Arab Tanpa Islam, Tak Ada Apa-Apanya!

Pramida

ArabBangsa Arab tidak mempunyai peran untuk dimainkan di muka bumi. Sebelum kedatangan Islam, mereka tidak punya identitas apa pun. Di Yaman, mereka ditaklukkan oleh Persia dan Abesinia (Habsyi). Bila mereka mempunyai pemerintahan sendiri, pemerintahan itu ada di bawah perlindungan Persia. Di utara, secara langsung atau tidak, Siria takluk kepada pemerintahan Bizantium. Hanya bagian tengah semenanjung  Arabia yang bebas dari kekuasaan asing. Tapi wilayah ini terbagi-bagi ke dalam kekuasaan suku-suku yang menghalanginya untuk mempunyai bobot kekuasaan politik. Perang suku bisa terjadi selama 40 tahun atau lebih, tapi tak ada seorang atau satu kelompok dari suku-suku itu yang dipandang berkuasa oleh para penguasa sekitar. Peristiwa yang berhubungan dengan serbuan “tentara gajah” bisa dijadikan ukuran  bagaimana keadaan suku-suku di sana ketika menghadapi kekuasaan asing.

Berkat Islam, untuk pertama kalinya dalan sejarah, bangsa Arab memainkan peran berskala internasional. Mereka juga mempunyai negara yang diperhitungkan para penguasa dunia. Mereka mempunyai pasukan penyerang yang mampu merontokkan mahkota-mahkota, menaklukkan kekaisan-kekaisaran, menjatuhkan para penguasa zalim demi mengambil alih kepemimpinan umat manusia.

Dan, yang memfasilitasi pencapaian-pencapaian bangsa Arab untuk pertama kali dalam sejarah itu bukanlah Arabisme, tapi justru karena mereka mengabaikan Arabisme. Mereka melupakan fanatisme dan dorongan rasial. Mereka hanya ingat bahwa mereka Muslim, dan hanya Muslim. Mereka mengusung amanah iman yang utuh, yang mereka sebarkan kepada umat manusia dengan kasih sayang. Mereka tidak menjunjung sejenis nasionalisme atau faksionalisme. Mereka adalah pengusung “gagasan Langit”, yang menganugerahi umat manusia dengan doktrin Langit, bukan duniawi, yang diterapkan menjadi jalan hidup. Mereka meninggalkan rumah untuk berjuang karena Allah semata. Mereka tidak berambisi untuk menancapkan kekuasaan Imperium Arab yang akan membuat mereka hidup dalam kemewahan dan keangkuhan. Setelah lepas dari kekuasaan Persia dan Bizantium, mereka tidak ingin menaklukkan bangsa-bangsa lain.

Raba’i bin Amir, komandan utusan  Muslim untuk Persia, menegaskan missi mereka: “Allah menugasi kami untuk menyelamatkan umat manusia dari pemujaan terhadap makhluk, agar mereka hanya mematuhi Allah; untuk menyelamatkan mereka dari kesempitan dunia ini, menuju keluasan akhirat; dan untuk membebaskan manusia dari penindasan agama-agama lain, agar mereka menikmati keadilan Islam.”

Saat itu dan hanya saat itu, bangsa Arab benar-benar mempunyai identitas, kekuasaan dan kepemimpinan, yang seluruhnya dibaktikan kepada Allah semata. Mereka memiliki kekuasaan dan kepemimpinan selagi mereka mengikuti jalan yang benar. Tapi ketika mereka menyimpang dan manut pada ide-ide nasionalistis mereka, dan ketika mereka menggantikan bendera Islam dengan bendera-bendera kelompok, jatuhlah mereka ke tangan kekuasaan bangsa-bangsa lain. Allah berpaling dari mereka ketika mereka berpaling dari Allah. Dia mengabaikan  mereka ketika mereka mengabaikanNya.

Apa arti Arab tanpa Islam? Ideologi apa yang mereka berikan, atau dapat mereka berikan kepada umat manusia ketika mereka meninggalkan Islam? Apa nilai suatu bangsa bila tidak memiliki ideologi yang bisa diberikan kepada umat manusia? Setiap bangsa yang memimpin umat manusia dalam setiap periode sejarah, pastilah karena mereka mengembangkan sebuah ideologi. Bangsa-bangsa yang tidak menyumbangkan ideologi, seperti Tartar yang melancarkan serbuan ke timur, atau Berber yang meruntuhkan Imperium Romawi di Barat, mereka tidak bertahan lama. Mereka malah melebur dengan bangsa-bangsa yang mereka taklukkan. Satu-satunya ideologi yang disumbangkan Arab kepada umat manusia adalah Dinul-Islam, yang mengangkat derajat mereka menjadi pemimpin umat manusia. Bila mereka meninggalkan Islam, mereka tak lagi punya peran untuk dimainkan dalam sejarah manusia.

Bangsa Arab harus ingat ini baik-baik, bila mereka ingin hidup, berkuasa, dan menjadi pemimpin.

Hanya Allah (hai bangsa Arab!) yang memberi kita bimbingan. Bila tidak, kita pasti tersesat.

 

Sumber: Sayyid Qutb/Islaam.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: