Bolehkah Minta Upah Dalam Da’wah?

Tulisan ini dimuat di Facebook, August 23, 2013 at 9:09am

Ada beberapa teman yang ‘mendesak’ saya untuk menjawab pertanyaan tentang boleh-tidaknya meminta/memerima upah dalam da’wah. Karena belum sempat memberikan jawaban yang relatif lengkap, maka untuk sementara saya ajukan bahan renungan sebagai berikut:

 

1.        Da’wah dilakukan pertama kali oleh Allah (Wallahu yad’u ilal-jannah – Al-Baqarah 221, dll.), melalui malaikatnya, yang kemudian dilanjutkan oleh para rasulNya. Dalam surat Yasin ada penegasan bahwa para rasul tidak meminta upah. Nabi Nuh, antara lain, juga dengan tegas mengatakan bahwa beliau hanya mengharapkan ‘upah’ dari Allah.

2.        Umat Islam seharusnya menjadi umat yang bersatu dalam satu jama’ah yang solid dan tersistem. Da’wah adalah salah satu ‘lembaga’, semacam departemen, dalam jama’ah tersebut, yang pelaksanaannya seharusnya dijalankan para aparat-(kader)-nya, yang berda’wah dengan mengajarkan kurikulum yang sama, yang disusun departemen tersebut.

3.        Da’wah pada hakikatnya adalah mengajarkan kitabullah (Al-Quran), bukan yang lain-lain, karena Islam yang benar hanya bisa tegak bila Al-Quran menjadi ruh kesadaran umat. Sehubungan dengan inilah, ada hadis yang menegaskan bahwa “yang paling pantas mendapatkan upah adalah mengajarkan kitabullah”. Pertanyaannya di sini: bila pengajar kitabulah “paling pantas” mendapat upah, lalu siapa pula yang “paling wajib” memberi upah? Jawabannya, yang paling wajib (= paling bertanggung-jawab) memberi upah da’i adalah jamaahnya sendiri (departemen da’wah dalam jama’ah), bukan sembarang orang atau sembarang lembaga! Bila sembarang orang atau sembarang lembaga dituntut memberi upah, maka itu adalah isyarat nyata dari da’wah yang liar, yang dilakukan oleh sembarang individu. Dan itu berarti umat Islam sedang mengabaikan jama’ah, alias hidup berpencaran semau gue. Dalam keadaan demikian itulah para da’i bergerak secara individual, dan otomatis (faktanya!) sebagian dari mereka menganggap masyarakat (umat) sebagai ‘pasar’!  Jadi, jangan heran bila kegiatan da’wah tak ada bedanya dengan dagang! Malangya, para pedagang itu (sebagian da’i) tidak sadar bahwa mereka sedang menjual ayat-ayat Allah dengan harga yang murah!

 

Demikian jawaban saya sementara.

 

Tulisan dalam link di bawah ini juga layak untuk dibaca:

http://info-iman.blogspot.com/2012/05/hukum-upah-dalam-berdakwah.html

  • Ari Sulanjana Tidak boleh !!!!!.
  • Ahmad Husein Waduh, terus saya makan apa atuh Juragan?
  • Ari Sulanjana Ya makan singkong, sukun goreng, nasi, jagung. Masak makan rebus batu. Xixixixixixixi……
  • Hari Sultan minta & menerima…laen loh….
  • Ahmad Husein Ya udah, kirimin sukun goreng dech… Sekalian kopinya ya!
  • Ahmad Husein Para pegawai menerima gaji tiap bulan. Kl gaji ga diberikan, mereka minta, hehe
  • Ari Sulanjana Dilarang minta sukun, karena sukun mau dipake buat seserahan Firmansyah.
  • Cak Hamid Sesungguhnya dari seluruh KEGIATAN DAKWAH – JIHAD – DLL bagaimanapun bentuknya, style penyampaianya, tehnis dan tehnologinnya, uraian dan retorika tsb, kita hanya ingin mengatakan, mari kita hidup baik, dan hidup baik itu adalah dengan cara Islam. Nah… Umat itu sekarang DIBUAT BINGUNG DG ADANYA RAGAM ISLAM YG BEGITU BANYAK KAN?

    Jadi, siapapun yang berdakwah harus menggambarkan Islam yang dipentaskan/ atau SEOLAH2 PUTARKAN FILM SEPAK TERJANG RASULULLAH DARI A s/d Z sebagai USWAH KHSANAH (contoh hidup baik/khasanah) itu seperti apa. Jika bentuknya Negara atau pemerintahan, maka seperti apa sistim politik, sistem ekonomi, sistim pendidikan dst.didalam Islamnya Rasulullah tsb. Jika kita memang sudah merasa faham dan tahu betul, maka langkah yang bijak adalah HIMPUN SELURUH ANGGOTA JAMA’AH KITA, UNTUK KITA AJAK MEMPRAKTEKKAN langsung di daerah aceh yang memang sdh dipersilahkan pemberlakuan syariat Islam disana. Saya kira masyarakat Indonesia juga merindukan hidup lebih baik jika memang kita sebagai representasi dari Islam memang NYATA NYATA MAMPU MEMAMERKAN KEHIDUPAN BERMASYAKAT ISLAM ITU SEPERTI INI LHO!

    itu SEHARUSNYA kita lakukan dari pada sekedar nasihat atau ancaman yang jelas2 apa yang kita lakukan sekarang adalah merupakan perulangan untuk yang kesekian ribu kalinya, secara turun temurun, dan ter nyata tidak efektif dan tidak bermanfaat. Apalagi jika diukur dengan wujud Qur’an atau Islamnya Rosulullah, kita ini adalah termasuk orang2 yg juga layak mendapat ancaman tsb. mdh2an bermanfaat. Cak hamid 081231262206

  • Fahmi Amiruddin Zaini rumit. harusnya dibuat profesional saja, gimana?
  • Gempur Isa Bugis Cak hamid: cara ente menyusupkan tulisan di sembarang tempat itu tidak etis dan membosankan! Fahmi: Ente hrs belajar membaca lagi!
  • Asep Iwan tergantung bentuk da’wahnya ya kan bang? Tibyan atau tabayyan. kalau itu Tibyan,dan dia dia mendapat job itu dalam sebuah kelembagaan da’wah,maka menjadi kewajiban lembagalah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.tapi tidak diupah oleh studentnya.kecuali kalau si penda’wahnya atas nama pribadi alias ngampring dan berniat mencari recehan.
  • Fahmi Amiruddin Zaini belajar baca apa bung gempur, jelasin dong..
  • Gempur Isa Bugis Ente gak ngerti tulisan di atas sehingga mengajukan usul spt yg ente tulis itu!
  • Bardio Novianto Klau bicara dakwah berkaitan dengan lembaga, memang system yang harus dibangun. lalu pembangunan system ini tanggung jawab siapa? apakah systemnya itu skr ini sdh ada? atau masih jadi PR bersama? tentunya ngk bisa sendirian. mari yuk…
  • Ahmad Husein Yg merasa umat Islam seharusnya tersentuh oleh segala peristiwa yang menimpanya di dunia sekarang ini, yg hanya bisa terjadi ketika mereka/kita tidak bersatu.
  • Rina Khusnawati Kalo ustadznya yang minta upah dalam dakwah yo gak boleh, eh tepatnya gak etis laahh, tapi seharusnya jamaahnya yg dengan penuh kesadaran memberikan donasi kepada ustadznya, karena melalui ustadznya lah dia bisa mendapat ilmu. Dan akan lebih hebat lagi bila ustadznya adalah pebisnis sukses kayak nabi Muhammad, jadi disumbang gak disumbang tetep jalan terus…
  • Rina Khusnawati jama’ah ooohhh jama’ah,,, pikirannya kok gratisan terus,,, ustadznya masih punya tubuh fisik jadi masih butuh makan minum, besok kalo udah punya ustadz malaikat jibril ya gausah bayar kaliiii…..
  • Fahmi Amiruddin Zaini bung gempur, biar jelas toh pejuanh dakwah butuh makan butuh hidup layak. gimana dong?
  • Aba Mardjani Minta bayaran, menurut saya masup akal. Yang gak masup akal ‘ntu pan pasang tarip sekean-sekean (jadi inget seorang ustad yg gak mo pake duit jamaah, lebih mao pake duit jualan minyak wanginya). Saya mah tuh yakin, biar gak minta, para da’i pasti dikasih duit buat ongkos2. Selebihnya, cari berkah dari Allah dan imbalan akherat yang pastinya mah kagak ada apa2nya biar kata dibandingin ama harta dunia segunung. Bener nggak tu, Sein?
  • Ahmad Husein “Islam itu pada mulanya asing, dan akan menjadi asing lagi sebagaimana semula.” Demikian kata sebuah hadis yg cukup populer. Dan tampaknya pd saat ini Islam memang sudah kembali menjadi asing. Contohnya, sedikit sekali umat Islam sekarang yang mengenal fungsi jama’ah. Bila mereka mengenalnya, pasti mereka tahu bahwa jama’ah itu dibangun – sejak awal dan seterusnya – melalui da’wah. Dengan kata lain, da’wah (pada hakikatnya = pendidikan Al-Quran) membentuk pribadi2 mu’min, menyatukan pasangan2 dlm lembaga pernikahan, dan seterusnya, sehingga terbentuk yg namanya jama’ah. Dari jama’ah itulah lahir pribadi2 (= kader2) mu’min yang bekerja untuk kepentingan “Da’wah Islam” secara utuh, sesuai kapabilitas/spesialisasi masing2, yang bukan hanya untuk belajar-mengajar thok. Dalam jama’ah itu pula ada ‘departemen’ ekonomi, yg tugasnya antara lain menghimpun dan mengelola dana umat (yg semua orang tahu jumlahnya sangat besar!). Dari dana umat itulah, antara lain, dikeluarkan uang untuk menggaji pada spesialis mengajar (da’i). Para da’i itu adalah kader2 jama’ah yg mumpuni dalam bidang mereka, dan mereka bekerja (mengajar; berceramah, dsb) bukan atas nama pribadi, tapi atas nama dan demi kepentingan jama’ah.
    Dari jama’ah spt di atas, bisa dipastikan tidak akan muncul da’i2 yang bekerja secara individual, sehingga mungkin tak akan ada da’i kondang (?), karena bisa dianggap kontraproduktif bagi jama’ah.
  • Farkah Munigar sy sll menyimak aja. apabila ada satu pandangan sy setuju aja. tp harus menurut yg diajarkan rosullullah
  • Neneng Tety Mulyani · 8 mutual friends

    Boleh …
    Tapi tidak pasang tarif …
    Suka rela ja!!!!!!! …
  • Benar Al-Qur’an BerbobotIlmiah TiadaTanding Susah kalau jamaa sudah dianggap pasar pasti ada hitung untung-ruginya.?! Kalau jamaa adalah saudara pasti jadinya saling mengajak hidup baik tanpa hitung untung-rugi.?! Alangkah baiknya jamaa yg jelas dan pasti sehingga dakwah juga jelas dan pasti ilmunya lebih objektif (berdasar ilmu Allah) bukan subjektif (berdasar ilmu sendiri).?!
  • Yanto Ozai Da’i kapitalis jadi pola pikirnya juga ikut kapitalis…
    Kalo mo dapet duit noh nyangkul disawah jgn menjual alqur’an demi bakul nasi..
  • Ozi D’Ambidextrous · 2 mutual friends

    jama’ah.a dn pndkwah.a trblok-blok ilmu.a, gmn bz trbntuk sistem yg baik.. ?
  • Mas Bro · 6 mutual friends

    apa bedanya dgn sales…
    beli barang dikemas biar lbh mnarik lalu dijual …

    *ya ga om gayatri*

  • Asep Iwan yang saya tau jaman rasul tidak ada pengajar alq di upah oleh yg belajar tapi digaji oleh negara.kalaupun ada pengertian dari yang belajar, ya masuknya ke negara atau lembaga da’wah. da’wah adalah sebuah tugas yang harus terkoordinir dg baik.kecuali da’wah ngampring dg motif numpang makan dari ngecer ilmu.
Comments
One Response to “Bolehkah Minta Upah Dalam Da’wah?”
  1. Rp Da'i says:

    Seorang da’i kondang tidak perlu memasang tarif, karena udah ada menejer yg memasang bandrol di jidatnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: