, di sana-sini tampak sedikit becak tua melenggang. Dan di depan Stasiun Tugu, deretan becak pun terparkir cukup panjang bersama mobil dan sepeda motor. Tak ada angkot, yang di Jakarta menjadi salah satu penyebab kemacetan.

Kereta khusus wanita

Tiba di stasiun kereta Jatinegara, begitu turun dari kereta, kereta khusus wanita melintas pelan. Dari pintu-pintu yang terbuka, saya menyaksikan Yogya - stasiunpara wanita berdiri berdesakan, berdempetan. Tiba-tiba saya merasa ingin menangis!

Terharu, sedih, dan kesal bercampur-aduk.

Perasaan demikian itu makin bertambah ketika kami keluar dari stasiun untuk mencari taksi.

Hari menjelang maghrib. Para pedagang kaki lima segera membuka ‘pasar malam’ di sepanjang jalan. Trotoar mereka padati, bahkan separuh badan jalan. Kemacetan tak terelakkan. Pedagang kaki lima menguasai jalanan, diikuti angkot yang berderet ngetem. Satu-dua mobil pribadi saya lihat ditilang polisi, tapi angkot-angkot dibiarkan.

Dada terasa sesak menyaksikan anak bangsa yang cenderung egois, ngasal, ugal-ugalan, tak tahu membedakan mana salah mana benar, mana hak mana kewajiban. Kasihan pemimpin yang peduli peraturan dan disiplin seperti Jokowi dan Ahok. Entah sampai kapan mereka bisa bertahan dianggap dagelan.

Entah kapan neraka dunia ini berakhir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: