8 Alasan Pria Amerika Tak Mau Menikah

Telur perkawinan

By Helen Smith

November 02, 2013 “Information Clearing House – Tampaknya semakin sedikit dan semakin sedikit orang yang mau menikah sekarang ini, dan kaum pria bahkan lebih tidak berminat lagi. Kaum pria tidak lagi menganggap penting pernikahan  seperti 15 tahun lalu. Menurut   Pew Research Center, dari wanita berusia 18 sampai 30 – hanya 4 yang mengaku memiliki pernikahan yang sukses, merupakan peningkatan secara persentase – dari 28 persen menjadi 37 persen. Di pihak pria, yang terjadi adalah sebaliknya. Persentase keberhasilan mereka turun dari 35 persen menjadi 29 persen. Mengapa?

Dalam rangka riset buku baru saya, Men On Strike: Why Men Are Boycotting Marriage, Fatherhood, and the American Dream – And Why It Matters, (Pria Mogok: Mengapa Pria Memboikot Pernikahan, Menjadi Bapak, dan Impian Amerika – Dan Mengapa Hal Itu Menjadi Masalah), saya berbicara dengan pria di seluruh Amerika tentang mengapa mereka menghindari pernikahan. Terbukti bahwa masalahnya bukan karena pria tidak dewasa, atau malas. Sebaliknya, mereka merespon secara rasional iming-iming yang diberikan masyarakat sekarang. Berikut ini adalah di antara jawaban-jawaban mereka.

1. Hilang kehormatan. Beberapa generasi lampau, seorang pria tidak dianggap dewasa penuh sebeluh menikah dan punya anak. Tapi zaman sekarang, ayah lebih dianggap sebagai sosok penghibur (lucu) daripada terhormat. Mereka sering tampak di mal membawa tas belanjaan, di iklan-iklan komersial, atau dalam komedi situasi televisi. Di zaman sekarang, ayah bukanlah orang yang paling tahu. Berita-berita tentang mereka di media massa pun tidak lebih baik. Seperti dilaporkan guru besar komunikasi James Macnamara, “Secara persentase, 69 persen media massa melaporkan dan mengomentari pria secara tak menyenangkan, 12 menyenangkan, dan 16 persen netral atau seimbang.”

2. Kehilangan gairah seks. Pria menikah lebih banyak berhubungan intim daripada pria lajang, tapi secara rata-rata, makin lama makin berkurang dibandingkan mereka yang tidak menikah. Riset bahkan membuktikan bahwa wanita menikah cenderung menjadi gemuk dibandingkan mereka yang berhubungan intim di luar nikah. Sebuah tulisan tentang kesehatan pria menyebutkan bahwa studi terhadap 2.737 orang selama enam tahun menemukan bukti bahwa mereka yang melakukan hubungan seks di luar nikah lebih bahagia daripada yang menikah dan lajang.

3. Kehilangan teman. “Lonceng pernikahan membubarkan geng saya”, kata sebuah syair lagu lama. Dan itu benar. Ketika pria menikah, teman sekolah dan teman kerjanya menghilang. Meski wanita juga kehilangan teman akibat menikah, tapi yang lebih terpengaruh harga dirinya adalah pria; mungkin karena pria secara umum kurang suka bersosialisasi.

4. Kehilangan ruang. Kita sering mendengar pria menghilang ke dalam “goa lelaki”, tapi mengapa? Soalnya, mereka kalah dalam semua pertempuran di rumah. Sebuah blog memuat tulisan yang menyatakan bahwa gaya hidup pinggiran kota cenderung membawa semua anggota keluarga kumpul bersama, yang menyebabkan hilangnya ruang pria di bagian utama rumah, bahkan di loteng, garasi, lantai dasar (basement) – yang sebenarnya merupakan bagian-bagian rumah yang kurang diminati. Banyak pria, di rumahnya yang besar, bahkan hanya bisa kebagian WC untuk menyimpan barang-barang yang disukainya!

5. Kehilangan anak dan uang. Anak-anak bahkan bukan lagi anak anda! Banyak pria yang saya ajak ngobrol benar-benar prihatin dengan bahaya perceraian, dan takut bila percerian terjadi, wanita akan mengambil segalanya, termasuk anak. Banyak pula pria yang berpikir bahwa mereka lebih baik memelihara anak yang bukan anak kandung. Dalam blog saya, saya mengadakan polling untuk lebih dari 3200 pria, untuk menanyakan reaksi mereka bila anak-anak mereka bukan milik mereka lagi. 32 persen mengatakan bahwa mereka akan merasa “marah dan murka kepada ibunya”, 6 persen mengatakan bahwa mereka akan menderita depresi, 18 persen mengatakan “marah dan depresi”, 2 persen mengatakan “tidak untuk kedua-duanya” 32 persen mengatakan “marah pada peraturan yang memaksa mereka untuk membiayai”, dan hanya 2 persen yang mengatakan “masa bodoh”. Seorang pria mengatakan bahwa mantan istrinya mengejeknya dengan mengatakan bahwa anak lelakinya yang berusia 11 tahun sebenarnya bukan anaknya. “Saya marah… Saya sakit karena semua keterikatan saya dengan anak itu. Orang akan mengatakan ini sebagai kegagalan. Terus, apakah pengadilan akan memutuskan bapak non-biologis untuk membiayai si anak? Perhatian! Ya, mereka akan memutuskan demikian. Mereka memandang anda sebagai tak lebih dari sumber uang dari anak itu. Seharusnya pria yang menghadapi situasi ini dibolehkan untuk menuntut ayah biologisnya!”

6. Bakal kalah di pengadilan. Pria sering mengeluh bahwa sistem pengadilan keluarga diadakan untuk melawan mereka, dan kenyataannya memang seperti itu. Hampir sepanjang zaman, wanita memenangi hak asuh dan uang pemeliharaan anak, seperti yang ditegaskan dalam sebuah berita di ABC News: “Kendati pria pencari dan penerima tunjangan bertambah, para pengacara memperingatkan bahwa itu bukan tanda kesetaraan dalam pengadilan. Para hakim pengadilan keluarga masih cenderung menguntungkan wanita, kata Ned Holstein, pendiri grup Fathers & Families. “Pengadilan keluarga masih memberikan hak asuh secara berlimpah kepada para imu, tunjangan anak berlimpah kepada para ibu, dan pengadilan masih memberikan tunjangan perceraian berlipah kepada para ibu dan wanita,” katanya. “Pengadilan keluarga diadakan bertahun-tahun lalu untuk memberikan segala sesuatu kepada para ibu, segala sesuatu yang dibutuhkan para ibu. Zaman telah berganti, tapi pengadilan tidak berubah.”

7. Kehilangan kebebasan. Setidaknya, bila anda divonis untuk membiayai anak dengan jumlah uang yang tak bisa anda bayar, anda bisa masuk penjara. Dan bila anda tak mampu membayar pengacara, anda tidak punya hak mendapatkan pengacara yang dibayar negara, karena menurut Pengadilan Tinggi, hal itu secara teknis merupakan perkara perdata, tak peduli berapa lama anda harus meringkuk di penjara. Untuk urusan begini, pria lebih banyak yang masuk penjara daripada wanita.

8. Hidup melajang lebih baik. Sementara nilai pernikahan bagi pria telah menurun, kualitas hidup melajang meningkat. Dulu, pria lajang dicurigai, dilewati dalam kenaikan pangkat untuk jabatan-jabatan penting, yang biasanya dianggap hanya cocok untuk “pria dari keluarga yang stabil”. Pria lajang bahkan sering dianggap pembuat masalah dalam masyarakat. Pria lajang sulit mendapatkan kehidupan cinta seperti dalam perkawinan, dan seks di luar nikah dianggap berbahaya dan tercela. Tapi sekarang tidak ada lagi orang yang mempermasalahkan hidup melajang, berpacaran mudah, pemilik perusahaan pun lebih suka karyawan tidak punya tanggungan keluarga. Ditambah lagi dengan berbagai video game, teve kabel, dan internet yang menghidangkan hiburan yang dulu tak pernah ada.

Apakah hal ini baik bagi masyarakat? Mungkin tidak. Karena angka kelahiran menurun, dan banyak wanita menjadi orangtua tunggal. Tapi manusia selalu tertarik dengan iming-iming. Bila anda ingin banyak pria mau menikah, harus ada iming-iming yang lebih menarik bagi mereka.▲

CatatanHelen Smith (penulis): Saya hanya ngobrol dengan pria heteroseksual untuk keperluan menulis buku. Saya tidak menyertakan pernikahan sesama jenis, yang tampaknya akan menarik untuk riset berikutnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: