Mana Yang Lebih Kuat, Sunni Atau Syi’ah?

Sekarang tampak sekali umat Islam secara global terpecah menjadi dua kelompok, yaitu: Sunni dan Syi’ah.

Lalu, di antara keduanya, mana yang lebih kuat?

Jelas dan pasti Syi’ah lebih kuat daripada Sunni.

Mengapa?

Sunni, meski punya massa lebih banyak tapi hanya “massa mengambang”. Mereka tak punya pemimpin bersama, yang diakui oleh semua kalangan di antara mereka. Mereka juga tak punya simbol untuk membuat eksistensi mereka diakui secara politik.

Hal ini berbeda dengan Syi’ah.

Syi’ah kalah banyak dari Sunni. Tapi mereka punya satu pemimpin,  yaitu Imam mereka yang kebetulan ada di Iran, sebuah negara yang ‘kebetulan’ menjadi simbol eksistensi mereka secara politik. Siapa yang tidak mengakui Iran sebagai negara Syi’ah? Negara mana, yang memusuhi Iran, yang berani secara begitu saja menyerang Iran? Bahkan Israel dan Amerika pun tak berani. Itulah bukti nyata eksistensi dan kekuatan Syi’ah!

Sunni mau mengklaim negara apa sebagai simbol eksistensi politik mereka? Saudi Arabia? Mesir? Suriah? Irak? Semua bukan negara-negara Sunni, walau kebanyakan warga negara-negara tersebut mengaku Sunni.

Suni hanya ‘dipersatukan’ oleh angan-angan!

Bila sekarang ada teriakan (dan kenyataannya selalu ada!) menyerukan mereka bersatu, teriakan itu akan (dan memang selalu!) hilang ditelan angin!

Tapi harap diingat bahwa gambaran tentang Syi’ah di atas juga bersifat semu. Iran tak pernah mengakui kaum Syi’ah dil  luar Iran sebagai bagian dari mereka, dan sebaliknya kaum Syi’ah di luar Iran juga tak pernah bisa mengandalkan Iran.

Seandainya kedua kelompok ini melakukan perang saudara (na’udzu billahi min dzalika!), Sunni pasti akan kerepotan melakukan mobilisasi dan konsolidasi; sementara Syi’ah boleh dikatakan cukup dengan hanya mengandalkan tentara Iran sebagai pasukan utama!

Itulah gambaran kasar peta kekuatan Sunni vs Syi’ah.

Gambaran itu tidak dimaksudkan untuk mengunggulkan Syi’ah dan merendahkan Sunni, tapi untuk mengingatkan kenyataan buruk di balik itu, yang jauh lebih menyedihkan.

Kenyataan tersebut adalah perpecahan umat Islam di seluruh dunia, yang keadaannya mengingatkan sinyalemen Rasulullah bahwa umat Islam akan (sekarang sudah?) mengalami nasib seperti buih di lautan, atau seperti pasir dalam genggaman tangan.

Keadaan bagai buih adalah sebuah eksistensi yang “seolah-olah ada tapi tiada”. Dalam ungkapan Arab: wujuduhu ka-adamihi.  Ungkapan sinisnya: hadir tapi mubazir!

Begitu juga keadaan seperti pasir dalam genggaman.

Bila kita main di pantai, lalu secara iseng kita ambil senggenggam pasir. Kita lihat pasir itu, kita amati warna dan butiran-butirannya, kita tatap beberapa saat lamanya, lalu kita remas-remas supaya bergumpal… Setelah itu, kita banting di atas batu, atau kita lempar ke air! Senggenggam pasir itu buyar dan lenyap!

Itulah kenyataan umat Islam. ∆

Bekasi, 3:25/21-8-2013.

Comments
3 Responses to “Mana Yang Lebih Kuat, Sunni Atau Syi’ah?”
  1. desrizal says:

    Assalamualaikum WW.
    Salam ukhuwah Islamiyah dari saya.

    Wassalamualaikum WW.

  2. Ahmad Haes says:

    Wa ‘alaikumus-salam wr. wb.
    Ahlan wa sahlan!

  3. nur jasmine says:

    assalamu’alaikum wr.wb..

    iya…pandangan anda benar…salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: