Ketimpangan Ekonomi, Dunia, Akhirat, dan Idealisme Koruptor

Ada beberapa hal yang menarik dari obrolan Pande Raja Silalahi dengan sebuah stasiun teve swasta pagi ini. Di antaranya, yang saya ingat: (1) Keadaan ekonomi antara 10% yang di atas sangat pincang bila dibandingkan dengan 10% yang di bawah; (2) Menurutnya, ketimpangan itu bisa segera diatasi bila pemerintah bisa segera menyediakan infra struktur seperti transportasi, pelabuhan dan jalan; (3) Cina bisa mengatasi masalah ini karena para pejabatnya kompak. Bila ada perintah dari atas, para pejabat di bawah melaksanakan sesuai perintah. Tapi di Indonesia, bila perintah menteri sampai ke gubernur, maka gubernur membelokannya ke kiri. Dan ketika sampai ke bupati, bupati membelokannya ke kanan.

Tentang ketimpangan di antara 10% kalangan teratas, yang keadaan ekonominya sangat baik, dan 10% kalangan terbawah, yang keadaan ekonominya sebaliknya, terburuk, saya membayangkan sebuah gambar piramida terbalik yang terbagi menjadi 10 bagian, demikian:

piramida terbalik

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

 

Bila gambar ini diibaratkan sebagai “kue pembangunan”, yang teratas adalah jatah kue untuk kalangan yang 10% tersebut, yang secara jumlah mereka adalah yang terkecil. Dan begitu seterusnya sampai kepada yang terbawah, sebagai penerima kue terkecil, padahal jumlah mereka adalah jumlah terbanyak (mayoritas) dari bangsa kita. Inilah gambaran ketimpangan rakyat dari segi ekonomi.       

Dan, menurut Pande Raja Silalahi, ketimpangan ini bisa diatasi bila pemerintah segera menyediakan infrastruktur berupa pelabuhan, jalan, dan transportasi. Tapi pembangunan infrastruktur ini terhambat oleh sikap para pejabat yang satu sama lain tidak kompak. Kebijakan dari atas selalu berbelok atau menyimpang berkali-kali, sesuai jumlah dan urutan pejabat di bawah. Itulah penyebab infrastruktur yang tidak kunjung terpenuhi sesuai kebutuhan rakyat. Dengan demikian, ketimpangan tersebut akan terus bertahan, karena memang ada yang ‘mempertahankannya’.

Korupsi membudaya?

Pada masa Orba dulu, munculnya sinyalemen bahwa “korupsi sudah membudaya” dalam kehidupan bangsa kita, dianggap sebagian orang sebagai ungkapan yang lebay (berlebihan), karena kita percaya bahwa sebagian besar bangsa kita masih belum mengenal budaya korupsi. Tapi sekarang, di Orde Reformasi yang justru muncul sebagai hasil penumbangan Orba, manakala korupsi bahkan sudah merambah Majlis Konstitusi (MK), sinyalemen itu sudah muncul dalam wujud nyata. Korupsi memang sudah membudaya!

Kebudayaan bukanlah sesuatu yang muncul mendadak. Bisa jadi ia merupakan sebuah warisan. Namun bisa jadi juga sengaja dibuat seperti membuat sebuah saluran air, yang ukurannya bisa kecil, hanya untuk mengalirkan air dalam jumlah kecil, dan juga bisa dibuat besar, untuk mengalirkan air dalam kadar yang besar. Kita bisa membuat sebuah budaya hanya tumbuh kerdil, dan bisa juga membuatnya menjadi sebuah aliran besar (mainstream).

Sayangnya, budaya korupsi, yang tadinya hanya kecil, agaknya telah kita biarkan berkembang menjadi sebuah mainstream dalam tubuh bangsa kita sekarang.

Penyakit cinta dunia

Saya ingin berbicara tentang dunia (dan akhirat) secara agak berbeda.

Dunia bukanlah semata-mata kebalikan dari akhirat. Dan akhirat bukanlah sesuatu yang serta merta lepas dari konteks dunia.

Dunia adalah sesuatu yang “dekat”. Sesuatu yang kasat mata. Sesuatu yang selalu tersentuh dan bersinggungan dengan kita, tanpa kecuali. Dunia adalah kebutuhan kita. Kepentingan kita. Dan agama kita menyebut dunia sebagai sesuatu yang fana. Tidak kekal. Selalu berubah. Selalu mengalami degradasi (menurun kualitasnya). Sesuatu yang degeneratif (menurun pertumbuhannya).

Sifat dunia yang selalu berubah adalah sama persis dengan keadaan diri kita, karena kita juga merupakan bagian dari dunia.

Yang menarik, di antara kita dan kebutuhan kita (dunia dengan segala aspeknya), ada sesuatu yang selalu membuat kita bergairah menjalani kehidupan, dan bahkan membuat kita tak suka berpikir bahwa hidup ini akan berakhir. Sesuatu itu adalah asumsi (anggapan). Dan asumsi itu tumbuh sebagai hasil ‘kedekatan’ kita secara fisik dan mental dengan dunia.

Kita selalu berasumsi,– dan memang benar, setidaknya untuk sementara ini – bahwa matahari akan selalu terbit. Kita selalu berasumsi bahwa setiap hari kita akan selalu menikmati makan, minum, tidur, main, dan lain-lain, yang selama ini kita rasakan enak. Dengan kata lain, asumsi yang saya maksud adalah asumsi tentang segala kenikmatan dunia, yang tidak akan hilang. Padahal, kita juga tahu bahwa semua akan hilang. Tapi pengetahuan itu tidak menjadi mainstream dalam kesadaran kita. Soalnya, manusia adalah makhluk asumtif. Hidup digerakkan oleh anggapan dan saudara-saudaranya, seperti cita-cita, harapan, ambisi, obsesi dan sebagainya, yang semua dikaitkan dengan kenikmatan dunia.

Itulah yang, kadang, membuat kita menjadi makhluk yang sangat terikat pada dunia. Sangat cinta dunia.

Akhirat = idealisme?

Bagaimana dengan akhirat?

Akhirat bisa menjadi lawan, bisa juga menjadi pendamping dari dunia.

Akhirat menjadi lawan dunia manakala kita menyebut dunia dengan membayangkan bola dunia (globe). Tapi bila kita membayangkan dunia sebagai sesuatu yang “dekat” dengan kita, maka akhirat adalah sesuatu yang “jauh”, atau setidaknya “berjarak” dari kita.

Akhirat sebagai sesuatu yang berjarak dari kita adalah segala hal yang bersifat ideal. Sesuatu yang merupakan ultimate goal (tujuan puncak) dari semua orang. Di sinilah kita bertemu dengan sebuah paradoks tentang kehidupan. Kita sering – atau selalu? – beranggapan bahwa akhirat adalah sesuatu yang jauh dari kita, padahal setiap hari kita berhadapan dengan idealisme. Kita ingin selalu makan enak, tidur nyenyak, dan seterusnya. Itu adalah idealisme dalam ukuran sederhana. Tapi, bukankah itu juga yang kita bayangkan ketika kita menyebut surga di alam akhirat sana?

Akhirat = hasil akhir?

Dalam surat Adh-Dhuhã kita menemukan potongan kalimat yang merupakan janji atau kabar gembira bagi Nabi Muhammad, yang pernah mengalami keyatiman dan ketiadaan pelindung. Potongan kalimat itu berbunyi: walal-ãkhiratu khairun laka minal-ulã. Kata ãkhirat dalam ayat ini selalu dipahami sebagai alam akhirat, yang baru akan ditemui setelah kita mati. Padahal, bila diperhatikan konteksnya, bisa jadi akhirat yang dimaksud adalah keadaan sebaliknya dari keadaan yang dihadapi Nabi Muhammad yang sedang berda’wah di Makkah, dan mendapatkan penentangan keras. Bisa jadi akhirat yang dimaksud dalam ayat ini adalah “hasil akhir” dari perjuangan keras Nabi Muhammad dan umatnya, yaitu datangnya undangan untuk hijrah ke Yatsrib, dan kemudian terbentuknya Yatsrib menjadi Madinah, sebagai wadah bagi tegaknya Dînul-Islãm.

Di atas saya katakan bahwa akhirat pada hakikatnya adalah segala hal yang bersifat ideal. Ketika segala yang ideal itu bersemayam dalam diri kita, maka jadilah dia idealisme kita. Jadilah dia konsep hidup kita. Jadilah dia harapan, cita-cita, ambisi, dan obsesi kita. Tujuan hidup kita.

Akhirat tidak selalu baik

Ya, tentu saja. Bukankah kita sering mendengar bahwa di sana ada surga dan neraka? Tapi, bila kita memahami akhirat sebagai idealisme kita, tujuan hidup kita, maka ia juga tidak selalu baik, karena penentunya adalah nilai idealisme itu sendiri.

Lalu adakah hubungan akhirat dengan korupsi?

Kita sering mendengar orang mengatakan bahwa para koruptor melakukan korupsi karena mereka tidak takut hukum akhirat. Sekali lagi, ini benar bila kita berpikir bahwa akhirat yang kita maksud adalah kebalikan dari dunia yang berbentuk bola. Tapi bila kita ingat bahwa dunia juga berarti kenyataan hidup kita dengan segala masalahnya, dan sebaliknya akhirat adalah gambaran ideal untuk mengubah nasib buruk, maka bisa dipastikan bahwa para koruptor adalah orang-orang yang paling terobsesi dengan akhirat-(idealisme)-nya untuk mencapai segala kenikmatan dunia!

Islam mengajarkan bahwa manusia terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya (Khairu-nãsi anfa’uhum li-nãs). Ini adalah konsep akhirati (ukhrawi), bukan konsep duniawi. Jelasnya, kehidupan manusia yang cenderung ingin bermanfaat bagi orang lain adalah sebuah idealisme, sebuah cita-cita, dan bukan – setidaknya belum – merupakan kenyataan.

Sayangnya, terlalu sedikit orang yang terobsesi untuk selalu memberikan manfaat bagi orang lain. Bahkan negera, yang hakikatnya dibentuk untuk mendukung konsep ini, akhiratnya, eh akhirnya, menjadi keropos karena kecenderungan korupsi agaknya telah menjadi mainstream!

 

Bekasi, 8 Oktober 2013.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: